Bagikan:

JAKARTA - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pada Hari Selasa, warga negara China bekerja di lokasi produksi pesawat nirawak di Rusia, menyatakan Moskow mungkin telah "mencuri" teknologi pesawat nirawak dari Tiongkok.

Itu disampaikan Presiden Zelensky dalam konferensi pers di Kyiv, beberapa hari setelah Ia mengatakan Tiongkok memasok senjata dan bubuk mesiu ke Rusia, pertama kalinya menuduh Beijing memberikan bantuan militer langsung ke Moskow, sesuatu yang dibantah keras oleh Tiongkok.

Presiden Zelensky mengatakan kepada wartawan pada Hari Selasa, Ia telah menginstruksikan para pejabat untuk mengirimkan informasi kepada Pemerintah China melalui saluran resmi mengenai temuannya.

"Secara terpisah, saya meminta Dinas Keamanan Ukraina untuk mentransfer informasi yang lebih luas kepada pihak China mengenai warga negara China yang bekerja di pabrik pesawat nirawak," katanya, melansir Reuters 23 April.

"Kami yakin Rusia mungkin mencuri - membuat perjanjian dengan warga negara ini (China) di luar perjanjian dengan pimpinan Tiongkok - mencuri teknologi ini," lanjutnya.

Dengan menyatakan Rusia mungkin telah memperoleh teknologi pesawat nirawak dari Tiongkok tanpa sepengetahuan Beijing, Presiden Zelensky tampaknya melunakkan nadanya terhadap Tiongkok, yang menganggap dirinya netral dalam perang tersebut.

Serangkaian tuduhan Ukraina yang ditujukan kepada China, ekonomi terbesar kedua di dunia, dalam beberapa hari terakhir khususnya, sangat mencolok di saat yang sensitif bagi Kyiv dalam upaya diplomatik yang dipimpin Amerika Serikat untuk mengakhiri perang.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Ukraina mengatakan telah memanggil Duta Besar Tiongkok Ma Shengkun, menyampaikan "kekhawatiran serius" Ukraina atas keterlibatan Tiongkok dalam perang Rusia di Ukraina.

Sebelumn, Presiden Zelensky awal bulan ini mengatakan, Rusia merekrut warga negara China melalui media sosial untuk bertempur di angkatan bersenjatanya dan bahwa pejabat Beijing mengetahui hal itu.

Ia menambahkan, Kyiv sedang mencoba menilai apakah para rekrutan tersebut menerima instruksi dari Beijing.

Sebuah pernyataan Kementerian Luar Negeri mengatakan, Ukraina menyatakan "kekhawatiran serius tentang fakta partisipasi warga negara Tiongkok dalam aksi militer melawan Ukraina di pihak negara agresor, juga keterlibatan perusahaan Tiongkok dalam pembuatan barang-barang militer di Rusia."

Dikatakan, Wakil Menteri Luar Negeri Yevhen Perebyinis "meminta pihak Tiongkok untuk mengambil tindakan guna menghentikan dukungan terhadap Rusia dalam agresinya terhadap Ukraina, yang ketidakhadirannya telah berulang kali dinyatakan oleh Beijing".

Terpisah, Kementerian Luar Negeri China pada Hari Rabu menegaskan kembali, Tiongkok dengan tegas menentang "tuduhan tak berdasar dan manipulasi politik" ketika ditanya tentang klaim Ukraina terbaru.

Tidak ada komentar langsung tentang pernyataan Ukraina mengenai masalah ini dari Rusia.