Meghan Markle Tak Siap, Dan Kisahnya bersama Harry Bukan yang Paling Sial

Nama Meghan Markle dan Pangeran Harry kembali mencuat selepas wawancara bersama Oprah Winfrey. Mereka seolah membongkar sisi gelap Istana Buckingham. Berdasar ceritanya, Meghan mengaku jadi korban kerajaan yang mendewakan citra, hingga warna kulit putranya, Archie turut dipermasalahkan. Meghan juga mengaku kesulitan hidup sebagai anggota kerajaan. Tapi di sisi lain, beberapa pihak justru menilai sebaliknya, Meghan dianggap tak siap hidup sebagai anggota keluarga Istana Buckingham. Dengan kata lain ia disebut mengalami gegar budaya. Artikel perdana Tulisan Seri khas VOI "Opera Cinta di Istana Britania," tentang soal ketatnya hidup di Istana Inggris.

Pernikahan merupakan sebuah ritual yang sakral bagi banyak orang, apalagi bagi keluarga terpandang seperti anggota kerajaan Inggris. Ada salah satu pantangan yang tak boleh dilakukan anggota kerajaan bila hendak memilih calon pasangan: tak boleh mempersunting seseorang yang pernah menikah dan bercerai. Bila melihat yang sudah-sudah, mereka yang terlanjur melangkahi aturan biasanya akan berujung masalah. 

Salah satu contohnya dialami oleh adik kandung Ratu Elizabeth II, Putri Margaret. Ia terpaksa memutuskan percintaannya dengan Kapten Peter Townsend karena Townsend berstatus duda cerai. 

Putri Margaret jatuh cinta dengan Peter Townsend, seorang prajurit yang terhormat dan telah melayani Raja George mulai 1944. Ia 16 tahun lebih tua dari Margaret dan memiliki dua anak, tetapi keduanya memiliki hubungan dekat. Mereka semakin dekat setelah kematian Raja George dan Townsend kemudian menceraikan istrinya pada 1952, berniat menikahi Margaret.

Mereka berdua datang bersama di penobatan Elizabeth II pada 1953. Di tahun yang sama, Townsend melamar Margaret dan langsung diterima. Tetapi Margaret harus menerima restu dari Elizabeth II di bawah aturan Royal Marriages Act 1772. Jika restu diberikan, Gereja Inggris nantinya tidak akan memberkati pernikahan tersebut karena status Townsend. Ratu Elizabeth II lalu meminta mereka menunggu beberapa saat dan Townsend dikirim ke Brussel. 

Ketika Townsend kembali pada 1955, Margaret sesungguhnya tidak lagi membutuhkan restu Elizabeth II untuk menikah karena usianya telah menginjak 25 tahun. Namun pihak Parlemen Inggris menjelaskan bahwa mereka tidak akan menyetujui pernikahan tersebut. Margaret lalu merasa berkewajiban untuk membatalkan pertunangan tersebut.

Menabrak tradisi

Berbeda dengan Margaret, nasib Meghan Markle bisa terbilang lebih mujur. Sebab sejak awal hubungannya dengan Pangeran Harry dirinya sudah mengantongi restu dari Ratu Elizabeth II. Sampai akhirnya pernikahan pun dilangsungkan pada 19 Mei 2018. 

Hampir seluruh pasang mata masyarakat dunia menyaksikan ritual ucap janji suci tersebut. Potret kebahagiaan mereka pun terlihat jelas. Hal itu bahkan terus berlangsung hingga mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Archie Harrison Mountbatten-Windsor

Namun pada Januari 2020, dalam pernyataan tidak terduga di laman Instagram mereka, pasangan Harry dan Meghan menyatakan mundur dari anggota kerajaan. Mereka mengatakan itu adalah keputusan yang mereka buat setelah berbulan-bulan menimbang keputusan yang akan mereka ambil itu. Setelahnya, mereka berencana untuk menyeimbangkan waktu tinggal di Inggris dan Amerika Utara sambil terus menghormati tugas kerajaan.

Berbagai rumor mengenai kehidupan rumah tangga dan kehidupan di Istana Buckingham pun merebak. Sampai puncaknya, untuk pertama kali Meghan dan Harry buka suara. 

