Bagikan:

JAKARTA - Inspektur nuklir PBB berangkat ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia Ukraina pada Hari Rabu, setelah berminggu-minggu penembakan di dekatnya memicu kekhawatiran bencana radiasi seperti di Fukushima, sementara ketegangan Rusia denga Ukraina meningkat.

Mengutip Reuters 31 Agustus yang ikut dalam rombongan IAEA dari Kyiv, konvoi tersebut akan bermalam di kota terdekat Zaporizhzhia, sebelum mengunjungi pembangkit yang berada di wilayah yang dikendalikan Rusia besok.

Pejabat Rusia di daerah itu memperkirakan kunjungan mungkin hanya berlangsung sehari. Sementara, pejabat IAEA dan Ukraina memperkirakan itu akan berlangsung lebih lama.

"Kami sekarang akhirnya bergerak setelah enam bulan upaya keras," kata kepala IAEA Rafael Grossi kepada wartawan sebelum konvoi berangkat.

Ia menambahkan, misi tersebut berencana untuk menghabiskan "beberapa hari" di lokasi pembangkit nuklir terbesar di Eropa itu.

"Kami memiliki tugas yang sangat penting untuk dilakukan di sana, untuk menilai situasi nyata di sana, untuk membantu menstabilkan situasi sebanyak yang kami bisa. Kami akan pergi ke zona perang, kami pergi ke wilayah pendudukan, ini membutuhkan jaminan eksplisit, bukan hanya dari Federasi Rusia tetapi juga dari Ukraina. Kami telah berhasil mengamankan itu," papar Grossi.

Grossi mengatakan, IAEA berharap untuk mendirikan misi permanen di pembangkit dan salah satu prioritasnya adalah berbicara dengan teknisi Ukraina yang menjalankannya.

pltn zaporizhzhia
Pembangkit listrik nuklir Zaporizhzhia di Ukraina. (Wikimedia Commons/Ralf1969)

"Itu salah satu hal terpenting yang ingin saya lakukan dan saya akan melakukannya," tukasnya.

Rusia merebut pembangkit itu pada awal Maret, sebagai bagian dari apa yang disebut Moskow sebagai "operasi militer khusus." Sesuatu yang digambarkan oleh Kyiv dan Barat sebagai invasi tanpa alasan, dirancang untuk merebut tanah dan menghapus identitas Ukraina.

Meski ada pasukan Rusia, pekerja Ukraina bertahan untuk memastikan operasional PLTN tersebut. Baik Ukraina maupun Rusia saling menyalahkan, terkait serangan terhadap pembangkit dan wilayah di sekitarnya.

Kyiv mengatakan Rusia telah menggunakan pabrik itu sebagai perisai untuk menyerang kota-kota besar dan kecil, karena tahu akan sulit bagi Ukraina untuk membalas tembakan. Mereka juga menuduh pasukan Rusia menembaki pabrik tersebut.

"Situasi di pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia dan di Enerhodar dan sekitarnya tetap sangat berbahaya," ujar Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky Selasa malam.

"Risiko bencana radiasi karena tindakan Rusia tidak berkurang selama satu jam," sambungnya.

Moskow telah membantah tudingan Ukraina, mempertanyakan mengapa mereka akan menembaki sebuah fasilitas, di mana pasukannya sendiri ditempatkan sebagai apa yang digambarkan sebagai detail keamanan.

Sebaliknya, Moskow menuduh Ukraina menembaki pabrik itu untuk mencoba menimbulkan kemarahan internasional, diharapkan Kyiv akan menghasilkan zona demiliterisasi. Rusia mengatakan tidak berniat menarik pasukannya untuk saat ini.

Belum jelas apakah rencana tim untuk menghabiskan beberapa hari di kawasan pembangkit dapat diizinkan, setelah Yevgeny Balitsky, kepala administrasi yang dipasang Rusia di daerah itu, mengatakan kepada kantor berita Interfax bahwa inspektur IAEA harus melakukan pekerjaan inspeksinya dalam sehari

Tidak jelas juga apakah Rusia akan mengizinkan IAEA untuk mendirikan kehadiran permanen di pembangkit listrik tersebut, meskipun Moskow telah mengatakan bahwa mereka sadar bahwa itulah yang ingin dilakukan Grossi.