Eksklusif, Sekjen MUI Amirsyah Tambunan: Sudah Saatnya Dam Haji Disebar di Tanah Air
Saat melaksanakan ibadah haji, ada aturan yang dilanggar, baik secara tak sengaja maupun disengaja. Karena itu, kata Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. H. Amirsyah Tambunan, M.A., jemaah harus membayar dam atau denda berupa hewan atau berpuasa. Penyembelihan hewan itu dilakukan di sekitar Makkah dan dagingnya juga dibagikan di sana. Saat ini di Makkah sudah sulit menemukan fakir miskin, sehingga ide untuk menyebarkan daging hewan itu ke daerah atau negara lain seperti Indonesia menjadi relevan.
***
Dalam melaksanakan ibadah haji dan umrah, seperti dilansir laman baznas.go.id, ada beberapa larangan yang harus dihindari. Namun, saat larangan itu dilakukan, baik sengaja maupun tak sengaja, maka jemaah haji atau umrah harus membayar dam atau denda berupa kambing atau unta, dan kalau tak mampu, bisa melaksanakan puasa.
Membayar dam sebagai sanksi atau kompensasi syariat—karena mereka melanggar aturan larangan ihram, meninggalkan wajib haji, atau melaksanakan haji Tamattu' (melakukan umrah terlebih dahulu sebelum ibadah haji)—sejatinya adalah bentuk kemudahan dalam menjalankan syariat Islam. Dan dari sisi jemaah, ini adalah bentuk syukur kepada Yang Maha Adil.
Ulama masih berbeda pendapat soal harus didistribusikan ke mana saja daging hewan yang disembelih tersebut. Sebagian ulama berpendapat dibagikan di sekitar Makkah. Namun, sebagian lain menyarankan didistribusikan ke daerah atau negara lain yang lebih membutuhkan. Soalnya, saat ini sudah sulit menemukan orang yang berhak menerima daging dam itu di sana.
Buya Amirsyah Tambunan termasuk yang setuju kalau distribusi daging dam dilakukan di daerah atau negara lain yang lebih membutuhkan. “Soalnya di sekitar Makkah sudah tak ada orang miskin. Jadi tak perlu dipertentangkan soal ini. Karena ini soal ijtihad, kalau salah pahala satu, kalau benar pahala dua,” katanya kepada Edy Suherli, Bambang Eros, dan Irfan Meidianto dari VOI yang menemuinya di Kantor Pusat MUI, Menteng, Jakarta, 22 Mei 2025.
Bagaimana Buya melihat kesiapan pelaksanaan ibadah haji tahun ini, mengingat dinamika di dalam dan luar negeri sedang sangat luar biasa?
Pertanyaan seperti ini sudah berulang-ulang diajukan, dan kami sudah sampaikan ke pemerintah Indonesia, termasuk pemerintah Arab Saudi melalui kedutaan besar yang ada di Jakarta. Jawabannya sama yaitu, optimis pelaksanaan ibadah haji aman, lancar, dan bisa menghasilkan haji mabrur.
Pusat ibadah haji juga jauh dari titik konflik Timur Tengah, ya?
Ya, karena itu maka berbagai negara, baik Timur Tengah maupun dunia Barat, punya peran penting untuk menciptakan suasana yang aman dan damai. Sehingga, penyelenggaraan ibadah haji itu bisa berjalan sebagaimana yang kita harapkan.
Tahun ini juga pertama kali haji dilaksanakan oleh Kementerian Haji dan Umrah. Sebelumnya masih bergabung dengan Kementerian Agama. Bagaimana Buya melihat transisinya?
Ya, salah satu kebijakan pemerintah yaitu telah melakukan banyak perubahan atau transformasi. Saya pernah menulis soal transformasi ini dalam satu artikel yang dimuat di media. Itu yang disebut dengan, pertama, transformasi struktural. Yang kedua adalah transformasi spiritual. Yang ketiga adalah transformasi tata kelola penggunaan haji ini.
Nah, transformasi dan perubahan peran yang lebih baik ini kita harapkan bisa membuat kelembagaan atau Kementerian Haji ini lebih fokus, serta lebih mampu untuk menggerakkan semua lini kelembagaan sehingga dapat menjalankan penyelenggaraan haji dengan baik. Dan saya melihat sejak awal ada perubahan-perubahan yang dilakukan oleh Kementerian Haji.
Apa saja yang Anda lihat?
