Bagikan:

JAKARTA - Anggota Komnas Perempuan Imam Nahei mengatakan dari sudut pandang agama dan kepercayaan modern, laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara.

Atas dasar itu, Imam menilai pemaksaan busana tertentu pada perempuan tidak tepat dilakukan. Hal itu disampaikan Imam dalam webinar bertajuk "Memperkuat Karakter Bangsa dengan Merayakan Keragaman Busana Perempuan Nusantara" pada Kamis, 18 Agustus.

"Hari ini sudah banyak cara pandang yang mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan itu setara, kemanusiaan perempuan setara, ruh perempuan dan ruh laki-laki itu tidak ada bedanya, sama-sama berasal dari Tuhan Yang Maha Pencipta," katanya.

Dia mencontohkan, agama Islam mengatur busana perempuan, namun pengaturan-pengaturan tersebut merupakan upaya membuka ruang bagi perempuan yang sebelumnya terlalu ketat diatur oleh agama-agama terdahulu.

"Pengenaan hijab terhadap perempuan itu diawali sejarahnya oleh cara pandang agama-agama dan budaya terhadap perempuan," ujar Imam.

Dia menambahkan, cara pandang yang setara tersebut kini sudah diakui oleh masyarakat, namun masih banyak yang tidak membuka ruang kebebasan bagi perempuan.

"Sayang sekali, upaya kesetaraan laki-laki dan perempuan di dalam ruang publik ini, itu tidak disertai dengan mengembalikan ruang budaya juga di dalam berbusana, jadi kemanusiaannya sama tapi busana-nya tetap menggunakan busana yang ala-ala masa lalu yang sebagai simbol domestifikasi perempuan," tuturnya disitat Antara.

Oleh karena itu, pihaknya meminta para budayawan dan pemuka agama untuk melakukan tafsir-tafsir ulang untuk mengembalikan keragaman dan kemerdekaan perempuan dari berbagai pembatasan tersebut.