PLTN Zaporizhzhia Ukraina Kembali Padam Akibat Serangan Rudal Rusia, Kepala IAEA: Bagaimana Kita Membiarkan Ini Terjadi?
Rafael Grossi. (Twitter/@rafaelmgrossi)

Bagikan:

JAKARTA - Kepala pengawas nuklir PBB Rafael Grossi pada Hari Kamis kembali mengimbau zona perlindungan di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia yang dikuasai Rusia di Ukraina, setelah pemadaman lain akibat serangan rudal Moskow, mengatakan dia "terkejut dengan rasa puas diri" seputar masalah tersebut.

"Setiap kali kita melempar dadu. Dan jika kita membiarkan ini berlanjut dari waktu ke waktu maka suatu hari keberuntungan kita akan habis," kata Grossi kepada Dewan Gubernur IAEA yang beranggotakan 35 negara, melansir Reuters 10 Maret.

Pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa kehilangan saluran listrik eksternal terakhirnya pada Kamis pagi, setelah serangan rudal melanda berbagai wilayah Ukraina.

Pembangkit tersebut sempat beralih ke generator diesel darurat, garis pertahanan terakhir untuk menjaga pendinginan bahan bakar reaktor dan mencegah bencana kehancuran yang berpotensi terjadi.

Seperti serangan sebelumnya, Rusia dan Ukraina saling menyalahkan. Grossi telah mencoba membuat kedua belah pihak mencapai kesepakatan, di mana mereka akan berjanji untuk tidak menembak ke atau dari pembangkit, dengan senjata berat akan disingkirkan, kata para diplomat.

"Ini adalah keenam kalinya, izinkan saya mengatakannya lagi keenam kalinya, ZNPP telah kehilangan semua daya di luar lokasi dan harus beroperasi dalam mode darurat ini," kecam Grossi pada pertemuan triwulanan dewan, menurut pernyataan IAEA.

"Izinkan saya mengingatkan Anda, ini adalah pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa. Apa yang kita lakukan? Bagaimana kita bisa duduk di sini, di ruangan ini pagi ini dan membiarkan ini terjadi? Ini tidak bisa berlanjut. Saya heran dengan rasa puas diri," papar Grossi.

Grossi menegaskan, setiap orang harus berkomitmen untuk melindungi keselamatan dan keamanan pembangkit.

"Dan kita perlu berkomitmen sekarang. Yang kita butuhkan adalah tindakan," pungkasnya.

Diketahui, Rusia melancarkan serangan dengan menggunakan rudal ke wilayah Ukraina pada Hari Kamis, termasuk rudal jelajah hipersonik, menyebabkan sembilan warga sipil tewas dan aliran listrik padam. 

Moskow menegaskan telah menggunakan rudal hipersonik dalam serangan Hari Kamis. Rusia diyakini hanya memiliki beberapa lusin Kinzhal, yang terbang berkali-kali lebih cepat dari kecepatan suara dan dibangun untuk membawa hulu ledak nuklir dengan jangkauan lebih dari 2.000 km (1.200 mil). Dalam pidatonya, Presiden Vladimir Putin sering memuji Kinzhal sebagai senjata yang tidak dapat dicegat oleh aliansi NATO yang mendukung Kyiv.

Ukraina mengatakan serangan itu telah mematikan listrik di berbagai tempat, termasuk ke pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia, yang terbesar di Eropa, memutuskannya dari jaringan dan memaksanya menggunakan tenaga diesel darurat untuk mencegah kehancuran. Namun, belakangan berhasil dihubungkan kembali ke jaringan energi Ukraina, kata operator Ukrenergo.