Bagikan:

JAKARTA - Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza telah mencapai "tingkat yang tak terbayangkan", menurut pernyataan bersama yang ditandatangani menteri luar negeri dari 26 negara, meliputi Inggris, Kanada, Australia serta Uni Eropa pada Hari Selasa, mendesak Israel untuk mengizinkan bantuan tanpa batas ke wilayah Palestina yang dilanda perang tersebut.

Pernyataan bersama ini datang saat krisis kemanusiaan di wilayah kantong Palestina itu semakin dalam, korban tewas akibat serangan Israel dan kelaparan terus bertambah, sementara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berencana melancarkan serangan terbaru untuk menguasai Gaza.

"Kelaparan sedang terjadi di depan mata kita. Tindakan mendesak diperlukan sekarang untuk menghentikan dan memulihkan kelaparan," bunyi pernyataan bersama itu, melansir Reuters 13 Agustus.

"Kami menyerukan kepada Pemerintah Israel untuk memberikan otorisasi bagi semua pengiriman bantuan LSM (lembaga swadaya masyarakat) internasional dan untuk membuka blokir bagi para pelaku kemanusiaan penting agar dapat beroperasi," lanjut pernyataan tersebut.

"Semua penyeberangan dan rute harus digunakan untuk memungkinkan masuknya bantuan ke Gaza, termasuk makanan, pasokan nutrisi, tempat berlindung, bahan bakar, air bersih, obat-obatan, dan peralatan medis," seru pernyataan bersama itu.

Israel membantah bertanggung jawab atas meluasnya kelaparan di Gaza, menuduh militan Hamas mencuri kiriman bantuan, yang dibantah Hamas.

Namun, menanggapi meningkatnya kegaduhan internasional, Israel akhir bulan lalu mengumumkan langkah-langkah untuk mengizinkan lebih banyak bantuan masuk ke wilayah kantong tersebut, termasuk menghentikan pertempuran selama sebagian hari di beberapa wilayah dan mengumumkan rute yang dilindungi untuk konvoi bantuan.

Namun, negara-negara Barat menyatakan bahwa bantuan yang jauh lebih banyak dibutuhkan dan beberapa negara telah memulai pengiriman bantuan melalui udara melalui Gaza.

Pernyataan tersebut ditandatangani oleh para menteri luar negeri Australia, Belgia, Kanada, Siprus, Denmark, Estonia, Finlandia, Prancis, Yunani, Islandia, Irlandia, Jepang, Lituania, Luksemburg, Malta, Belanda, Norwegia, Portugal, Slowakia, Slovenia, Spanyol, Swedia, Swiss dan Inggris.

Uni Eropa kemudian pada Hari Selasa mengirimkan pernyataan terbaru yang menyertakan negara-negara anggota Uni Eropa, Italia dan Latvia, sebagai penandatangan pernyataan tersebut.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas, Komisioner Uni Eropa untuk Mediterania dan Komisioner Uni Eropa untuk Kesetaraan, Kesiapsiagaan dan Manajemen Krisis juga menandatangani pernyataan tersebut.

Pernyataan bersama itu juga berterima kasih kepada Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir atas "upaya mereka dalam mendorong gencatan senjata dan mewujudkan perdamaian," dikutip dari WAFA.

Terpisah, korban tewas akibat agresi Israel sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 61.599 orang menurut Kementerian Kesehatan pada Hari Selasa, seperti melansir Anadolu, sementara korban luka-luka bertambah menjadi 154.088 orang.

Jumlah itu termasuk 1.838 orang yang tewas dan 13.409 lainnya luka-luka saat mencoba memperoleh bantuan kemanusiaan sejak 27 Mei.

Laporan kementerian juga menyebutkan korban tewas akibat kelaparan dan malnutrisi telah mencapai 227 orang, termasuk 103 di antaranya anak-anak.