Uni Eropa Sampaikan Proposal 'Final' Pemulihan Kesepakatan Nuklir 2015, Iran Menunggu Fleksibilitas AS
Fasilitas nuklir Bushehr milik Iran (Wikimedia Commons/Tasnim News Agency/Hossein Heidarpour)

Bagikan:

JAKARTA - Iran menantikan fleksibilitas Amerika Serikat untuk menyelesaikan tiga hal yang masih menjadi sorotan Teheran, terkait proposal 'final' Uni Eropa mengenai upaya pemulihan Kesepakatan Nuklir 2015.

Setelah pembicaraan tidak langsung Amerika Serikat-Iran selama 16 bulan dengan Uni Eropa menjadi 'penghubung' kedua belah pihak, pejabat senior Benua Biru menyebut pihaknya telah menetapkan proposal 'final' pada 8 Agustus lalu, mengharapkan tanggapan dalam beberapa minggu mendatang.

Washington menyatakan siap untuk segera menyegel kesepakatan untuk memulihkan Kesepakatan Nuklir 2015 berdasarkan proposal Uni Eropa.

Sementara, para perunding Iran mengatakan "pandangan dan pertimbangan tambahan" Teheran terhadap teks Uni Eropa akan disampaikan kemudian. Pejabat Uni Eropa tidak memberikan rincian tentang tanggapan Iran terhadap teks tersebut.

"Ada tiga masalah yang jika diselesaikan, kita dapat mencapai kesepakatan dalam beberapa hari mendatang," kata Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian, menunjukkan tanggapan Teheran tidak akan menjadi penerimaan atau penolakan akhir, melansir Reuters 16 Agustus.

"Kami telah mengatakan kepada mereka, bahwa garis merah kami harus dihormati. Kami telah menunjukkan fleksibilitas yang cukup. Kami tidak ingin mencapai kesepakatan, bahwa setelah 40 hari, dua bulan atau tiga bulan gagal terwujud di lapangan."

Amerika Serikat mengatakan kesepakatan itu hanya dapat dihidupkan kembali, jika Iran menghentikan masalah 'asing', referensi yang jelas untuk tuntutan Teheran, pengawas nuklir AS menutup penyelidikan terhadap jejak uranium yang tidak dapat dijelaskan di Iran, mengeluarkan Korps Pengawal Revolusi dari daftar terorisme Washington.

Para diplomat dan pejabat mengatakan kepada Reuters, terlepas Teheran dan Washington menerima tawaran 'final' Uni Eropa atau tidak, keduanya kemungkinan besar tidak akan menyatakan pakta itu mati, karena mempertahankannya tetap melayani kepentingan kedua belah pihak.

Amirabdollahian mengatakan, "hari-hari mendatang sangat penting" dan "dunia tidak akan berakhir jika mereka gagal menunjukkan fleksibilitas. Maka kita akan membutuhkan lebih banyak upaya dan pembicaraan, untuk menyelesaikan masalah yang tersisa."

Taruhannya tinggi, karena kegagalan dalam negosiasi nuklir akan membawa risiko perang regional baru dengan Israel yang mengancam aksi militer terhadap Iran, jika diplomasi gagal mencegah Teheran mengembangkan kemampuan senjata nuklir.

Teheran, yang telah lama membantah memiliki ambisi seperti itu, telah memperingatkan tanggapan 'menghancurkan' terhadap setiap serangan Israel.

"Seperti Washington, kami memiliki rencana B kami sendiri jika pembicaraan gagal," tegas Amirabdollahian.

Diketahui, Presiden Donald Trump membawa AS keluar dari kesepakatan pada tahun 2018, menyebutnya terlalu lunak terhadap Iran, menerapkan kembali sanksi keras. Itu mendorong Teheran mulai melanggar batas pengayaan uraniumnya.

Harapan pemulihan sempat meninggi pada Maret lalu, sebelas bulan setelah pembicaraan tidak langsung antara Teheran dengan Pemerintahan Presiden AS Joe Biden di Wina.

Tetapi pembicaraan gagal karena hambatan, termasuk permintaan Teheran agar Washington memberikan jaminan, tidak ada Presiden AS yang akan meninggalkan kesepakatan seperti yang dilakukan Trump.

Presiden Biden tidak bisa menjanjikan ini, karena kesepakatan nuklir adalah pemahaman politik yang tidak mengikat, bukan perjanjian yang mengikat secara hukum.