AS Sita Kapal Tanker Minyak Venezuela, Trump Memantik Tensi Tinggi Perselisihan dengan Maduro
JAKARTA - Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat menyita kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela seiring meningkatnya ketegangan dengan pemerintah Presiden Nicolás Maduro.
Penggunaan pasukan AS untuk mengambil alih kapal dagang sangat tidak biasa dan menandai upaya terbaru pemerintahan Trump untuk meningkatkan tekanan pada Maduro, yang didakwa dengan sangkaan terorisme narkoba di Amerika Serikat.
AS membangun kehadiran militer terbesar di kawasan itu dalam beberapa dekade dan melancarkan serangkaian serangan mematikan terhadap kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur.
“Kami baru saja menyita sebuah kapal tanker di lepas pantai Venezuela, sebuah kapal tanker besar, sangat besar, yang terbesar yang pernah disita,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih dilansir Associated Press, Kamis, 11 Desember.
“Itu disita karena alasan yang sangat baik,” imbuhnya.
Trump tidak memberikan detail tambahan. Ketika ditanya apa yang akan terjadi pada minyak di atas kapal tanker, Trump berkata, “Yah, kita akan menyimpannya, kurasa.”
Penyitaan tanker minyak dipimpin oleh Penjaga Pantai AS dan didukung oleh Angkatan Laut, menurut seorang pejabat AS yang tidak berwenang untuk berkomentar secara terbuka dan berbicara dengan syarat anonim.
Baca juga:
Dilaporkan, para anggota Penjaga Pantai dibawa ke kapal tanker minyak dengan helikopter dari kapal induk USS Gerald R. Ford, kata pejabat itu.
Ford berada di Laut Karibia setelah tiba bulan lalu dalam demonstrasi kekuatan besar, bergabung dengan armada kapal perang lainnya.
Video yang diunggah ke media sosial oleh Jaksa Agung Pam Bondi menunjukkan orang-orang turun menggunakan tali dari salah satu helikopter yang terlibat dalam operasi tersebut saat helikopter itu melayang hanya beberapa kaki dari dek.
Bondi menulis “selama bertahun-tahun, kapal tanker minyak tersebut telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat karena keterlibatannya dalam jaringan pengiriman minyak ilegal yang mendukung organisasi teroris asing.”