JAKARTA - Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan Amerika Serikat tidak berniat terlibat dalam perundingan dengan Iran, lebih ingin Teheran tunduk pada keinginan Washington.
Berbicara kepada sekelompok orang di Bushehr, Iran selatan pada Hari Kamis, Presiden Pezeshkian mempertanyakan niat sebenarnya dari Presiden AS Donald Trump.
"Kami tidak mengatakan bahwa kami tidak berunding, tetapi (Presiden) Trump tidak dapat menjatuhkan segala macam sanksi kepada kami dan kemudian berbicara tentang perundingan. Mengapa ia memblokir makanan, air dan obat-obatan dari kami?" kata Presiden Pezeshkian, dilansir dari IRNA 14 Februari.
"Mereka tidak menginginkan perundingan," tambahnya, "mereka ingin kami tunduk kepada mereka. Tetapi kami tidak akan dibuat tunduk."
Presiden Pezeshkian mengatakan, Iran akan dapat menyelesaikan masalah dengan mengandalkan diri mereka sendiri dan memiliki peta jalan.
"Musuh tidak akan dapat menghalangi jalan kami. Kami akan menemukan jalan kami," tegas Presiden Pezeshkian.
Pada Hari Rabu, Presiden Pezeshkian mengatakan keadaan Iran tidak boleh dikaitkan dengan keputusan asing. Ia mengatakan, pemuda Iran harus memiliki keterampilan dan menemukan keinginan untuk mencapai keberhasilan serta memecahkan masalah Iran.
Pada tanggal 5 Februari, Presiden Trump menandatangani memorandum presiden untuk melanjutkan "tekanan maksimum" terhadap Iran.
Sejak sebelum menandatangani memo tersebut, presiden AS juga telah berbicara tentang keinginannya untuk mengadakan pembicaraan dan mencapai kesepakatan dengan Iran.
Jauh sebelumnya dalam masa jabatan pertama, Presiden Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir multilateral.
BACA JUGA:
Presiden Pezeshkian mengatakan tindakan Trump bertentangan dengan kata-katanya.
Pekan lalu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan, berunding dengan Pemerintah Amerika Serikat merupakan tindakan tidak bijaksana, berkaca dari pengalaman masa lalu.
"Berunding dengan Amerika tidak akan menyelesaikan masalah apa pun. Buktinya? Pengalaman (masa lalu)!" kata Ayatollah Khamenei.