Bagikan:

JAKARTA - Deklarasi Partai Ummat disambut baik sebagian kalangan. Keseriusan Amien Rais sebagai pendiri diprediksi bakal menghantarkan partai berlambang perisai dan bintang emas itu menuju kesuksesan di debut pertamanya dalam kontestasi Pemilu 2024.  

Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Andriadi Achmad menilai, Partai Ummat sepertinya tengah mempersiapkan diri agar bisa diakui oleh negara sebagai partai politik anyar. Partai yang diketuai Ridho Rahmadi ini pun sudah memiliki dua modal penting mendirikan sebuah parpol.

"Mendirikan partai itu yang pasti, pertama, finansial. Tidak bisa dinafikan karena finansial itu untuk membentuk partai 100% di provinsi, 70% di kabupaten kota, 50% di tingkat kecamatan perwakilannya. Itu kan syarat untuk PKPU mengikuti pemilu. Jadi itu butuh cost," ujar Andriadi kepada VOI, Jumat, 30 April.

Andriadi mengurai, modal finansial pembentukan partai terbagi dua. Yakni, modal individu dan modal kolektif atau patungan bersama-sama.

"Kalau Partai Ummat itu saya lihat kolektif, artinya dana bersama-sama, seperti pembentukan PAN dulu lah. Kan tidak didanai satu orang tapi bersama-sama," jelasnya.

Kedua, lanjut Andriadi, adalah ketokohan. Menurutnya, tidak bisa dipungkiri bahwa parpol hari ini sangat tergantung pada sosok seorang tokoh. 

"Kita lihat lah, saat ini bergantung pada tokoh, bahkan parpol-parpol ini kan tokohnya sudah keluar dll, malah kehilangan pamor lalu kolaps tidak lulus parlemen threshold. Itu gejala yang terjadi diperpolitikan," katanya.

 

Dalam Partai Ummat, menurut Andriadi, ketokohan Amien Rais masih bagus meski tidak segesit era reformasi 1998. "Masih oke lah, terus dibantu teman-teman lain seperti MS Kaban juga ikut, Neno Warisman dll. Saya pikir Amien Rais menjadi magnet Partai Ummat lolos Parlemen Threshold 4 persen," ucapnya.

Direktur Eksekutif Nusantara Institute PolCom SRC, pun memprediksi bahwa Partai Ummat akan membuat kejutan jika sudah terverifikasi oleh pemerintah. Salah satunya, masuknya sejumlah tokoh ternama nasional yang memiliki massa.

"Misal, Gatot Nurmantyo tiba-tiba setahun sebelum pemilu dia masuk Partai Ummat karena nyapres perlu partai. Kemudian Din Syamsuddin, semakin kuat itu (Partai Ummat, red). Belum lagi Habib Rizieq setelah selesai persoalannya merapat juga. Nah ini saya pikir peluang Partai Ummat lolos Parliamentary Threshold," ungkap Andriadi.

Selain ketokohan, yang bakal membuat Partai Ummat berpotensi moncer dalam pemilu adalah ceruk pemilih dari kelompok alumni 212 dan pemilih PAN. Sebab, pamor PAN turun setelah Amien Rais keluar dan Zulkifli Hasan tidak terlalu meyakinkan.

"Jadi ceruk pasarnya, alumni 212 dan massa PAN. Tapi saya sih yakin ada tokoh-tokoh yang merapat dengan modal finansial tertentu, kemudian ketokohan juga ada. Saya prediksi partai ummat mendapat tempat di 2024," tandas Andriadi Achmad.