Ternyata, Ada Cicit Diktator Benito Mussolini di Skuat Primavera Lazio

JAKARTA - Ultras Lazio dikenal karena pandangan politik sayap kanan mereka. Kini, hal tersebut dipertegas dengan hadirnya keturunan diktator Benito Mussolini dalam skuat mereka.

Romano, cicit Benito, saat ini terdaftar sebagai pemain di Primavera - skuat muda Biancocelesti. Nama lengkapnya, Romano Floriani Mussolini, yang dicomot dari nama gadis ibunya.

Anak muda yang baru berusia 18 tahun ini bermain sebagai bek kanan, minatnya terhadap politik sangat minim. Mengatakan kepada kantor berita Adnkronos, ibunya ogah mengomentari pilihan anaknya.

"Itu adalah sesuatu yang saya lebih suka untuk tidak ikut campur. Putra saya tidak ingin kehidupan atau pilihan pribadinya dicampuri orang lain," kata dia.

Satu-satunya impian Romano adalah menjadi pesepak bola profesional.  Romano juga pernah bermain sebagai bek tengah. Dia bermain dengan baik di posisi itu dan akan menawarkan fleksibilitas untuk Lazio di masa depan.

"Dia adalah anak yang rendah hati yang tidak pernah mengeluh, bahkan ketika dia tidak bermain selama dua tahun,” Mauro Bianchessi, manajer tim yunior Lazio, mengatakan kepada Repubblica

"Saya suka dia. Dia belum menjadi pemain berpengalaman, tapi dia terlihat menjanjikan. Nama keluarga yang memberatkan? Saya tidak pernah berbicara dengan orang tuanya, dan satu-satunya hal yang penting adalah apakah seorang pemain layak bermain. