Koalisi PDIP-Gerindra Pupus Gara-gara Perjanjian Batu Tulis Berakhir? Belum Tentu

JAKARTA - Perjanjian Batu Tulis yang membayangi PDIP dan Gerindra kembali diungkit saat isu kedua partai ini dikabarkan rujuk. Sejumlah pihak menganggap isi perjanjian yang salah satunya mengusung Prabowo Subianto di Pilpres 2014 bakal diwujudkan di 2024.

Tapi, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan perjanjian Batu Tulis yang dibuat Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto sudah berakhir pada Pemilu 2009.

Lalu, apakah pernyataan Hasto soal pupusnya perjanjian Batu Tulis menutup peluang bagi Megawati dan Prabowo untuk rujuk kembali di 2024? Ternyata belum tentu.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga menilai PDIP dan Gerindra masih bisa berkoalisi. Terlebih, PDIP sudah menyatakan pihaknya nyaman berkoalisi dengan Gerindra.

"Peluang PDIP dan Gerindra untuk berkoalisi pada pilpres 2024 masih sangat terbuka. Kemungkinan itu juga datang dari Hasto yang menyatakan PDIP nyaman berkoalisi dengan Gerindra, PKB, PAN, dan PPP. Hasto hanya menegaskan, PDIP tidak bisa berkoalisi dengan Partai Demokrat dan PKS yang berbeda ideologi," kata Jamiludin kepada VOI, Sabtu, 29 Mei.

Jika berkoalisi, siapa capres-cawapres yang bakal diusung? Jamiludin melihat calonnya masih buram, namun sudah ada nama yang terlihat dalam radar, yakni Puan Maharani dan Ganjar Pranowo dari PDIP, serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dari Gerindra.

Kalau dilihat dari logika politik, seharusnya capresnya PDIP dan cawapresnya dari Gerindra. Logika itu didasari dari perolehan suara pada pileg 2019, di mana PDIP memperoleh suara paling banyak.

Selain itu, Hasto juga sudah memberi sinyal bahwa PDIP akan mengusung capres, bukan cawapres. "Sinyal ini jelas, peluang calon PDIP menjadi cawapres menjadi kecil," ujar dia.

Tapi, menurut Jamiludin, elektabilitas Prabowo yang cukup moncer di sejumlah lembaga survei sulit untuk dijadikan cawapres. Apalagi kalau dipasangkan dengan capresnya Puan Maharani yang elektabilitasnya saat ini sangat rendah.

"Jadi, kalau Prabowo yang diusung Gerindra sebagai capres dan PDIP juga menghendaki posisi yang sama, maka sulit bagi kedua partai untuk berkoalisi. Kedua partai akan berpisah dan mencari partai lain untuk berkoalisi," ungkapnya.

Hanya saja, masih ada alternatif bagi PDIP dan Gerindra berpasangan dalam Pilpres 2024. Asalkan, Megawati dan Prabowo legowo untuk mengganti calon masing-masing, yakni Ganjar dan Sandiaga.

"Pasangan Puan-Sandiaga atau sebaliknya memang dapat diduetkan. Hanya saja pasangan ini berpeluang menang pada pilpres 2024 sangat kecil. Penyebabnya faktor Puan yang memang kurang memiliki nilai jual," tutur Jamiludin.

"Pasangan Ganjar-Sandiaga atau sebaliknya tampaknya lebih menjanjikan. Masing-masing individu memiliki elektabilitas yang baik. Keduanya punya nilai jual yang bagus untuk dipasarkan, sehingga peluang menang masih terbuka," tambahnya.