Malaysia-Mesir Bersatu Tolak Trump Pindah Paksa Warga Palestina dari Gaza, Indonesia Kapan?
JAKARTA - Malaysia sepakat dengan Mesir menolak tegas segala upaya memaksa warga Palestina keluar dari Gaza. Kedua negara menegaskan rencana pemindahan paksa Amerika Serikat (AS) ini merusak upaya mendirikan negara Palestina yang merdeka.
Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan ketegasannya serupa dengan Mesir saat menelepon Presiden Abdel Fattah El-Sisi pada Jumat 14 Februari. Keduanya juga membahas situasi kemanusiaan terkini dan upaya untuk membangun kembali Gaza.
“Saya menegaskan kembali komitmen Malaysia untuk terus membantu rakyat Palestina, khususnya dalam bentuk bantuan kemanusiaan, dukungan medis, dan rekonstruksi, sambil dengan teguh mendukung perjuangan mereka untuk mendapatkan keadilan," kata Anwar dalam unggahannya di Facebook, dikutip Minggu 16 Februari.
“Saya juga menyampaikan penghargaan saya kepada Presiden El-Sisi dan pemerintah Mesir atas dukungan berkelanjutan mereka dalam memfasilitasi upaya bantuan kemanusiaan dan medis Malaysia bagi warga Palestina yang terkena dampak genosida brutal yang dilakukan oleh rezim Zionis Israel,” sambung Anwar.
Baca juga:
- KPK Yakin Hasto Tak Akan Nekat Lakukan Perbuatan yang Ganggu Penyidikan Kasusnya
- Tim Pramono-Rano Pastikan Tunjangan Keluarga Pahlawan yang Dihapus Pemprov Akibat Efisiensi Dikembalika
- Mensesneg Anggap Wajar Salah Tafsir Efisiensi Anggaran: Ini Kan Baru Pertama Kali Dilakukan
- Warga Lebanon Demo Bakar Ban Buntut 2 Pesawat Iran Dilarang Mendarat di Beirut
Ia mengatakan Presiden Mesir menyambut baik inisiatif bersama Jepang dan Malaysia di bawah Kerjasama Negara-negara Asia Timur untuk Pembangunan Palestina (CEAPAD) untuk mendukung rekonstruksi Gaza.
Anwar menekankan solidaritas global sangat penting dalam membuat upaya bantuan untuk Palestina lebih efektif.
Kedua pemimpin juga membahas hubungan bilateral dan menegaskan kembali komitmen mereka untuk memperkuat kerja sama Malaysia-Mesir di berbagai sektor, termasuk ekonomi, investasi, perdagangan, pendidikan, dan budaya.