Bagikan:

YOGYAKARTA – Di kehidupan sehari-hari, bukan tidak mungkin Anda pernah merasa ada yang “aneh” dengan cara seseorang bicara. Seperti terlalu meyakinkan, defensif, atau sering mengubah cerita. Seringkali kita hanya mengandalkan perasaan bahwa sesuatu tidak benar. Padahal, ada pola-pola verbal tertentu yang bisa menjadi petunjuk bahwa orang tersebut mungkin berbohong. Dengan memperhatikan frasa dan cara bicara, Anda bisa lebih jeli menangkap sinyal kebohongan. Berikut tanda verbal yang patut Anda perhatikan.

1. Mengucapkan pernyataan yang terlalu meyakinkan

Orang yang berbohong kadang merasa perlu menegaskan kebenaran ucapannya dengan kuat agar Anda percaya. Ia mungkin mengucapkan “Saya bersumpah”, “Percayalah”, atau “Demi Tuhan, aku tidak bohong”. Padahal, orang yang benar-benar jujur biasanya tidak merasa perlu bersumpah keras seperti itu. Mereka cukup mengatakan apa adanya.

Ketika seseorang terus-menerus menggunakan pernyataan meyakinkan semacam itu, bisa jadi ia sedang berusaha menutupi sesuatu. Waspadai jika frasa ini muncul berulang setiap kali Anda mempertanyakan sesuatu.

2. Memakai frasa netral atau umum

Alih-alih memberikan jawaban jujur dan lugas, pembohong sering menggunakan ungkapan samar seperti “Aku nggak ingat”, “Sejauh yang aku tahu”, atau “Kalau nggak salah”. Dengan cara ini, mereka menghindari detail yang bisa dibuktikan atau diverifikasi. Mengingat bahwa orang jujur lebih mudah mengingat apa yang terjadi, penggunaan frasa samar secara konsisten bisa jadi alarm. Terutama ketika topik pembicaraan cukup penting dan Anda menduga ada kejanggalan.

tanda verbal orang berbohong
Ilustrasi tanda verbal orang berbohong yang perlu diperhatikan secara jeli (Freepik/mego-studio)

3. Pernyataan dengan kalimat absolut

Pembohong terkadang sengaja memakai kalimat absolut seperti “Aku tidak akan pernah melakukan itu” atau “Aku selalu memperlakukanmu dengan baik”. Kata-kata semacam ini tampak meyakinkan, tetapi seringkali terlalu umum sehingga sulit dibuktikan. Melansir Forensics Colleges, Rabu, 26 November, hal ini memungkinkan mereka menghindari detail spesifik yang bisa membuat mereka terpojok. Jika Anda mendengar klaim besar seperti ini tanpa bukti konkret, berhati-hatilah.

4. Terlalu banyak penjelasan

Saat seseorang berbohong, terkadang ia menambahkan terlalu banyak detail untuk membuat ceritanya terdengar masuk akal. Alih-alih menjawab singkat dan jujur, mereka “mengarang” penjelasan yang berlebihan agar Anda percaya. Orang yang benar-benar jujur biasanya bisa memberi jawaban jelas tanpa perlu membumbui cerita. Jika Anda merasa cerita terkesan dilebih-lebihkan atau terlalu detail padahal tidak perlu, itu bisa jadi tanda kebohongan.

5. Menghindari kalimat dengan “Aku/Saya”

Pembohong kadang mengurangi penggunaan kata ganti diri seperti “aku”, “saya”, “milik saya”, untuk menjauhkan diri dari tanggung jawab. Misalnya mengganti “aku melakukan itu” menjadi “itu dilakukan”. Gaya bicara formal atau distansi semacam ini bisa jadi bentuk strategi supaya kebohongan terasa lebih netral atau tidak menyinggung. Jika Anda merasa lawan bicara tiba-tiba berbicara terlalu “formal” atau kaku ketika menjelaskan sesuatu, patut dicurigai.

tanda verbal orang berbohong
Ilustrasi tanda verbal orang berbohong yang perlu diperhatikan secara jeli (Freepik/mego-studio)

6. Penekanan berlebihan pada kejujuran

Kalimat pembuka seperti “Sejujurnya…”, “Percayalah…”, atau “Demi kejujuran…” sering dipakai pembohong agar ucapannya terdengar meyakinkan. Ironisnya, semakin sering seseorang menekankan betapa “jujur”-nya ia, semakin besar kemungkinan ada yang disembunyikan. Orang jujur tidak perlu menekankan kejujuran mereka. Mereka cukup berkata jujur dan apa adanya. Jika Anda sering mendengar frasa macam ini sebagai pembuka, waspadalah.

7. Mengubah menyalahkan pendengar

Saat pembohong mulai merasa terpojok atau dihadapkan pada kontradiksi, mereka bisa segera mengganti narasi. Misalnya mengatakan “Kamu salah dengar”, “Kamu mengada-ada”, atau “Itu bukan maksudku begitu”. Dengan cara ini, mereka berusaha membalikkan posisi agar Anda yang merasa ragu terhadap ingatan atau persepsi sendiri. Tanda ini sering muncul ketika Anda mempertanyakan detail cerita mereka. Jadi, jika Anda merasa “dipersalahkan” hanya karena mempertanyakan sesuatu, hati-hati.

Menggunakan kepekaan terhadap bahasa dan frasa ketika berkomunikasi bisa membantu Anda mendeteksi kebohongan yang tersembunyi. Namun, penting diingat bahwa tidak semua orang yang memakai tanda-tanda di atas pasti berbohong. Bisa jadi frasa tertentu diucapkan karena gugup, cemas, atau lupa. Maka dari itu, jadikan tanda-tanda ini sebagai alarm awal. Namun harus mempertimbangkan konteks, sikap, dan konsistensi cerita sebelum mengambil kesimpulan.