Di antaranya ya, secara struktural sudah lebih ramping. Kementeriannya fokus dan persiapan-persiapannya tentu kita harapkan lebih baik.
Kemarin yang agak heboh itu soal war ticket, ya?
Ya, kalau war ticket itu kan belum dilakukan. Nanti ke depan akan dibahas apakah ini disetujui atau tidak. Itu semua tergantung kepada kebijakan pemerintah, keputusan politik, termasuk DPR dan jemaah yang sudah mendaftar untuk menunaikan ibadah haji.
Jadi, kalau war ticket itu kan prinsipnya siapa di antara calon jemaah haji yang lebih cepat (mendapatkan tiket). Sementara saat ini sudah ada yang mengantre hingga 30 tahun, itu kan kurang menciptakan suasana keadilan. Kecuali, jika sejak awal sudah dibuat kebijakan seperti itu. Misalnya, kebijakan sejak awal apa? Mulai tahun 2027 misalnya, pemerintah akan melakukan beberapa langkah, sekian persen (untuk war ticket), sementara yang sudah antre mendapat porsi sekian persen. Itu boleh, proporsional namanya.
Apa mungkin sistem antrean selama ini diganti dengan war ticket?
Kalau semua harus dialihkan ke war ticket, saya kira itu akan menimbulkan masalah.
Oke. Kalau kita lihat dampak perang Timur Tengah juga berpengaruh pada harga tiket pesawat, apa seruan Buya agar maskapai tidak menaikkan harga terlalu tinggi?
Nah, ini lagi-lagi perlu kajian secara proporsional, komprehensif, dan integratif. Ada satu usulan yang menarik; kalau alasannya berangkat haji tiketnya agak mahal nilainya, itu sebenarnya bisa dikonvergensi dengan hal lain.
Caranya, pesawat itu kembali ke Indonesia dengan skema produktif. Jadi, pesawat pulangnya tidak kosong, artinya tidak akan rugi. Kalau saat kembali sudah diatur skema bisnisnya, saya kira bisa.
Komponen haji yang terbesar itu kan ada dua: transportasi dan akomodasi. Dua unsur ini bisa mencapai dua per tiga dari seluruh komponen haji. Nah, itu bisa diatur. Skemanya bisa dibuat supaya lebih efisien dan produktif. Jadi, perlu duduk bareng antara stakeholder terkait supaya hasilnya betul-betul bisa produktif.
Sekjen MUI Amirsyah Tambunan meminta jemaah haji fokus dengan ibadah, tak terganggu dengan aktivitas di media sosial atau sosmed. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Soal cuaca yang diprediksi akan mencapai 42 derajat Celsius di Tanah Suci, apakah MUI perlu mengeluarkan fatwa agar syarat kemampuan (istitha’ah) bagi calon jemaah diperketat?
Fatwa soal istitha’ah ini sudah ada sejak Buya Hamka menjadi Ketua Umum MUI. Secara umum, yang dimaksud istitha’ah itu menjelaskan soal kemampuan fisik, mental, spiritual, termasuk pembiayaan. Soal cuaca memang itu bagian kecil dari situasi yang dihadapi. Nah, karena itu diperlukan bimbingan kepada jemaah haji sehari-hari. Teman-teman dari Muhammadiyah, NU, dan MUI sudah punya (perwakilan/pembimbing) di sana.
Tahun lalu saat saya menjadi anggota Amirul Haj, sudah ada aturan: jemaah tidak boleh keluar hotel di atas jam 10.00 malam sampai jam 04.00 pagi.
Walaupun alasannya untuk salat malam?
Ya, tidak boleh. Itu dijaga betul. Kenapa? Ini untuk mengatur fisik supaya betul-betul prima. Dan itu banyak terjadi, saat jemaah kelelahan bisa drop. Jadi, saya minta kepada petugas haji, jangan berikan izin jemaah haji berkeliaran untuk hal yang tidak penting. Dan jemaah haji juga harus sadar dan menjaga diri.
Daftar antrean (waiting list) haji kita panjang sekali, terobosan apa yang harus dilakukan pemerintah agar bisa dipangkas?
Pemerintah bersama DPR harus melakukan pengaturan sejak dini. Kenapa perlu diatur sejak dini? Supaya menciptakan rasa adil pada jemaah. Misalnya, kuota Indonesia itu 221.000 orang setahun. Bagaimana cara mengaturnya supaya proporsional? Karena kita melihat antrean yang sedemikian panjang, kalau tiba-tiba diubah aturannya, itu nanti menimbulkan masalah. Itu yang harus kita hindari.
