5 Cara Mudah Mendeteksi Kebohongan Lawan Bicara

JAKARTA - Kalau Anda bilang tidak pernah berbohong, itu sudah termasuk kebohongan besar. Faktanya, penelitian menunjukkan manusia sering kali berbohong tanpa sadar. Sebuah studi menemukan orang Amerika rata-rata menyampaikan sekitar 11 kebohongan per minggu.

Riset lain yang diterbitkan di Journal of Basic and Applied Social Psychology menyebutkan 60 persen orang tidak bisa bertahan lebih dari 10 menit tanpa berbohong sekali. Biasanya melontarkan hingga tiga kebohongan dalam percakapan singkat.

Leslie Martin, PhD, dari Wake Forest University meneliti lebih dari 100 mahasiswa psikologi yang sedang atau pernah menjalani terapi. Dari mereka yang mengaku berbohong, 37 persen mengatakan alasannya untuk melindungi diri terutama menghindari rasa malu, emosi yang menyakitkan atau penilaian orang lain.

Contoh paling sederhana, bilang sakit perut agar bisa bolos kerja atau sekolah. Bisa juga menyalahkan kereta padahal sebenarnya bangun kesiangan. Ada juga kebohongan kecil yang dianggap 'baik hati', seperti pura-pura suka hadiah nenek atau memuji pasangan agar merasa percaya diri.

Namun masalahnya, kebohongan kecil bisa menjadi kebiasaan. Riset di Nature Neuroscience menunjukkan semakin sering orang berbohong, otak makin terbiasa dan rasa bersalah berkurang.

Akibatnya kebohongan berikutnya bisa lebih besar. Secara naluri, manusia punya kemampuan mendeteksi kebohongan.

"Meskipun manusia tidak bisa secara sadar membedakan pembohong dan orang jujur, mereka memiliki firasat di tingkat bawah sadar ketika seseorang berbohong," bunyi pernyataan dari studi di Psychological Science, dikutip dari NBC News.

Menurut pakar perilaku dan interogator profesional, kuncinya bukan mendengarkan kata-kata, melainkan memperhatikan bahasa tubuh. Berikut 5 cara mengenali seseorang sedang berbohong.

1. Memahami Perilakunya

Setiap orang punya kebiasaan unik saat berinteraksi. Ada yang jarang menatap mata, namun ada juga yang selalu menatap tajam lawan bicara. Maka cara terbaik untuk mendeteksi kebohongan adalah dengan memahami perilakunya.

"Anda bisa mengamati seseorang ketika tidak berada di bawah tekanan. Perubahan dari perilakunya inilah yang perlu diperhatikan," ujar Roger Strecker Sr, pakar analisis perilaku dengan pengalaman lebih dari 30 tahun.

Artinya jika seseorang biasanya rileks tapi tiba-tiba gelisah saat ditanya hal tertentu, itu bisa menjadi sinyal ada yang disembunyikan.

2. Amati Gerakan Mata

Mitos populer mengatakan pembohong selalu menghindari kontak mata. Namun penelitian membantah hal ini. Menurut Strecker, yang perlu diperhatikan bukan apakah seseorang menatap atau tidak, melainkan perubahan dari kebiasaan normal mereka.

"Kalau sejak awal percakapan kontak mata stabil lalu tiba-tiba berubah saat muncul pertanyaan sensitif, itu patut dicatat sebagai respon yang mungkin bersifat menipu," ujarnya.

Selain arah pandangan, frekuensi berkedip dan perubahan ukuran pupil juga bisa memberi petunjuk adanya stres atau ketidakjujuran.

3. Perhatikan Raut Wajah

Wajah seringkali menjadi pengkhianat terbaik. Penelitian dari Stephen Porter di Dalhousie University menunjukkan bahwa saat seseorang berbohong, emosi asli bisa bocor sesaat dalam bentuk raut wajah.

"Ada otot di wajah yang tidak bisa dikendalikan. Otot ini hanya aktif ketika emosi benar-benar muncul, dan tidak akan bergerak jika emosi itu palsu," beber Leanne ten Brinke, peneliti psikologi.

Misalnya seseorang yang berpura-pura tenang mungkin secara tak sadar menunjukkan kilasan marah atau takut di wajahnya.

4. Waspadai Senyum Palsu

Senyum bisa jadi petunjuk penting. Psikolog Bella DePaulo menemukan pembohong cenderung menunjukkan senyum yang kaku, hanya melibatkan bibir tanpa melibatkan mata.

"Orang yang jujur tersenyum dengan seluruh wajahnya. Kerutan di sudut mata yang disebut crow’s feet, biasanya menjadi tanda keaslian," ucap Wendy L. Patrick, PhD, seorang jaksa dan pakar perilaku.

Jika mata dan mulut tidak selaras, misalnya mulut tersenyum tapi mata tampak tegang atau dingin, itu bisa menjadi sinyal kebohongan.

5. Amati Tanda Stres

Kebohongan sering memicu reaksi fisik.

"Ketika otak berada di bawah tekanan, suhu meningkat dan bisa tampak sebagai keringat di dahi atau bibir atas. Menyentuh wajah adalah cara otak menenangkan diri." jelas Strecker.

Tanda lain termasuk perubahan pola berkedip, menelan lebih sering, mengusap wajah, gelisah dengan tangan atau kaki hingga perubahan napas.