Bagikan:

JAKARTA - Serangan ke Rafah kemungkinan akan membunuh lebih banyak warga sipil, terlepas dari apa pun kata Israel, sementara itu tetap dilakukan meski ada peringatan dari negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat, kata diplomat utama UE Hari Selasa.

"Serangan Rafah telah dimulai lagi, meskipun semua permintaan masyarakat internasional, AS, negara-negara anggota Uni Eropa, semua orang meminta (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu untuk tidak menyerang," kata Josep Borrell kepada wartawan, melansir Reuters 7 Mei.

“Saya khawatir hal ini akan menimbulkan banyak korban lagi, korban sipil. Apapun yang mereka (Israel) katakan," katanya, seraya menambahkan: "Tidak ada zona aman di Gaza."

Diberitakan sebelumnya, Israel Defense Forces (IDF) telah melancarkan operasi kontraterorisme di bagian timur Kota Rafah, Jalur Gaza, pada Senin malam waktu setempat.

Israel juga mengklaim telah mengambil kendali atas wilayah Rafah yang merupakan perbatasan antara Gaza dan Mesir.

Serangan ke Rafah sejak lama direncanakan Israel, untuk memburu sisa batalyon kelompok militan Hamas yang diklaim berada di kota selatan Gaza itu.

Kemarin, militer Israel mengeluarkan seruan agar warga sipil dan pengungsi di timur Rafah untuk pindah ke utara kota itu, seiring dengan rencana operasi yang akan dilakukan di sana. Mereka mengatakan, evakuasi warga dan pengungsi di Rafah timur bukan langkah besar-besaran di wilayah selatan Gaza tersebut.

Di hari yang sama setelahnya, kelompok militan Hamas menyetujui proposal gencatan senjata di Gaza dari para mediator, namun Israel mengatakan persyaratan tersebut tidak memenuhi tuntutannya dan akan melanjutkan serangan di Rafah sambil berencana untuk melanjutkan negosiasi mengenai kesepakatan.

Terpisah, sebanyak 54 orang tewas dan 96 lainnya luka-luka akibat serangan Israel dalam 24 jam terakhir, mengakibatkan jumlah korban tewas warga Palestina menjadi 34.789 jiwa dan korban luka-luka 78.204 orang, sejak konflik terbaru Hamas-Israel pecah 7 Oktober, kata sumber medis Hari Selasa, dikutip dari WAFA.

Sumber tersebut menambahkan, masih banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan karena tim penyelamat masih belum dapat menjangkau mereka.