Anggota Parlemen Minta Iran Bebaskan Tahanan AS, Sebelum Kembali ke Kesepakatan Nuklir 2015
Fasilitas nuklir Bushehr milik Iran. (Wikimedia Commons/Tasnim News Agency/Hossein Heidarpour v)

Bagikan:

JAKARTA - Kelompok bipartisan anggota Parlemen Amerika Serikat pada Hari Kamis mengatakan, tidak boleh ada pemulihan Kesepakatan Nuklir 2015 dengan Iran, sampai negara itu membebaskan semua orang Amerika yang saat ini ditahan.

Ted Deutch, seorang anggota kongres Demokrat dan koleganya dari Partai Republik, French Hill membuat pernyataan tersebut selama diskusi meja bundar dengan keluarga tahanan saat ini dan mantan tahanan.

Mereka mengatakan masalah itu harus menjadi prioritas dalam setiap negosiasi, untuk menghidupkan kembali Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), yang membatasi program nuklir Iran dengan imbalan keringanan sanksi.

"Masalah pengembalian sandera Amerika dan tahanan yang melanggar hukum harus menjadi agenda utama," ujar Deutch, melansir The National News 16 September.

"Setiap orang Amerika yang ditahan di Iran harus segera pulang," tandasnya.

Dia mengatakan, tidak ada keringanan sanksi terkait dengan kesepakatan yang harus diberikan kepada Iran, sementara warga AS masih ditahan.

"Iran tidak dapat memperoleh keuntungan finansial dari perjanjian nuklir, sementara masih secara aktif menahan (orang) Amerika," tambah Deutch.

Ditanya oleh The National apakah dia telah menerima jaminan dari pemerintahan Presiden AS Joe Biden dan tim perunding Iran mengenai masalah ini, Deutch mengatakan, dia menyampaikan posisinya ke Gedung Putih melalui telepon pada Hari Kamis.

"Ini menjadi prioritas. Saya sudah menjelaskan kepada mereka pagi ini," sebutnya.

Anggota Kongres lainnya yang berpartisipasi dalam acara tersebut, termasuk Sheila Jackson Lee, Tom Suozzi, Colin Allred dan Haley Stevens, setuju dengan Deutch.

ilustrasi pembicaraan nuklir iran
Ilustrasi pembahasan program nuklir Iran. (Wikimedia Commons/U.S. Department of State)

Diketahui, Iran saat ini memiliki empat warga negara AS dalam tahanan: Siamak dan Baquer Namazi, Emad Shargi dan Morad Tahbaz.

Pada tahun 2020, AS menyimpulkan mantan agen FBI Bob Levinson, sandera terlama dalam sejarah Amerika, kemungkinan telah meninggal dalam tahanan Iran.

Putrinya, Sarah Moriarty, berbicara di acara yang sama pada Hari Kamis, mengatakan keluarga tersebut mencari bantuan dari tim Presiden Biden untuk mendapatkan konfirmasi definitif dari Iran atas kematian Levinson, serta informasi lain yang dapat membawa penutupan keluarga.

Moriarty mengatakan kepada The National, pemerintah mengatakan kepadanya bahwa masalah penyanderaan 'terkait erat' dengan negosiasi kesepakatan nuklir. Tetapi, keluarganya tidak diberi jaminan untuk menerima penutupan penuh.

Sementara, kakak perempuan Sharghi, Neda Sharghi, mengatakan dia berharap untuk melihat dukungan yang lebih kuat dari pemerintah dan Kongres, untuk pembebasan saudara laki-lakinya.

Adapun Nizar Zakka, mantan tahanan Lebanon-Amerika di Iran, menekankan negosiasi JCPOA tidak boleh mengorbankan dari tahanan AS.

Diketahui, upaya untuk kembali ke kesepakatan nuklir terhenti menyusul tanggapan Iran terhadap proposal AS-Uni Eropa dua minggu lalu. Tidak jelas kapan negosiasi tersebut dapat dilanjutkan.

Terpisah, seorang pejabat Departemen Luar Negeri mengatakan kepada The National pada Hari Kamis, Presiden Biden 'sangat berkomitmen untuk memastikan semua warga AS yang ditahan secara salah di luar negeri kembali ke rumah dengan selamat".

Pejabat itu mengatakan, negosiasi mengenai nasib para tahanan AS diperlakukan dengan "sangat mendesak" oleh pemerintah, dengan Iran didesak untuk melakukan hal yang sama.

"Iran harus mengizinkan Baquer dan Siamak Namazi, Emad Shargi dan Morad Tahbaz untuk kembali ke orang yang mereka cintai," tegas pejabat itu.

Tetapi pejabat itu mengatakan, negosiasi mengenai tahanan diadakan "terlepas dari diskusi tentang JCPOA".