Bagikan:

BOGOR - Pusat Kesehatan Jiwa Nasional Rumah Sakit Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi (PKJ RSJMM) menyebut prevalensi depresi di Indonesia yang didominasi oleh remaja mencapai 6,1 persen. Psikosis atau seseorang yang tidak bisa membedakan mana kenyataan dan halusinasi sebanyak 7 per satu juta keluarga.

PKJ RSJMM mengajak remaja terbuka terhadap deteksi dini kesehatan jiwa dengan mengikuti berbagai program dan layanan yang disediakan oleh rumah sakit untuk mencegah bunuh diri.

PKJ RSJMM telah memiliki layanan online 24 jam dan nomor WhatsApp yang bisa diakses secara gratis oleh masyarakat secara nasional untuk berkonsultasi.

"Anak muda saat ini kalau ada masalah, sudahlah saya menyerah. Maka butuh pencegahan, meyakinkan mereka mau berkonsultasi dan menyediakan layanan. Kita sudah punya," kata Direktur Utama PKJN RSJMM, Dr dr Nova Riyanti Yusuf dalam acara bincang edukasi online dengan tema "Jaga Kesehatan Mental, Wujudkan Generasi Tangguh" di PKJ RSJMM, Senin, 30 Oktober.

Menurut dia, penanganan dan pencegahan bunuh diri, khususnya oleh remaja yang mendominasi kasus dapat dilakukan dengan keterbukaan diri terhadap kesehatan mental dari dalam diri sendiri, bukan terpapar dari media sosial.

 "Jadi yang penting bukan mencegah bunuh diri, tetapi mengarahkan remaja ini menjadi versi terbaik menurut diri mereka, bukan dari media sosial," katanya.

Ia mengajak masyarakat, khususnya remaja tidak ragu berkonsultasi kesehatan mental pada layanan 24 jam PKJ RSJMM secara gratis. Layanan tidak hanya untuk mereka yang merasa stress tetapi juga untuk yang butuh teman bicara mengenai masalahnya.  

Nova menyebutkan prevalensi depresi di Indonesia yang didominasi oleh remaja mencapai 6,1 persen, psikosis atau seseorang yang tidak bisa membedakan mana kenyataan dan halusinasi sebanyak 7 per satu juta keluarga.

Sementara, untuk data penyakit bipolar belum ada yang terakumulasi secara nasional, begitu pula dengan penyakit neurodevelopmental atau gangguan yang disebabkan oleh adanya masalah dalam perkembangan otak seperti ADHD maupun ASD.

"Jadi saya tiga bulan di PKJ RSJMM ini, sudah mulai terbiasa dengan no data. Tapi kita sudah mulai mengumpulkan data-data itu. Kami sudah membangun layanan-layanan yang dibutuhkan kesehatan jiwa, mencegah bunuh diri," jelasnya.

Nova menyampaikan, bahwa saat ini Indonesia sedang merumuskan aturan-aturan dan kebijakan mengenai penanganan dan pelayanan kesehatan mental, untuk mencegah angka  bunuh diri meningkat.

"Aturan-aturan mengenai kesehatan perlu sinkronisasi dengan kebutuhan dan digali dari masalah yang ada kita temukan. Saat ini tindakan percobaan bunuh diri itu tidak ditanggung oleh BPJS, JKN," katanya.