Partai Baru Besutan Amien Rais Harusnya Cari Sosok Baru

JAKARTA - Langkah Amien Rais untuk membentuk partai baru tampaknya begitu serius. Hal ini, didukung pernyataan salah satu pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Muhammad Yunus. Kata dia, pihaknya sudah mempersiapkan infrastruktur partai dan publik pun tampaknya menunggu.

Selain itu, partai yang masih belum diketahui nama dan tanggal peluncurannya ini diklaim mencuri perhatian banyak tokoh nasional. Sebab, menurut Yunus, saat ini sejumlah tokoh telah membuka komunikasi dengan Amien Rais terkait partai ini. Namun, saat ditanya tokoh yang akan bergabung, Yunus justru irit bicara.

"Saya belum bisa berkomentar soal nama tokohnya, karena (para tokoh) komunikasinya langsung dengan Pak Amien Rais," kata Yunus saat dihubungi oleh VOI, Senin, 11 Mei.

Adapun alasan pembentukan partai ini adalah sebagai upaya mengoreksi langkah PAN di bawah kepemimpinan Zulkifli Hasan. Nantinya, para kader PAN yang menjadi loyalis Amien Rais akan berpindah ke partai tersebut.

Selain itu, anak Amien Rais yang baru keluar dari kepengurusan PAN yaitu Hanafi Rais juga akan bergabung dalam partai ini.

Meski sejumlah persiapan sudah dilaksanakan oleh Amien Rais dan kubunya untuk membangun partai baru ini, namun menurut pengamat politik LIPI, Aisah Putri Budiarti atau yang biasa dipanggil Puput menilai, partai baru ini tak boleh hanya mengandalkan sosok Amien Rais.

Amien Rais, kata Puput, sudah tidak lagi menjadi figur yang seperti dahulu. Sehingga partai ini butuh nama lain untuk menjadi sosok baru sebagai simbol partai. Apalagi, di era pemilihan langsung seperti sekarang, kultur masyarakat cenderung memilih partainya berdasarkan tokoh politik.

"Sosok Amien Rais daya tarik politiknya berbeda dengan masa lalu. Dimana di awal reformasi, menjadi puncak politik bagi dia yang terkenal sebagai tokoh reformasi. Tapi saya duga, saat ini figur Amien tidak sekuat dulu," jelas Puput dalam pesan singkat.

Selain tokoh nasional sebagai simbol partai, partai baru ini juga harus punya tokoh nasional di tingkat daerah sebagai senjata mereka menembus pemilihan legislatif di tahun 2024 mendatang. "Partai baru juga butuh tokoh-tokoh penting yang menarik massa di tingkat lokal karena basis keterpilihan Pileg adalah daerah," ungkapnya.

Tak cukup tokoh, kata Puput, gagasan baru juga harus disiapkan oleh partai ini demi menarik perhatian publik. Mengingat, di tahun 2024 mendatang kompetisi antar partai akan makin tajam. Sebab, di tahun tersebut tak ada tokoh calon presiden yang kuat maupun petahana.

"Mayoritas partai saat ini adalah koalisi pemerintah. Maka publik menantikan ide cemerlang dan gebrakan partai dalam pemilu mendatang," katanya.

Tak hanya soal tokoh, partai ini juga harus memiliki kemampuan finansial yang sangata besar sebagai modal awal. Bukan hanya untuk mendirikan struktur partai di berbagai wilayah tapi juga untuk berkampanye dan mempromosikan diri mereka dalam jangka panjang, sejak partai ini resmi diumumkan.

Bagaimana dengan Hanafi Rais?

Pengamat politik dari LIPI ini mengatakan, bukan rahasia umum jika putra Amien, Hanafi Rais digadang-gadang menjadi suksesor ayahnya dalam perpolitikan. Meski terkenal di Yogyakarta karena pernah mencalonkan diri sebagai calon Wali Kota pada 2011 lalu dan daerah pemilihannya, namun, bagi Puput hal itu dianggap belum cukup untuk menggebrak kancah politik nasional.

"Saya rasa publik secara umum di tingkat nasional belum terlalu mengenal kiprah Hanafi," kata dia.

Bahkan jika dibandingkan dengan politikus muda pewaris tahta orang tua seperti Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ketua DPR RI Puan Maharani, figur Hanafi sangat lemah.

Sebab, berbeda dengan AHY dan Puan, Hanafi hanya sesekali muncul di ruang publik. Sementara AHY selain kini menjabat sebagai ketua umum, dirinya pernah maju berkontestasi menjadi calon Gubernur DKI Jakarta.

Sedangkan Puan, selain pernah menjadi Menteri di Kabinet Kerja periode pertama pemerintahan Jokowi, dia juga punya jabatan penting di internal PDI Perjuangan.

"Tetapi tidak demikian dengan PAN dan Hanafi Rais. Terbukti dari kekalahan pada kongres terakhir lalu," ungkap dia.

Sehingga, bagi Puput, jika partai baru ini ingin merangsek ke kancah politik nasional di Pemilu 2024 mendatang maka sudah menjadi keharusan untuk mencari figur kuat selain Amien Rais dan Hanafi Rais.

"Ketokohan Hanafi Rais masih harus diasah lagi untuk dijadikan ketokohan nasional sebuah partai apalagi sebuah partai baru yang masih dirintis," ujar Puput.

Tak bisa lagi andalkan Muhammadiyah

Jika sebelumnya ada anggapan jika Amien Rais bisa mengandalkan warga Muhammadiyah untuk memajukan partai barunya, Puput justru menilai sebaliknya.

Sejak dulu, kata dia, Muhammadiyah dan PAN memang dekat relasinya. Namun, Puput ragu jika organisasi keagamaan itu akan mengikuti langkah Amien Rais.

Mengingat, selama beberapa tahun belakangan ini dia melihat relasi antara Muhammadiyah dan Amien tak sekuat seperti dahulu saat politikus ini membentuk PAN.

"Dinamika yang berkembang pada llima tahun terakhir memperlihatkan relasi Muhammadiyah dan Amien tak sepenuhnya kuat seperti dahulu saat Amien membentuk PAN," jelas dia.

Sehingga, agar partai baru ini makin kuat, Amien Rais dan loyalisnya harus menentukan di mana kekuatan dan akar konstutien partainya tersebut.

Puput juga menilai, partai ini akan mendapat tantangan untuk memenuhi parliament threesold pada pemilu mendatang. Mengingat ambang batas ini biasanya akan naik secara perlahan.

Apalagi, ambang batas ini biasanya menjadi cara atau strategi dari partai lama untuk menekan partai-partai baru yang bermunculan. Sehingga, segala dinamika berkaitan pemilu bisa jadi faktor yang menentukan bagi partai baru ini.

"Dinamika sistem pemilu juga akan menjadi faktor yang berpengaruh menentukan kemampuan partai baru Amien Rais bertahan," tutupnya.