Peringatan Keras dari Lo Kheng Hong: Jangan Beli Saham karena Ikutan <i>Influencer</i>!
Ilustrasi. (Foto: Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Para influencer dan artis, akhir-akhir ini mulai 'pamer' terkait dengan investasi saham. Sejumlah nama kondang terpantau memberikan rekomendasi saham tertentu yang kemudian banyak direspons oleh netizen. Mulai dari Raffi Ahmad, Kaesang Pangarep hingga Ustaz Yusuf Mansur

Tampaknya fenomena ini ikut menjadi perhatian dari investor kawakan Indonesia, Lo Kheng Hong. Pria yang kerap dijuluki Warren Buffett Indonesia ini, rupanya khawatir banyak masyarakat yang membeli saham hanya karena ikut-ikutan, pasalnya sang influencer memiliki banyak follower di media sosial.

Lebih lanjut, Lo sapaan akrabnya mengingatkan agar para investor pemula tidak membeli saham hanya karena mendapatkan rekomendasi dari influencer.

"Karena influencer, yang saya dengar membeli saham yang valuasinya sangat mahal. (Ada) influencer yang beli satu saham 162 kali PE, 110 kali, sangat mengerikan buat saya. Kasihan orang awam tidak mengerti," ujarnya, pada sebuah diskusi virtual bertajuk 'Prospek Investasi Saham' di Bursa Efek Indonesia, akhir pekan lalu.

Lo Kheng Hong berpesan jika investor ingin membeli saham, maka haruslah saham perusahaan yang dikenal dan telah diketahui fundamentalnya agar tidak menyesal nanti.

Ia juga menekankan bagi investor yang baru atau ingin masuk ke pasar modal, ingin berinvestasi di saham tertentu, maka yang pertama bisa dilakukan adalah membaca laporan tahunan atau annual report dan laporan keuangan (lapkeu) emiten.

"Jangan pernah membeli kucing dalam karung. Tuhan Maha Pengampun, bursa tidak kenal belas kasihan, tidak kenal ampun pada apa yang dibeli," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi berujar meskipun pandemi COVID-19 melanda Indonesia, namun lantai bursa justru kebanjiran investor baru. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat saat ini ada 4,1 juta investor di pasar modal.

"Kemarin itu (17 Januari 2021), investor baru kita sudah menembus 4 juta. Jadi, bukan 3 juta. Ini penambahan luar biasa. Bila kita flashback pada 2016 masih di bawah 1 juta, masih 894. Saat ini sudah 4 juta hampir 4,1 juta," tuturnya.

Bahkan, kata dia, investor aktif di bursa saham pada 2020 mencapai 94.000 per hari. Transaksi harian mencapai frekuensi tinggi pada Desember 2020. Puncak transaksi rata-rata pada 22 Desember 2020 menembus 1,6 juta.

"Bahkan, kalau kita lihat hari-hari ini kita tercengang lagi. Kita sudah sampai 2 juta," jelasnya.

Posisi pasar modal di Indonesia, kata Inarno, semakin jauh meninggalkan Malaysia. Sejak 2017 Indonesia mencatatkan transaksi harian tertinggi di antara negara Asean. Sebelum tahun itu, Thailand mencatatkan pemuncak. Saat ini transaksi harian di Indonesia adalah 619.000. Meninggalkan Thailand 496.000, dan Malaysia 401.000.

"Singapura (transaksi hariannya) di bawah frekuensi kita jauh," ucapnya.