Hero Siapkan Motor Murah di Inggris, Merek India Mulai Mengusik Eropa
JAKARTA - Hero Motorcycles mulai menekan pasar Inggris. Produsen sepeda motor asal India itu menyiapkan ekspansi cepat dengan amunisi yang cukup menggoda, yakni motor kecil berharga terjangkau, model komuter, skuter besar, hingga motor off-road bergaya Reli Dakar.
Rencana itu diungkap CEO Hero MotoCorp, Harshavardhan Chitale, kepada Motorcycle News (MCN). Bagi Hero, Inggris bukan pasar main-main. Konsumennya kritis. Industrinya matang. Selera pengendaranya juga tidak mudah dibujuk brosur manis.
Hero memang belum setenar Royal Enfield di Inggris. Namun secara volume, merek ini raksasa. Hero menjual sekitar 6,5 juta motor per tahun dan telah memproduksi lebih dari 125 juta unit sejak berdiri pada 1984.
Perusahaan ini dulu bernama Hero Honda Motors Ltd, hasil usaha patungan dengan Honda. Kerja sama itu berakhir pada 2011. Setelah berpisah, Hero membangun riset, produk, dan investasinya sendiri. Kini mereka juga bermitra dengan Harley-Davidson, termasuk untuk distribusi di India dan pengembangan platform cruiser X440.
Menurut laporan MCN dikutip Rabu, 3 April, dalam 12 bulan terakhir, dua model Hero sudah masuk Inggris, yakni Hunk 440 dan Xpulse 200. Distribusinya ditangani MotoGB.
Baca juga:
Hunk 440 menjadi pembuka jalan. Motor ini memakai mesin 440 cc, 2 katup, berpendingin udara dan oli. Tenaganya diklaim 27 bhp. BHP adalah ukuran tenaga mesin. Harganya £3.499, belum termasuk biaya tambahan agar motor legal dipakai di jalan. Di kelas ini, Hunk 440 berhadapan dengan Honda GB350S dan BSA Bantam 350.
Setelah itu, Hero membawa Xpulse 200. Motor ini lebih kecil dan ringan. Mesinnya 199 cc satu silinder 4 katup. Karakternya tidak galak. Lebih cocok sebagai motor harian yang tangguh, sederhana, dan mudah didekati. Harganya mulai £2.499, belum termasuk biaya jalan.
Chitale mengatakan kepada MCN, Hero tidak ingin sekadar mengirim motor dari India lalu berharap semua pasar menerima. Mereka ingin membaca kebutuhan konsumen di tiap negara.
“Sekarang kami menjual di 52 negara. Tentu kami harus masuk Inggris,” kata Chitale.
Menurut Chitale, Inggris menarik karena sepeda motor di sana bukan alat transportasi utama seperti di banyak negara Asia. Motor lebih banyak dipakai untuk rekreasi. Karena itu, model adventure seperti Xpulse dinilai punya peluang.
Dari model yang dibawa masuk, strategi Hero terlihat cukup jelas: bermain di segmen motor kecil dengan harga terjangkau. Mereka juga sedang menguji apakah pasar matang seperti Inggris mau menerima produk India di luar nama besar Royal Enfield dan BSA.
Hero juga menyiapkan keluarga Xpulse secara bertahap. Salah satunya edisi yang terinspirasi Reli Dakar. Nama Dakar tidak sekadar tempelan. Hero punya pengalaman di reli gurun itu dan mencatat hasil podium pada Reli Dakar 2024.
Chitale juga menyebut Hero akan membawa motor komuter berkapasitas lebih kecil ke Inggris. Selain itu, skuter adventure dan maxi-scooter juga masuk daftar. Maxi-scooter adalah skuter besar yang biasanya lebih nyaman untuk perjalanan jauh.
“Setiap beberapa kuartal, akan ada peluncuran dan produk baru dari Hero,” katanya.
Langkah ini membuat persaingan merek India di Inggris makin ramai. Royal Enfield sudah lebih dulu kuat dengan citra klasiknya. BSA, yang didukung Mahindra, juga ikut bermain. Hero datang dengan gaya berbeda yaitu volume besar, portofolio luas, dan harga yang dibuat sulit diabaikan.
Yang menarik bukan soal apakah model-model itu bakal masuk Indonesia. Belum ada pernyataan ke arah sana. Yang patut dicatat adalah trennya. Motor kecil dan terjangkau mulai naik kelas, bahkan di pasar maju seperti Inggris.
Dulu motor kecil sering dianggap pilihan terpaksa. Kini ceritanya berubah. Saat harga kendaraan naik dan motor besar makin mahal, mesin kecil kembali terdengar masuk akal. Ringan, murah, mudah dirawat, dan cukup untuk banyak kebutuhan.
Hero membaca celah itu. Inggris menjadi etalase. Eropa menjadi ujian. Dan pemain lama tentu tidak bisa pura-pura tidak melihat atau diam.