Jadi, harus diajak pemangku kepentingan berdiskusi, berdialog dengan MUI dan ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Al-Jam'iyatul Washliyah, Persis, Al-Ittihadiyah, dan lain-lain; bagaimana sikap kita untuk menghadapi kebijakan ini. Dan pemerintah, setahu saya, tidak akan berani mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan calon jemaah haji.
Apakah kita perlu 'berburu' sisa kuota negara lain yang tidak terpakai?
Bisa saja, kalau pemerintah Indonesia bisa melakukan negosiasi dengan pemerintah Arab Saudi. Dan itu sangat tergantung apakah negosiasi itu akan melahirkan sikap yang terbuka oleh pemerintah Indonesia. Dan saya punya catatan soal ini: diplomasi kita soal haji ini perlu diperkuat. Karena kita ini membawa jemaah haji yang tidak kecil, bahkan terbesar di dunia. Dan itu potensi rupiahnya banyak sekali. Nah, karena itu harus bisa menjadi posisi tawar yang kuat agar kita memperoleh kuota yang proporsional.
Bagaimana dengan ekosistem haji kita, apakah sudah dioptimalkan?
Saya kira penting itu. Ke depan, harus kita pikirkan ekosistem pengembangan keuangan haji. Saya pernah bilang kepada kawan-kawan yang berada di bawah naungan pengelolaan biaya oleh BPKH, misalnya. Masa sih, jemaah haji kita yang sekian banyak, tetapi beras, daging, ikan, dan sayur-mayurnya dari negara lain? Ini kenapa bisa terjadi? Ya, mungkin diplomasi dan negosiasi kita masih lemah. Ini perlu kita tingkatkan. MUI sebagai salah satu stakeholder pemerintah, saya kira berkepentingan untuk mengatur ekosistem ini. Karena ekosistem ekonomi keuangan haji ini bagian dari ekosistem ekonomi keuangan syariah, dan bisa membantu memberdayakan umat, kan?
Soal haji ilegal, bagaimana meminimalkannya menurut Buya? Apa perlu fatwa dari MUI untuk mereka yang mempromosikan dan terlibat?
Saya ingin mengingatkan para jemaah, bahwa haji itu mulia, salah satu rukun Islam. Nah, karena itu saya mengajak umat Islam untuk menunaikan ibadah haji dengan cara-cara yang terhormat dan elegan. Jangan dilakukan dengan cara-cara yang bertentangan dengan syariat Islam. Jadi, dari niat, cara, dan praktiknya harus baik.
Doa yang sering kita mohon saat melaksanakan ibadah haji antara lain: Allahummaj'al hajjana hajjan mabruuran (haji yang mabrur itu balasannya dunia akhirat), wa sa'yana sa'yan masykuro (sai yang benar-benar disyukuri/diterima), wa dzambana dzanban maghfuro (dosa kami dosa yang diampuni), lalu wa tijaratan lan tabur (yaitu perniagaan yang tidak akan merugi). Jadi, orang yang naik haji itu mestinya tidak ada yang jatuh miskin. Doa yang dipanjatkannya untuk urusan akhirat dan juga urusan duniawi.
Ada juga fenomena unik saat ini. Saat melaksanakan tawaf, sai, dan yang lainnya, banyak yang sembari menggunakan media sosial, live streaming, dan sebagainya. Bagaimana menyikapi hal ini?
Saya mengingatkan kepada jemaah haji, kuncinya ya tadi: dari niat hingga praktik harus baik. Karena itu, janganlah selfie-selfie, pamer-pamer, itu sudah ada yang terkena hukuman oleh pihak Arab Saudi. Jadi, fokuslah menjalankan ibadah haji. Kalau kita tidak fokus (ibadah bisa terganggu). Jadi, saya bukan melarang selfie, diatur saja. Dan harus tahu situasi dan kondisi, jangan mengganggu praktik ibadah haji.
Apa saja tanda-tanda haji yang mabrur itu?
Banyak tanda-tandanya, ya. Misalnya, sebelum dia haji, salatnya kurang tertib. Setelah haji, menjadi tertib. Kalau yang sudah tertib sebelum haji, ya dia lebih tertib lagi. Dalam perilaku sosial, hubungan dengan tetangga jadi lebih baik. Jadi, manfaatkan dengan semaksimal mungkin momentum beribadah haji ini, sayang kalau terlewatkan. Menunggunya sudah lama, biaya yang dihabiskan tidak sedikit.
