Presiden Zelensky Kritik Pembelaan Rusia Terhadap Iran
JAKARTA - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pada Hari Kamis, pembelaan Rusia terhadap otoritas Iran menggarisbawahi perlunya sanksi perlunya sanksi yang lebih ketat terhadap Moskow.
Presiden Zelensky mengatakan, pengerahan pesawat nirawak Shahed rancangan Iran dan amunisi Korea Utara oleh Rusia merupakan bukti, sekutu Kyiv tidak memberikan tekanan yang cukup terhadap Moskow.
"Sekarang Rusia berusaha menyelamatkan program nuklir Iran. Tidak ada penjelasan lain yang mungkin untuk sinyal publik mereka dan aktivitas non-publik mereka dalam hal ini," kata Presiden Zelensky dalam pidato video malam hari, melansir Reuters 20 Juni.
"Ketika salah satu kaki tangan mereka kehilangan kemampuan untuk mengekspor perang, Rusia menjadi lemah dan mencoba untuk ikut campur. Ini sangat sinis dan membuktikan berkali-kali bahwa rezim yang agresif tidak dapat dibiarkan bersatu dan menjadi mitra," tandasnya.
Ketika Rusia mengerahkan persenjataan dari Teheran dan Pyongyang, katanya, "itu adalah tanda yang jelas bahwa solidaritas global dan tekanan global tidak cukup kuat."
Rusia menandatangani kemitraan strategis dengan Iran tahun ini. Moskow mengecam serangan Israel terhadap Iran dan menawarkan diri untuk menjadi penengah. Seorang wakil menteri luar negeri Rusia mengatakan, Moskow mendesak Washington untuk menahan diri dari keterlibatan langsung.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengatakan konflik antara Israel dan Iran telah mengungkap kemunafikan Rusia, dengan Moskow membela program nuklir Iran dan mengutuk serangan terhadap Teheran, sementara "tanpa ampun" menyerang Ukraina.
"Satu-satunya kesimpulan rasional adalah Rusia tidak dapat dipercaya dalam situasi apa pun, dan Rusia selalu menjadi bagian dari masalah daripada solusi," tulis Menlu Sybiha dalam bahasa Inggris di X.
Presiden Zelensky diketahui menuduh Rusia menolak pendekatan diplomatik dan menolak gencatan senjata tanpa syarat dalam perang, yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.
Dalam pidatonya, ia mengatakan "sangat mengandalkan" Presiden AS Donald Trump untuk mempertimbangkan sanksi yang lebih keras dan meningkatkan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang.
Baca juga:
Di sisi lain, Presiden Trump sejauh ini telah mengesampingkan seruan untuk mengintensifkan sanksi terhadap Moskow.
Presiden Zelensky juga menyatakan kesediaannya untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, meskipun ia mengatakan pemimpin Kremlin itu telah melampaui batas konstitusional jabatannya.
Komentar itu merujuk pada tuduhan Rusia bahwa Presiden Zelensky tetap menjabat tanpa menyetujui, berdasarkan ketentuan darurat militer di Ukraina, untuk menyelenggarakan pemilihan umum.