Dalam wawancaranya dengan presenter kondang Oprah Winfrey, Meghan menggambarkan dirinya sebagai korban dari istana kerajaan Inggris yang terobsesi dengan rupa. Meghan juga mengutarakan kekecewaannya terkait seberapa gelap warna kulit putranya yang diduga sempat dipermasalahkan pihak Istana Buckingham.

Dalam acara tersebut, Meghan mengaku dipaksa untuk menekan sifat blak-blakannya dan menyerahkan kebebasan pribadinya. Dia mengatakan dia tidak memegang paspor, SIM, dan kunci mobilnya setelah dia bergabung dengan keluarga kerajaan. Semua itu dikembalikan ketika pasangan itu memutuskan untuk mundur dari kerajaan.

Meghan mengatakan situasinya diperburuk oleh adanya rasisme yang berulang kali muncul dalam liputan pasangan itu oleh pers Inggris. Dengan menahan tangis, Meghan mengatakan ia memiliki pikiran untuk bunuh diri. Ia enggan menceritakan hal itu dengan suaminya. 

"Aku benar-benar malu mengatakannya pada saat itu, dan malu harus mengakuinya kepada Harry, terutama, karena aku tahu seberapa besar kerugian yang dideritanya. Tapi aku tahu jika aku tidak mengatakannya, aku akan melakukannya. - dan saya tidak ingin hidup lagi," katanya.

Kita semua sepakat bahwa tindakan diskriminasi apapun tak boleh dibiarkan bila hal itu benar-benar terjadi. Namun soal keluhan Meghan yang tak memiliki kebebasan, menuai banyak kritik. Sebab protokol ketat dari seorang anggota kerajaan sudah merupakan keniscayaan. 

Di sisi lain, banyak yang menilai sebetulnya, Meghan juga tak patuh-patuh amat terhadap tradisi kerajaan Inggris. Ia beberapa kali sempat dianggap melanggar aturan kerajaan yang sebenarnya untuk melindungi dirinya sendiri. 

Harry dan Meghan diwawancara Oprah Winfrey (Twitter/ITV)

Aturan yang dilanggar

Salah satu aturan yang dilanggar Meghan adalah ketika dirinya memutuskan untuk melakukan baby shower di Manhattan, Amerika Serikat (AS). Hal ini turut disinggung oleh mantan juru bicara ratu yang mengatakan bahwa baby shower tersebut "budaya Amerika" dan Meghan "agak berlebihan."

Selain itu menurut sejarawan dan penulis, Robert Lacey, keluarga kerajaan Inggris memiliki alasan mereka harus memegang kunci mobil, SIM, dan paspor milik Meghan. Hal tersebut agar Meghan selalu terlindungi dan tidak berpergian sendiri. “Jika dia pergi mengemudi sendiri, dia tidak akan terlindung," jelas Lacey, dikutip BBC

Ketua dominasi Liga Monarki Kanada Robert Finch mengatakan, "orang berasumsi bahwa dokumen pribadi berharga bangsawan disimpan di brankas, di bawah pengawasan keamanan istana secara keseluruhan." Dia menjelaskan bahwa metode ini kemungkinan digunakan untuk memastikan bahwa dokumen penting tidak salah tempat dan selalu tersedia jika diperlukan. Apalagi anggota kerajaan kerap melakukan tur dan kunjungan ke luar negeri. 

Saat melakukan kunjungan ke Wales, Meghan juga melanggar aturan kerajaan dengan memberikan tanda tangan kepada salah seorang anak yang hadir. Padahal larangan pemberian tanda tangan memiliki tujuan agar tulisan tangan mereka tetap terlindungi dari orang-orang yang mungkin akan menggunakannya untuk tujuan jahat.

Bukan cuma itu, Meghan juga sempat melanggar peraturan tak tertulis. Misalnya saja ketika ia mengenakan pakaian hitam, yang biasanya hanya digunakan keluarga kerajaan ketika sedang berkabung.  

Meghan juga pernah mengenakan cat kuku berwarna gelap dan mendahului Ratu Elizabeth II saat memasuki mobil. Pelanggaran lainnya yang juga kerap disorot adalah beberapa kali Meghan tampil "mesra" bersama sang suami, Harry, dengan berpegangan tangan. Terakhir, ia melanggar aturan berpakaian kerajaan dengan menggunakan gaun yang panjangnya di atas lutut, tidak mengenakan topi saat acara-acara penting, tidak mengenakan stoking, dan menyilangkan kakinya saat duduk, bahkan ketika berada di dekat sang Ratu. 

