Nekat Beli Rudal S-400 Rusia, Turki Siap Dialog dengan Amerika Serikat
Sistem pertahan rudal S-400 Triumf. (Sumber: wikimedia commons)

Bagikan:

JAKARTA - Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar menuturkan, membatalkan pembelian sistem pertahanan rudal S-400 Triumf Rusia, bisa menyebabkan masalah bagi hubungan kedua negara.

Namun di sisi lain, Ia juga mengharapkan Turki tetap bisa berdialog dengan Amerika Serikat seputar perselihan terkait pembelian rudal yang kali pertama diperkenalkan pada tahun 2007 silam ini. 

"Ini adalah situasi yang sangat bermasalah untuk kembali dari titik kami datang. Kami mengundang Amerika Serikat untuk menjauhkan diri dari bahasa yang mengancam, seperti sanksi," ujarnya di Turki melansir Reuters, Kami 14 Januari.

Akar juga mengungkapkan, pihaknya tengah dalam pembicaraan dengan Rusia untuk mendapatkan pengiriman kedua sistem pertahanan rudal S-400.

Sanksi yang dimaksud Akar adalah sanksi yang dijatuhkan Washington kepada Kepala Direktorat Industri Pertahanan Turki (SSB) Ismail Demir serta tiga anak buahnya bulan lalu, terkait pembelian S-400.

"Kami ingin penyelesaian masalah melalui dialog. Jika pihak AS menginginkan solusi, solusi dapat diketemukan dengan bekerja di tingkat teknis," tuturnya.

S-400 Triumf
S-400 Triumf milik Rusia. (Sumber: wikimedia commons)

Turki sendiri membeli sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia, untuk memenuhi kebutuhannya akan sistem pertahanan udara yang memadai. Di mana, Turki tidak bisa mendapat sistem pertahanan udara dari negara-negara anggota NATO dengan syarat yang memuaskan.

Sementara, Amerika Serikat keberatan dengan pembelian ini, lantaran S-400 menimbulkan ancaman terhadap jet tempur F-35 dan sistem pertahanan NATO lainnya.

 

Diketahui, S-400 Triumf atau dalam daftar inventaris persenjataan Rusia milik NATO bernama SA-21 Gowler, merupakan sistem pertahanan rudal anti serangan udara yang dikembangkan dari S=300 okleh Russia's Almaz Central  Design Bureu.

Dikembangkan dengan sistem mobile yang memudahkannya dipindah-pindahkan, S-400 memiliki daya jangkau hingga 400 kilometer, dengan ketinggian hingga 35 kilometer dan mampu menghancurkan 36 target dalam waktu bersamaan.