Kemenkes: Kasus Cacar Monyet Bagaikan Fenomena Gunung Es
Petugas kesehatan memasang poster sosialisasi penyakit cacar monyet di majalah dinding di Puskesmas Kedaung, Tangerang Selatan, Banten/DOK ANTARA

Bagikan:

JAKARTA - Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi menyebutkan, kasus cacar monyet atau Mpox di Indonesia laksana fenomena gunung es yang dasarnya belum diketahui.

Hal tersebut diutarakannya dalam menanggapi adanya pendapat pakar yang menuturkan bahwa diprakirakan telah terjadi lebih dari seribu kasus Mpox di Indonesia.

"Sama lah dengan penyakit seperti HIV, selalu ada fenomena gunung es," katanya saat ditemui di Jakarta, Antara, Selasa, 28 November. 

Nadia menilai pendapat tersebut bisa jadi sesuai, lantaran sebelumnya Kemenkes telah memprakirakan sekitar 3.000 kasus Mpox bakal terjadi di Indonesia pada tahun ini.

"Artinya kan memang kemarin itu prakiraan daripada estimasi ya, dengan dihitung laju penularan diprakirakan satu tahun ada sekitar 3.000 kasus Mpox, saat ini kita hanya dapatkan 59," ujarnya.

Lebih lanjut, Nadia mengungkapkan hal lain yang belum ditemukan adalah kasus Mpox pada wanita. Diketahui, dari 59 kasus Mpox yang ada di Indonesia, seluruhnya terjadi pada laki-laki dengan mayoritas berorientasi seksual lelaki suka lelaki (LSL). Namun, beberapa di antaranya berorientasi biseksual, yang artinya terdapat kemungkinan terjadi penularan pada wanita yang tidak terjadi hingga saat ini.

Untuk itu, Nadia menyebutkan pihaknya selalu memastikan untuk melakukan penelusuran kontak terhadap kerabat dari pasien yang terkonfirmasi menderita Mpox, demi menemukan kasus demi kasus penyakit tersebut di Indonesia.

Jika ditemukan gejala khusus seperti ruam merah dari kerabat pasien yang ditelusuri, sambungnya, maka pihaknya akan mengambil spesimen guna diteliti lebih lanjut untuk mengonfirmasi apakah kerabat pasien tersebut menderita penyakit Mpox.

Selain itu, pihaknya juga menggencarkan upaya edukasi masyarakat terkait Mpox, untuk mencegah kontak yang dapat mengakibatkan penularan penyakit tersebut.

"Tapi kita tidak perlu khawatir karena ini penyakit tidak seperti COVID-19 ya, yang kecepatan penularannya itu tinggi sekali dan dalam satu hari bisa puluhan ribu (penularan)," ujarnya.