Bagikan:

JAKARTA - Truk bantuan kemanusiaan kembali memasuki Jalur Gaza, seiring dengan pemberlakuan gencatan senjata antara kelompok militan Palestina Hamas dan Israel yang mulai berlaku Hari Minggu.

Pejabat kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan, lebih dari 630 truk bantuan kemanusiaan telah memasuki Jalur Gaza, sebagai implementasi kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

Dalam unggahan di media sosial X Under-Secretary-General for Humanitarian Affairs and Emergency Relief Coordinator Tom Fletcher menuliskan, lebih dari 630 truk memasuki Gaza pada Hari Minggu, dengan sedikitnya 300 di antaranya membawa bantuan kemanusiaan ke wilayah utara.

"Tidak ada waktu yang terbuang," tulis Fletcher, melansir The Times of Israel 20 Januari.

"Setelah 15 bulan perang tanpa henti, kebutuhan kemanusiaan sangat besar," tandasnya.

Diketahui, kesepakatan gencatan senjata antara kelompok militan Palestina Hamas dan Israel mulai berlaku Hari Minggu kemarin, setelah tertunda beberapa jam.

Itu menyusul kesepakatan kedua belah pihak setelah perundingan yang ditengahi oleh Qatar, Mesir dan Amerika Serikat selama berbulan-bulan dan diumumkan oleh oleh Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani pada Rabu pekan lalu.

Terpisah, Komisaris Jenderal Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini mengonfirmasi pada Hari Minggu, badan tersebut memiliki 4.000 truk berisi bantuan kemanusiaan, setengahnya membawa makanan dan tepung, yang siap memasuki Jalur Gaza, dikutip dari WAFA.

Lazzarini juga mengindikasikan, serangan terhadap konvoi bantuan di Gaza dapat berkurang setelah bantuan kemanusiaan mulai mengalir menyusul gencatan senjata.

Ia menekankan, UNRWA tetap berkomitmen untuk melanjutkan operasinya di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki, meskipun Israel memberlakukan larangan terhadap kegiatannya yang akan mulai berlaku pada 30 Januari 2025.

UNRWA adalah satu-satunya badan yang mampu menyediakan layanan kesehatan dan pendidikan penting di Gaza.

Sementara itu, perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di wilayah Palestina yang diduduki Rik Peeperkorn mengungkapkan, pihaknya berencana untuk mengerahkan sejumlah rumah sakit lapangan yang tidak disebutkan jumlahnya untuk mendukung sektor kesehatan yang terkena dampak parah di Gaza selama dua bulan ke depan.