Pernikahan Bupati Kayong Utara Gunakan Prosesi Adat Melayu Senganan
Ilustrasi-(Foto: DOK ANTARA)

Bagikan:

SINTANG - Pernikahan Bupati Kayong Utara, Citra Duani dengan Yayuk Winarni, warga Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang menggunakan prosesi adat Melayu Senganan, campuran budaya Melayu dan Dayak, di Kalimantan Barat.
 
"Melayu Senganan itu biasanya kami istilahkan, orang Dayak masuk agama Islam dan memang orang-orang tua kami dulu itu dari Suku Dayak. Makanya dalam prosesi pernikahan ini, kami juga menggunakan adat budaya Dayak yang sudah tidak melanggar syariat-syariat Islam," kata Ketua Panitia Acara Pernikahan Bupati Kayong Utara, Faisal, saat dihubungi di Serawai, Sintang, Antara, Kamis, 17 Maret.
 
Dia menjelaskan dalam prosesi pernikahan itu, mempelai laki-laki saat tiba di rumah keluarga mempelai perempuan, disambut dengan adat menginjak "batu telok" (telur) kemudian tanah dan beras kuning.
 
"Tidak hanya menginjak 'batu telok', mempelai pria yang datang ke kampung kami juga diberi petuah-petuah dari Ketua Adat Serawai. Saat menginjak telur, pengantin pria juga diminta untuk menggigit berupa besi biasanya berbentuk pisau yang telah disiapkan. Baru dilanjutkan dengan hantaran pengantin pria," katanya.
 
Jika menurut adat budaya zaman dahulu, kata dia, saat melakukan hantaran ada prosesi adat budaya yang biasa disebut "Opong".
 
Ia menjelaskan "Opong" acara di mana sebelum hantaran masuk rumah mempelai perempuan, rombongan hantaran mempelai laki-laki yang diiringi "musik tar" harus mampu menerobos masuk gapura yang dihalangi atau dipasangi portal dengan batang tebu.
 
Portal tebu itu harus dipotong. Namun, sebelumnya dari kedua pihak harus beradu silat dan pantun untuk selanjutnya portal tebu dipotong.
 
Namun, kali ini hal tersebut tidak dilakukan karena mengingat waktu. Mempelai laki-laki hanya melalui palang pintu dengan diiringi saling berbalas pantun antara kedua belah pihak.
 
Faisal menuturkan pada palang pintu itu, dua putra terbaik Serawai menjaga dengan dua tombak sebagai penghalang. Namun, mata tombak dihunjamkan ke tanah dan diberi kain hijau yang mengandung arti kedamaian.
 
Usai serah terima barang hantaran mempelai laki-laki, acara dilanjutkan dengan akad nikah yang ditandai ijab kabul mempelai pria.
 
"Kami bersyukur acara ijab kabul bisa berjalan lancar di acara akad nikah yang diisi dengan pembacaan Al Quran, pemberian nasihat dari kedua belah orang tua dan acara sungkeman. Dengan telah dilakukannya acara akad nikah, Bupati Kayong Utara Citra Duani kini telah sah memperistri saudari kami, Yayuk Winarni," kata Faisal.
 
Acara dilanjutkan dengan prosesi adat budaya "cucur mawar" dengan harapan kedua mempelai mendapat keberkahan.
 
Prosesi "cucur mawar" merupakan akulturasi adat budaya Melayu dan Dayak. Dalam prosesi itu digunakan daun sabang, beras kuning, dan diakhiri dengan doa pengantin yang mengandung syariat keselamatan bagi kedua pengantin. Doa ini disampaikan oleh 3-7 orang dari kedua belah pihak pengantin dengan harapan mereka menjadi pasangan yang sakinah mawadah, dan "warrahmah".
 

 
"Alhamdulillah acara pernikahan Bupati Kayong Utara berjalan lancar," katanya.
 
Citra Duani selama beberapa tahun terakhir hidup sendiri setelah sang istri meninggal karena sakit. Acara dilangsungkan di Masjid Al-Iklas di Desa Nanga Serawai, Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang.