Bagikan:

JAKARTA - PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) memastikan aset minyak dan gas kelolaannnya di Venezuela dalam keadaan aman dan tidak terdampak invasi Amerika Serikat.

Asal tahu saja, Pertamina merupakan pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan sebesar 71,09 persen pada Maurel & Prom (M&P). Salah satu aset yang dikelola oleh M&P berada di Venezuela.

Manager Relation PIEP Dhaneswari Retnowardhani mengatakan, sehubungan dengan perkembangan situasi terkini, berdasarkan pemantauan yang dilakukan, hingga saat ini tidak terdapat dampak terhadap aset dan staf M&P di Venezuela.

"PIEP terus melakukan pemantauan secara cermat terhadap dinamika situasi yang berkembang," ujarnya dalam keterangan kepada media, Senin, 5 Januari.

Ia juga memastikan pihaknya menjalin koordinasi yang berkelanjutan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas.

“Sebagai bagian dari langkah kehati-hatian dan komitmen perusahaan dalam memastikan keselamatan serta keberlangsungan operasional,” sambung Dhaneswari.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu mengumumkan AS telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, telah ditangkap dan dibawa ke luar negeri.

Presiden Maduro dikenai tuduhan penyelundupan kokain ke AS dan sejumlah kejahatan lainnya, dalam dakwaan yang diluncurkan oleh jaksa federal di Southern District, New York.

Sementara itu gangguan serius terjadi pada ekspor minyak Venezuela menyusul operasi militer Amerika Serikat di negara tersebut, menyebabkan aktivitas pengiriman minyak mentah nyaris terhenti.

Blokade kapal tanker yang dikenai sanksi oleh pemerintah AS membuat jadwal pengiriman terhambat, sehingga perusahaan minyak Venezuela menghadapi ketidakpastian operasional yang besar dan potensi penurunan produksi.

Menurut laporan Reuters, mengutip empat sumber yang tidak bersedia disebutkan namanya, ekspor minyak Venezuela lumpuh karena para kapten pelabuhan belum menerima izin keberangkatan bagi kapal-kapal bermuatan.

Sejumlah kapal pengangkut minyak mentah yang semula dijadwalkan berlayar ke Amerika Serikat dan Asia, kini tertahan di pelabuhan, menurut data yang dikutip dari layanan pelacakan kapal TankerTrackers.

Beberapa kapal lain meninggalkan pelabuhan dalam keadaan kosong, dan secara khusus, tidak ada kapal tanker yang memuat muatan di pelabuhan minyak utama negara itu di Jose pada Sabtu.

Reuters menambahkan, penghentian ekspor ini bisa memaksa Venezuela untuk mengurangi produksi minyak lebih lanjut. Sebelumnya, Wall Street Journal melaporkan, berdasarkan data pelacakan kapal dan pialang maritim, bahwa sebuah kapal tanker yang menuju Venezuela untuk mengangkut minyak telah mengubah haluannya dan kini menuju Nigeria. Empat kapal lainnya dilaporkan berhenti berlayar setelah serangan AS.