PM Hungaria Orban Sebut Rusia Telah Memenangkan Perang di Ukraina
JAKARTA - Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban pada Hari Selasa mengatakan Rusia telah memenangkan perang di Ukraina, jelang pertemuan puncak Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska Jumat pekan ini.
"Kita berbicara sekarang seolah-olah ini adalah situasi perang tanpa akhir, tetapi kenyataannya tidak. Ukraina telah kalah perang. Rusia telah memenangkan perang ini," kata Orban kepada kanal YouTube 'Patriot', melansir Reuters 13 Agustus.
"Satu-satunya pertanyaan adalah kapan dan dalam keadaan apa Barat, yang berada di belakang Ukraina, akan mengakui bahwa ini telah terjadi dan apa akibat dari semua ini," tandasnya.
PM Orban, yang telah mempertahankan hubungan dekat dengan Putin bahkan setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, menjadi satu-satunya pemimpin Uni Eropa pada Hari Senin yang tidak mendukung pernyataan bersama yang menyatakan Ukraina harus memiliki kebebasan untuk menentukan masa depannya.
Hungaria, yang sebagian besar energinya berasal dari Rusia, diketahui menolak mengirim senjata ke Ukraina.
PM Orban juga menentang keras keanggotaan Ukraina di Uni Eropa, dengan mengatakan hal itu akan mendatangkan malapetaka bagi para petani Hungaria dan perekonomian secara keseluruhan.
Ia mengatakan Eropa telah melewatkan kesempatan untuk bernegosiasi dengan Presiden Putin di bawah pemerintahan mantan Presiden AS Joe Biden dan kini berisiko masa depannya diputuskan tanpa keterlibatannya.
Baca juga:
- Presiden Zelensky Tegaskan Ukraina Tidak akan Menarik Pasukannya dari Donbas
- KBRI Phnom Penh Fasilitasi Pemulangan Ratusan WNI Terkait Online Scam, Dubes Santo Ingatkan Jangan Diulangi
- Uni Eropa dan 26 Negara Sebut Penderitaan di Gaza Capai Tingkat Tidak Terbayangkan
- Iran Bersedia Merundingkan Pembatasan Program Nuklir Asal Ada Pencabutan Sanksi
"Jika Anda tidak berada di meja perundingan, Anda akan menjadi sasaran," kata PM Orban, menambahkan Ia sebagian menentang pernyataan bersama Uni Eropa tentang Ukraina karena membuat Eropa terlihat "konyol dan menyedihkan."
"Ketika dua pemimpin duduk untuk bernegosiasi satu sama lain, Amerika dan Rusia, sementara Anda tidak diundang, Anda tidak akan terburu-buru mengangkat telepon, Anda tidak akan berlarian, Anda tidak akan berteriak dari luar," tandasnya.
Berkuasa sejak 2010, PM Orban telah dikritik oleh beberapa pemimpin Eropa atas hubungan pemerintahannya dengan Rusia dan penolakannya terhadap bantuan militer untuk Ukraina.