Infografik (Raga Granada/VOI)

Gegar budaya?

Perilaku Meghan yang salah satunya kerap tak mengindahkan protokol kerajaan itu dinilai oleh pakar kerajaan Nigel Cawthorne sebagai culture shock atau gegar budaya. Penulis I Know I Am Rude: Prince Philip on Prince Philip bahkan menyebut tanda-tandanya sudah terlihat sejak 2018. 

"Tidak ada yang bisa membantunya menjembatani itu, kecuali Duchess of Windsor masih hidup," jelas Nigel, dikutip dari Daily Mail. Oleh karena itu, Cawthorne bilang, tidak mengherankan Meghan merasa sulit memasuki kehidupan kerajaan. Bahkan Pangeran Philip 'menganggap Istana Buckingham sulit untuk dipecahkan' setelah istrinya, Ratu Elizabeth II, naik takhta pada 1952.

"Sangat sulit bagi pasangan bangsawan untuk menjadi bagian integral dari keluarga dengan banyak protokol dan aturan tidak tertulis. Jika Anda melakukan sesuatu dengan benar, tidak ada yang akan memberi selamat kepada Anda atau menyebut keberhasilan tersebut. Sebagai orang asing, Meghan pasti merasa bingung," sebut Cawthorne.

Sementara itu, dalam wawancaranya dengan Oprah, Meghan dinilai terlihat kebingungan ketika ia bilang tak tahu banyak tentang keluarga kerajaan dan tidak sepenuhnya mengerti tugas-tugas anggota kerajaan. Kenaifan Meghan semakin terlihat ketika dia mengaku tidak melakukan riset apa pun tentang kerajaan sebelum dia menikah.

"Tidak ada panduan juga kan? Ada hal-hal tertentu yang tidak dapat Anda lakukan. Tapi, tahukah Anda, tidak seperti yang Anda lihat di film, tidak ada kelas tentang cara berbicara, cara menyilangkan kaki, cara menjadi bangsawan. Tidak ada pelatihan itu. Itu mungkin ada untuk anggota keluarga lainnya. Itu bukanlah sesuatu yang ditawarkan kepada saya," ujar Meghan. 

Ketatnya aturan sebagai anggota kerajaan Inggris merupakan salah satu tradisi yang hampir semua orang terutama warga Britania Raya ketahui. Salah duanya adalah iritnya informasi yang diberikan kepada publik. 

Namun Meghan memersepsikan sebaliknya, ia menganggap hal itu sebagai bentuk tak adanya dukungan dari pihak keluarga kerajaan ketika ia mendapat kritik dari pers Inggris. Padahal menurut ahli kerajaan Omid Scobie pihak Buckingham memang terkenal lebih "mencari aman" dengan tidak banyak menanggapi beberapa hal kepada pers. 

"Anda mendapat sedikit (informasi), Anda juga mengambilnya sedikit. Ini bisa jadi baik, namun juga dapat semakin buruk. Ini sama halnya dengan cepat dan lambat," kata Scobie.

Semua hal yang berkaitan dengan Meghan dan Harry akan tertulis dalam sejarah. Kedua pihak jelas memiliki "sifat" yang berbeda yaitu keluarga kerajaan terbiasa hanya berbagi sedikit kebahagiaan, sementara pasangan itu berani menceritakan sulitnya hidup sebagai anggota kerajaan. Meghan dan Harry kini semakin menjauh dari moto tidak resmi kerajaan yaitu "tidak pernah mengeluh, tidak pernah menjelaskan." 

"Saya pikir ini akan menjadi pertama kalinya mereka benar-benar dapat merasakan ini adalah kesempatan untuk menyampaikan suara mereka, bersama-sama," kata Steven Barnett, profesor media dan komunikasi di London University of Westminster, mengatakan kepada NBC News

Barnett memprediksi akan tiba waktunya pihak kerajaan Inggris dan Harry-Meghan memberikan pernyataan bersama. "Saya perkirakan mereka juga akan berbicara kepada pers Inggris," tutupnya.

Artikel Selanjutnya: Melihat Kehidupan Meghan Markle dan Pangeran Harry setelah Keluar dari Istana Inggris