Bagikan:

JAKARTA - Para penjual daging hewan liar di Pasar Masina di ibu kota Kongo tidak selalu memajang dagangannya secara terbuka. Pembeli dapat meminta hewan pengerat rawa raksasa atau bagian-bagian tubuh antelop yang terpotong jika menginginkannya.

Namun, AP melaporkan ada sejumlah hewan yang umumnya jarang dikonsumsi tetap diperdagangkan secara terbuka di pasar lain di Kongo. Seperti para pedagang wanita yang menjual ulat hidup dalam keranjang besar di Pasar Kinshasa.

Bagi banyak orang di Kongo dan tempat lain di Afrika Tengah dan Barat, daging hewan liar adalah komoditas pangan penting dan bagian dari budaya.

Bahkan penyakit seganas Ebola yang saat ini melanda Kongo timur, gagal membendung permintaan daging hewan liar di Kongo.

Rata-rata hewan liar untuk dikonsumsi itu berasal dari Cekungan Kongo, ekosistem hutan yang luas disebut juga paru-paru kedua Bumi.

Cekungan Kongo kaya akan berbagai jenis satwa liar, dari kera besar hingga ular — keduanya diburu untuk diambil dagingnya. Salah satu konsekuensi akan konsumsi hewan-hewan itu bagi penduduk setempat adalah paparan penyakit zoonosis seperti Ebola.

Meskipun Ebola umumnya tidak menyebar melalui makanan, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, sejumlah kasus Ebola di Afrika terkait dengan perburuan, pemotongan, dan pengolahan daging dari hewan yang terinfeksi.

“Begitu ada interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan, kita akan sering mengalami wabah semacam ini,” kata Ahli dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika, Dr. Tolbert Geewleh Nyenswah.

“Dan inilah mengapa pendekatan kesehatan terpadu dalam menangani wabah virus sangat penting, karena kita masih berinteraksi dengan kelelawar, dan para pemburu kita masih membunuh monyet, dan kita dekat dengan lingkungan,” sambungnya.

Daging asap dari satwa liar yang diburu untuk konsumsi manusia terlihat di pinggir jalan negara Ghana. (Wikimedia Commons)

Hubungan Ebola dan Daging Hewan Liar

Pemerintah Kongo mengumumkan wabah Ebola melanda daerahnya pada 15 Mei 2026. Sejak saat itu, 220 kasus kematian terkait Ebola terjadi di Kongo dan lebih dari 1.000 kasus diduga terkait penyakit itu.

Virus pembawa Ebola tersebut diperkirakan menyebar tanpa terdeteksi selama berminggu-minggu, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menduga penyebarannya jauh lebih besar daripada yang telah dilaporkan.

Ebola, yang dinamai berdasarkan anak sungai di Sungai Kongo, pertama kali ditemukan pada 1976 dan saat ini wabah itu serentak melanda Kongo dan Sudan Selatan.

Wabah penyakit itu diyakini berawal dari virus yang ditularkan hewan terinfeksi ke manusia, seperti kelelawar buah. Menurut para ahli, infeksi lintas spesies tersebut sering terjadi ketika orang memproses dan mengonsumsi daging hewan liar.

Ahli mikrobiologi sekaligus penasihat Kementerian Kesehatan Uganda tentang epidemi, Dr. Misaki Wayengera, mengatakan sejumlah masyarakat masih ada yang membantah keterkaitan antara wabah Ebola dan kemunculannya di kawasan masyarakat pengonsumsi daging hewan liar.

Sebagian masyarakat juga masih ada yang tidak mengetahui informasi tentang ancaman kesehatan dari mengonsumsi daging hewan liar.

"Sangat sulit untuk mengubah kebiasaan tersebut," kata Wayengera.

Bahkan, gejala Ebola berupa demam berdarah mematikan yang menular lewat kontak langsung dengan cairan tubuh penderita kadang dianggap beberapa masyarakat lain di Afrika bukan penyakit, tapi berbau mistis akibat kutukan jahat.

Ilustrasi perawatan pasien Ebola. (Wikimedia Commons-Daniel Bausch-Division of Viral and Rickettsial Diseases-National Center for Infectious Diseases, CDC)

Adapun virus Ebola bertanggung jawab atas 17 wabah di Kongo dan banyak wabah lainnya di wilayah tersebut.

Wabah Ebola paling mematikan, terjadi di Afrika Barat antara tahun 2014 dan 2016, dengan sebanyak 28.000 orang terinfeksi dan 11.300 kasus kematian.

Menurut Badan Pangan Dunia (FAO) — yang mempelajari risiko Ebola dari konsumsi dan penanganan daging hewan liar setelah epidemi di Afrika Barat — penularan Ebola dari hewan ke manusia jarang terjadi, tetapi "konsekuensinya tetap mengerikan."

Setelah Ebola menginfeksi satu orang, virus tersebut kemudian menyebar melalui kontak dekat dengan cairan tubuh pasien yang sakit atau meninggal, seperti keringat, darah, feses, atau muntah. Petugas kesehatan tanpa perlengkapan pelindung yang memadai dianggap sangat rentan.

Sementara wabah Ebola saat ini di Kongo timur disebabkan oleh virus Bundibugyo, jenis Ebola langka yang belum ada obat atau vaksinnya.

Selain dilanda Ebola, Kongo Timur merupakan wilayah kelompok pemberontak dan kantung-kantung pengungsian dari warga yang melarikan diri dari konflik bersenjata di daerah tersebut.