Bertemu Menlu Inggris Liz Truss, Menlu Retno Soal Isu Iklim: Indonesia Tidak Mau Terjebak Dalam Retorika
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi. (Sumber: Kementerian Luar Negeri Indonesia)

Bagikan:

JAKARTA - Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi, menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss terkait dengan pembahasan kerja sama bilateral kedua negara, Kamis 11 November.

Sebelum bertemu dengan Menlu Retno, Menlu Truss terlebih dahulu melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) di pagi hari, dengan fokus pembahasan tindak lanjut dari pertemuan bilateral Presiden Jokowi dan PM Boris Johnson di sela-sela KTT Iklim COP26 yang baru lalu di Glasgow, Skotlandia.

"Fokus pembahasan seputar potensi kerja sama terkait pasar karbon, baterai lithium, vaksin dan bioteknologi, dengan Presiden Jokowi menyebut akan mengirimkan tim untuk mewujudkan kerja sama," jelas Menlu Retno dalam keterangan persnya secara online Kamis 11 November.

Saat bertemu dengan Menlu Truss, Menlu Retno kembali menekankan masalah Iklim, di mana Indonesia ditegaskan olehnya tidak mau terjebak dalam retorika, dengan pernyataan Presiden Jokowi sudah jelas.

"Saya tegaskan Indonesia tidak mau terjebak dalam retorika. Kami lebih suka berjalan dalam pembicaraan. Terkait hal itu, pernyataan Presiden Widodo saat rapat FoLU sangat jelas," terang Menlu Retno.

"Presiden antara lain menyebutkan bahwa Indonesia bertujuan untuk mengubah
sektor hutan dan penggunaan lahannya menjadi Penyerap Karbon Bersih pada tahun 2030. Ini adalah komitmen Indonesia untuk menjadi bagian dari solusi," sambungnya.

Terkait hal tersebut Menlu Retno menerangkan, pencapaian konkrit Indonesia di sektor kehutanan tidak diragukan lagi. Pada tahun 2020, misalnya, kebakaran hutan diminimalkan sebesar 82 persen. Sementara pada 2019, emisi dari hutan dan penggunaan lahan berkurang 40,9 persen dibandingkan tahun 2015.

Lebih jauh diterangkannya, deforestasi juga turun ke level terendah dalam 20 tahun terakhir. Semua ini tercapai ketika dunia kehilangan hutan primer lebih banyak dari 12 persen tahun lalu.

"Keberhasilan ini dicapai karena Indonesia menempatkan aksi iklim di dalamnya
konteks pembangunan berkelanjutan. Kebijakan pengelolaan hutan lestari harus menggabungkan lingkungan dengan pertimbangan ekonomi dan sosial," papar Menlu Retno.

Terkait dengan Presidensi Indonesia di G20, Menlu Retno mengapresiasi dukungan Inggris, sekaligus berbagi prioritas kepresidenan Indonesia yang mengutamakan inklusivitas, mendukung arsitektur kesehatan global yang lebih kuat, transisi energi, dan digital transisi akan menjadi salah satu prioritas utama kepresidenan Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Menlu Retno juga menyampaikan terima kasih kepada Menlu Truss, atas bantuan 1 juta dosis vaksin COVID-19 dari Inggris. Menurutnya, Inggris dan Indonesia memiliki pandangan yang sama tetang kesetaraan dan non-diskriminasi vaksin.

"Dalam jangka panjang, kami menjajaki kerjasama untuk membangun nasional, regional dan ketahanan kesehatan global, antara lain, memperkuat kerjasama dalam industri farmasi dan obat-obatan, mengembangkan Indonesia sebagai hub regional untuk produksi vaksin dan dukungan Inggris untuk mekanisme keuangan untuk pandemi," paparnya.

Selain itu, pertemuan kedua menteri luar negeri juga membahas seputar masalah kerja sama ekonomi serta keamanan Indonesia dan Inggris, forum kemitraan Indonesia-Inggris, serta iso global dan regional.

"Saya mengucapkan selamat kepada Inggris sebagai Mitra Dialog ASEAN yang baru dan melihat ke depan, untuk bekerja sama antara lain dalam membangun kerjasama yang konkrit untuk mengimplementasikan ASEAN Outlook on the Indo Pacific," tandasnya.

"Kami berbagi pandangan yang sama tentang perlunya orang Afghanistan
Orang-orang untuk hidup di Afghanistan yang damai, stabil, dan makmur. Mengenai Myanmar, kami berbagi pandangan yang sama tentang perlunya membawa kembali
demokrasi serta dalam menjamin keamanan dan kesejahteraan rakyat Myanmar. Dan menegaskan kembali pentingnya penerapan Lima Poin Konsensus dan memastikan pengiriman bantuan kemanusiaan untuk rakyat Myanmar," tutup Menlu Retno.