Baca juga:
Ibadah haji beriringan dengan ibadah kurban, bagaimana implikasinya?
Ada keistimewaan Hari Raya Kurban dibanding Hari Raya Idulfitri yang bisa kita ambil hikmahnya; yang berhaji juga bisa menunaikan ibadah kurban di tahun dan bulan yang sama. Sementara keluarga yang di Tanah Air membimbing keluarga yang berkurban. Yang di Tanah Air hukumnya sunah muakad melaksanakan puasa Arafah saat jemaah haji sedang wukuf di Padang Arafah tanggal 9 Zulhijah bertepatan dengan 26 Mei, sedangkan Iduladha pada 27 Mei.
Apa hikmah menjalankan ibadah kurban?
Salah satu keistimewaan ajaran Islam itu ialah disyariatkannya penyembelihan hewan kurban. Ini merupakan warisan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang luar biasa. Saya pikir tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa tidak ada satu ajaran di dunia ini, kecuali Islam, yang mengajarkan (hal sedemikian rupa). Yang kedua, setiap kita salat, selalu diucapkan salawat atas Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim. Itu artinya (kisah mereka) untuk menjadi keteladanan bagi kita.
Lalu dampak sosialnya luar biasa. Saat ini banyak masyarakat kita yang hidupnya kurang beruntung, bahkan tidak pernah makan daging. Ini kesempatan mereka untuk makan daging. Dan ini tidak membedakan agama, non-muslim pun dapat bagian, tanpa membedakan agama, suku, etnis, dan daerah mana pun.
Tahun ini Buya berkurban di mana?
Saya tahun ini berkurban di kampung istri saya, yaitu Matur, Agam, Sumatera Barat. Masyarakat di banyak daerah butuh uluran tangan kita. Bagi kita makan daging mungkin itu sederhana, tapi bagi mereka, masya Allah, itu sesuatu yang membawa makna yang luar biasa.
Kurban di kota besar sudah banyak, apa itu berarti penyebaran daging kurban sudah merata?
Inilah yang kita lakukan dan kelola, jangan sampai daging kurban itu menumpuk. Kalau di Muhammadiyah, daging kurban itu dikemas dalam kaleng (kornet). Itu bisa tahan sampai setahun dan penyebarannya bisa sampai jauh. Momentum kurban ini juga bisa disebar untuk warga Gaza, Palestina, dan daerah konflik lainnya. Jadi, mereka tinggal memanaskannya lalu dikonsumsi.
Bahkan daging hewan dam dari saudara-saudara kita yang berhaji di Tanah Suci pun bisa dibawa ke Indonesia untuk disebarkan. Soalnya, di sekitar Makkah sudah sulit menemukan orang miskin. Jadi, tidak perlu dipertentangkan soal ini. Karena ini soal ijtihad, kalau salah pahala satu, kalau benar pahala dua.
Di luar negeri memotong hewan kurban di Rumah Potong Hewan (RPH), tetapi di Indonesia masih di halaman masjid atau tempat lain. Bagaimana saran Buya untuk kebersihan dan kesehatan daging kurban?
Saya mengimbau kepada masyarakat Indonesia, pertama, kalau tidak punya tempat, baiknya penyembelihan dilakukan di RPH. Kedua, kalau punya lahan yang cukup boleh saja, tetapi soal kebersihan dan higienitas daging harus diperhatikan.
Kurban ini penting. Kalau ada yang mampu tetapi tidak berkurban, kata Nabi, jangan mendekati tempat salat kami (masjid kami). Narasi hadis ini sangat keras. Marilah kita berkurban untuk mendekatkan diri kepada Allah. Lalu, ini juga membuktikan kepedulian sosial kita kepada masyarakat.
Kisah Buya Amirsyah Tambunan di Tanah Suci: Sehebat Apa Pun Kita, Jangan Pernah Takabur
Buya Amirsyah Tambunan punya pengalaman unik dalam ibadah haji. Dan ini benar-benar berkesan baginya. Ini sudah menjadi pelajaran berharga baginya dan ia pun berharap bisa menjadi pelajaran bagi siapa pun yang sedang dan akan menunaikan ibadah haji.
