Perkosa Wanita Kyiv Berulang Kali Usai Tembak Sang Suami, Tentara Rusia Bakal Jalani Persidangan Tertutup di Ukraina
Ilustrasi tentara Rusia di Ukraina. (Wikimedia Commons/Mil.ru)

Bagikan:

JAKARTA - Ukraina diperkirakan pada Hari Kamis akan mengadakan sidang pendahuluan dalam persidangan pertamanya, terhadap seorang tentara Rusia yang didakwa memperkosa wanita Ukraina selama invasi Moskow, yang pertama dari puluhan kasus semacam itu.

Tersangka, Mikhail Romanov (32), yang tidak berada dalam tahanan Ukraina dan akan diadili secara in absentia, dituduh membunuh seorang warga sipil di wilayah ibukota Kyiv pada 9 Maret dan kemudian berulang kali memperkosa istri pria itu, menurut berkas pengadilan, melansir Reuters 23 Juni.

Kementerian Pertahanan Rusia tidak segera menanggapi permintaan komentar tertulis, dan Reuters tidak dapat menghubungi tentara tersebut. Sebelumnya, Moskow telah membantah tuduhan kejahatan perang.

Romanov dituduh memperkosa seorang wanita berusia 33 tahun setelah dia dan seorang tentara Rusia lainnya menembak suaminya Oleksiy di Desa Bohdanivka di timur laut Kyiv.

Kedua tentara itu kemudian pergi dan kembali lagi dua kali untuk memperkosanya, kata berkas pengadilan. Berbeda dengan Romanov, identitas prajurit kedua belum ditetapkan.

Tidak segera jelas perwakilan hukum seperti apa yang akan dimiliki Romanov di persidangan, yang akan diadakan secara tertutup.

Seorang jaksa yang menangani kasus kekerasan seksual mengatakan kepada Reuters, pihaknya tengah menyelidiki sekitar 50 kejahatan semacam itu. Tetapi, jumlah kasus kekerasan seksual oleh tentara Rusia sejak 24 Februari kemungkinan akan jauh lebih tinggi.

Para pejabat, aktivis dan dokter mengatakan banyak penyintas takut atau tidak mau melapor ke polisi dan jaksa dengan kasus mereka, karena takut akan pembalasan dari Rusia dan stigma dari tetangga Ukraina mereka.

Terpisah, seorang juru bicara kantor Jaksa Agung mengatakan, seorang jaksa mungkin berkomentar tentang persidangan secara terbuka setelah sidang Hari Kamis.

Diketahui, Ukraina mengatakan sedang menyelidiki ribuan potensi kejahatan perang yang dilakukan selama invasi Rusia, yang dimulai pada 24 Februari. Jaksa Agung Iryna Venediktova mengatakan kepada Reuters, banyak tersangka berada di Rusia, tetapi beberapa telah ditawan oleh Ukraina sebagai tawanan perang.