Gaung Tanjidor dari Kediaman Tuan Tanah Portugis

JAKARTA - Tanjidor hampir --jika tak ingin disebut telah-- punah. Ia betul-betul telah mencapai senjanya. Padahal, dahulu di zaman Hindia Belanda sampai awal 1950-an, tanjidor adalah hiburan paling populer.

Kemajuan zaman, menjamurnya musik-musik dari barat, hingga tak ada regenerasi jadi penyebab kepunahan tanjidor. Gejala itu telah lama muncul, kritikan yang bahkan diangkat dalam sinetron klasik Si Doel Anak Sekolahan (1994-2006).

Satire soal tanjidor diceritakan dalam salah satu episode saat Doel --tokoh utama yang diperankan Rano Karno-- diminta tolong memperbaiki sebuah trombon oleh tetangga engkongnya. Si pemilik trombon yakin, sebagai sarjana teknik mesin, Doel pasti bisa. Tentu saja ekspektasi itu gagal dipenuhi Doel.

Oleh Doel, kemudian alat musik itu dibawa ke tukang servis. Dengan air muka keheranan, tukang servis bertanya, “Haya, loe tahu dari mana gue bisa servis beginian?”

“Tanya kiri kanan, koh,” ucap si Doel kepada tukang servis.

Oe sudah lama enggak main beginian,” katanya lagi.

Doel kemudian bertanya, “Kenapa?”

“Kalau oe nunggu servis beginian, bisa-bisa keluarga oe enggak bisa makan,” jawab tukang servis yang sejurus kemudian menyanggupi permintaan Doel.

“Eh, tong, emangnya lo pemain tanjidor, ya?” tukang servis.

Emang kenapa kalau saya pemain tanjidor?” balas Doel.

“Enggak apa-apa, oe heran aja masih anak muda kayak lo masih mau main tanjidor,” ucap si tukang servis.

Serial Si Doel Anak Sekolahan memang dikenal sebagai salah satu karya televisi paling nyata, apalagi bagi anak betawi. Diperankan oleh nama-nama besar seperti Benyamin Sueb, Mandra, Aminah Cendrakasih, Maudy Kusnaedi, hingga Cornelia Agatha, Si Doel Anak Sekolahan kerap mengangkat persoalan sosial dan budaya Jakarta, khususnya yang terkait hajat orang betawi.

Melalui salah satu adegan paling ikonik itu orang-orang memahami alasan kenapa tanjidor jarang ditemui hari ini. Dan faktor generasi yang terputus adalah nyata. Padahal, tanjidor adalah musik nan elegan pada masanya. Kala Jakarta masih bernama Batavia, tanjidor hanya bisa didengar di tempat-tempat yang eksklusif dan berkelas.

Sejarah

Dilirik dari asal usulnya, tanjidor sendiri berasal dari bahasa Portugis, yakni “tangedor”, yang artinya "alat-alat musik berdawai". Tanjidor biasanya dimainkan berkelompok. Dan soal eksklusivitas, tanjidor telah jadi barang "mahal sejak kemunculannya di Bumu Pertiwi". Sejarah mengungkap, tanjidor pertama kali dikenal lewat seorang tuan tanah kaya raya bernama Augustijn Michiels pada abad ke-19.

Pria yang akrab disapa Mayor Jantje adalah keturunan langsung dari Jonathan Michiels, seorang mardijkers --budka yang dibebaskan-- yang jadi pemimpin kaum mardijkers di timur laut Batavia. Mayor Jantje yang memiliki julukan Kapitein der Papangers memiliki banyak tanah dan bisnis di beberapa wilayah, termasuk Cileungsi hingga Klapanunggal. Selain itu, ia yang berdarah Eropa-Asia memiliki budak yang mencapai angka fantastis, yaitu 130 orang.

Dikutip dari Djoko Soekiman dalam bukunya yang berjudul Kebudayaan Indis, tercatat pada tahun 1831, jumlah budak Mayor Jantje mencapai 130 orang, di mana 30 di antaranya adalah pemain musik ulung. Bakat-bakat serba bisa itu yang jadi cikal bakal tanjidor.