“Saya ini sering kali melaksanakan ibadah haji atas biaya dinas, atau orang lazim menyebutnya haji abidin, hehehe,” katanya.
Saat pertama kali berhaji, Buya—begitu dia biasa disapa—atas undangan Raja Arab Saudi. “Itu terjadi lima tahun yang lalu. Dan buat saya ini adalah pengalaman yang tak terlupakan, meski berikutnya saya sudah beberapa kali melaksanakan ibadah haji dalam rangka tugas,” urainya.
Pengalaman yang tak terlupakan itu menjadi cambuk baginya bahwa tidak boleh takabur di Tanah Suci. “Jadi saat itu saya malam umrah dulu. Setelah umrah, bertemu dengan seorang pensiunan Polri. Usai umrah, saya memutar saja tak tahu rimba, sementara teman-teman yang ikut umrah bareng sudah terpisah dengan saya,” ungkapnya.
Dia dan pensiunan itu pulang dengan taksi, namun anehnya tak kunjung bertemu dengan hotelnya. Akhirnya keduanya diturunkan di sebuah tempat yang berlogo merah putih dan diminta menunggu sampai pagi. Setelah fajar menyingsing, ternyata tempat itu dekat sekali dengan hotel tempatnya menginap.
“Begitu diantar, ternyata dekat sekali. Ini pengalaman yang amat berharga buat saya. Saat itu sebelum berangkat umrah, saya sudah membatin, 'Ah, sudah tahu jalan pulang, enggak jauh kok,'” lanjutnya.
Karena itu, kepada para jemaah haji dia menyarankan untuk mencatat dan mengingat dengan jelas tempat pemondokan atau hotelnya masing-masing. “Pengalaman saya ini bisa jadi pelajaran. Meski kita sudah sering ke Tanah Suci dan sudah hafal seluk-beluk Makkah dan Madinah serta tempat-tempat yang kerap menjadi tempat melaksanakan ibadah, tetap tak boleh takabur. Selalu rendah hati, berserah diri kepada Allah, dan mematuhi saran pembimbing adalah jalan terbaik,” sarannya.
Banyak Minum Air Putih
Karena cuaca di Tanah Suci terbilang panas ekstrem, ia menyarankan untuk jangan kurang minum air putih. “Ini penting, karena saat cuaca panas, kita berkeringat. Keringat yang bercucuran itu harus diganti segera dengan minum air putih. Kalau kita telat, bisa terjadi dehidrasi atau kekurangan cairan. Kalau sudah dehidrasi, dampaknya bisa fatal,” tegasnya.
Menurut Buya, lebih baik mencegah daripada mengobati. “Jadi lebih baik dihindari dehidrasinya dengan banyak minum air putih sebelum dehidrasi terjadi,” lanjutnya.
Yang juga tak kalahpentingnya saat di tanah suci kata Sekjen MUI Amirsyah Tambunan adalah menjaga asupan makanan dengan gizi yang seimbang. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Dan yang tak kalah pentingnya, saran dia, tak perlu keluar hotel saat panas terik. Kalau memang terpaksa, gunakan payung atau tutup kepala lainnya dan seperlunya saja. Setelah selesai, kembali lagi ke tempat pemondokan.
Meski secara fisik kuat karena masih usia muda, tetap tidak perlu merasa hebat. “Tetap rendah hati itu yang lebih baik,” tukasnya.
Yang tak kalah pentingnya, kata Buya, adalah mengonsumsi makanan yang bergizi. “Ini penting sekali untuk mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang. Karena banyak aktivitas yang menuntut fisik prima harus ditopang dengan asupan makanan yang cukup gizi. Kalau dirasa perlu, bisa ditambahkan pula suplemen,” urainya.
Karena waktu tunggu ibadah haji amat panjang, umrah—atau disebut juga sebagai haji kecil—bisa menjadi solusi untuk mereka yang ingin ke Tanah Suci. “Kalau ada waktu dan kesempatan, berangkatlah umrah dulu. Umrah itu praktiknya sama dengan haji, bedanya dalam ibadah umrah tidak ada wukuf di Arafah,” punkas Amirsyah Tambunan.
"Saya mengimbau kepada masyarakat Indonesia, pertama kalau tak punya tempat baiknya penyembelihan di RPH. Kedua kalau punya lahan yang cukup boleh, tapi soal kebersihan dan higienitas daging harus diperhatikan,"