Bagikan:

JAKARTA - WHO meminta negara-negara yang menutup perbatasan atau melarang perjalanan dari Republik Demokratik Kongo dan Uganda meninjau ulang kebijakan itu. Menurut WHO, pembatasan yang terlalu keras justru berisiko memperumit penanganan Ebola.

Dikutip dari Xinhua, Minggu, 31 Mei, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan seruan itu dalam konferensi pers di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, Sabtu, 30 Mei.

Bunia menjadi pusat perhatian karena berada di wilayah terdampak wabah Ebola. Dalam wabah terbaru ini, lebih dari 1.000 kasus yang diduga terkait Ebola telah dilaporkan.

“Saya meminta negara-negara yang telah memberlakukan larangan perjalanan atau penutupan perbatasan untuk mempertimbangkannya kembali,” kata Tedros.

Menurut Tedros, larangan perjalanan dan penutupan perbatasan dapat menghambat kerja tim kesehatan. Kebijakan itu juga bisa membuat negara atau komunitas terdampak enggan terbuka, padahal transparansi sangat dibutuhkan saat menghadapi wabah.

“Langkah-langkah ini membuat penanganan menjadi lebih sulit, dan menghambat transparansi serta kepercayaan yang menyelamatkan nyawa,” ujarnya.

Ebola bukan penyakit yang bisa dianggap enteng. Namun, WHO menilai respons yang tepat tidak selalu berarti menutup pintu rapat-rapat. Dalam banyak wabah, kecepatan deteksi, pelacakan kontak, perawatan pasien, dan kepercayaan warga justru menjadi kunci.

Tedros mengatakan, meski belum ada vaksin yang disetujui dan obat khusus untuk wabah ini, pasien tetap punya peluang pulih jika mendapat perawatan medis yang cepat dan berkualitas.

Kunjungan Tedros ke Bunia juga ditujukan untuk bertemu langsung dengan komunitas terdampak. Dalam penanganan wabah, mendengar warga di lapangan sering kali sama pentingnya dengan membaca angka di laporan resmi.

Masih menurut Xinhua, Uganda melaporkan sembilan kasus terkonfirmasi. Angka itu muncul setelah dua infeksi baru terdeteksi di Kampala, menurut Kementerian Kesehatan Uganda pada Jumat.

Menteri Kesehatan Republik Demokratik Kongo Roger Kamba mengatakan negaranya menargetkan wabah ini bisa dikendalikan dan diakhiri dalam empat hingga enam bulan, dalam skenario terbaik.

Target itu, kata Kamba, didasarkan pada pengalaman negaranya menangani epidemi dan pola penyebaran penyakit virus Ebola.

Saat ini, prioritas utama pemerintah DRC adalah menahan penyebaran virus di tiga provinsi terdampak: Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan. Pemerintah juga berupaya mencegah virus menyebar ke wilayah lain.

Kamba mengatakan kapasitas pemeriksaan laboratorium telah diperkuat. Tidak ada lagi penumpukan sampel yang menunggu diuji.

Sekitar 900 sampel sudah diperiksa. Dari jumlah itu, sekitar 260 dinyatakan positif.

Menurut Kamba, DRC kini mampu memproses semua sampel yang masuk. Kapasitas itu tetap bisa dijaga meski jumlah pemeriksaan harian naik menjadi 200 hingga 300 sampel.

Bagi WHO, tantangan besar dalam wabah bukan hanya menghentikan virus, tetapi juga menjaga agar pelaporan kasus, akses tenaga kesehatan, dan kepercayaan warga tidak ikut rusak oleh kebijakan yang keliru.