“Di samping itu, ada empat penari ronggeng, dua pemain gambang, dan dua penari topeng. Bahkan orang China juga melatih budak mereka untuk menjadi artis dalam rombongan sandiwara China yang berkembang pesat pada masa itu. Biasanya, budak-budak yang pandai menari, dan menyanyi dihargai tinggi,” tertulis.

Slaven Concerten atau Slavenorkest yang berarti pemain musik adalah nama yang kerap diasosiasikan pada kelompok musik ini. Nama lainnya, 30 pemusik ini juga kerap disebut Het Muziek Corps der Papangers. Nama ini langgeng selama dua tahun, 1827 hingga 1829, ketika Mayor Jantje naik pangkat jadi kolonel. Aksi para pemusik ini menuai pujian. Permainan mereka terasa mewah.

Djoko Soekiman bahkan menggambarkan kehidupan mewah Mayor Jantje dengan pemusiknya menyetarai kehidupan Sultan Hamengkubuwono di Yogyakarta. “Di Keraton Sultan Hamengku Buwono, di Yogyakarta, terdapat juga abdi dalam yang bertugas memainkan musik barat. Para pemusik ini bertempat tinggal di Kampung Musikanan (sebelah timur Pagelaran). Selain itu, di halaman dalam keraton terdapat bangunan Koepel, khusus untuk tempat bermain musik.”

Djoko Soekiman tak berlebih-lebih. Sebab, di tempat tinggal Mayor Jantje di Wisma Citrap, ia juga menyiapkan sebuah tempat khusus untuk para pemain musik. Gambaran mewahnya gaya hidup Mayor Jantje dalam menikmati pesta di rumahnya dapat dilihat lewat ulasan Mona Lohanda dalam buku Johan Fabricius berjudul Mayor Jantje, Cerita Tuan Tanah Batavia Abad ke-19.

Dalam ulasan itu, Mona menuliskan, para pemusik itu bermain sembari berbaris memutari meja yang diisi tamu-tamu Mayor Jantje. “Para pemusik ini memeriahkan upacara santap dengan musik mereka. Lalu, sesaat menjelang para tamu mengakhiri santapan, para pemain musik dan penari mengelilingi ruang makan dipimpin oleh sang tuan tanah. Demikianlah, pesta itu berlangsung gembira.”

Bagi mereka yang datang bertamu ke rumah Mayor Jantje, keberadaan para pemusik dapat menambah kebahagiaan. Pun bagi Mayor Jantje sendiri. Kehadiran pemusik membuat kehidupan di kediamannya di Wisma Citrap hidup.

Hingga kematian

Kebahagiaan itu terus berlangsung. Musik terus dimainkan, bahkan hingga kisah menyentuh titik meyedihkan tentang kematian Mayor Jantje. Sang Tuan Tanah meninggal pada 27 Januari 1833 di kediamannya yang lain di Semper Idem, Batavia. Setelah kematian itu, para pemusik yang merupakan budak dilelang oleh keturunan Mayor Jantje bersama alat musiknya.

Itu lah titik di mana musik sebagai lambang kejayaan di sekeliling Mayor Jantje hilang. “Mereka mungkin sekali mengutamakan suara musik duniawi yang dapat menguntungkan, yaitu mata uang perak yang gemerincing ketimbang musik warga papang sang Mayor Jantje,” tulis Mona tentang keturunan Mayor Jantje.

Di tahun 1950-an, di luar kediaman Mayor Jantje, seni musik tanjidor kembali ramai menghibur warga. Tanjidor dimainkan dalam perayaan tahun baru atau perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang biasa dirayakan di kawasan kota padat. Namun, kala itu nuansa musik sudah dimodifikasi oleh masyarakat Betawi yang justru lebih didominasi oleh alat musik tiup.

Begitulah sejarah musik tanjidor di Batavia. Hari ini, kita boleh mempertanyakan kepada diri dan lingkungan kita, di mana klarinet (tiup), piston (tiup), trombon (tiup), saksofon tenor (tiup), saksofon bas (tiup), drum (membranofon), simbal (perkusi), dan tambur?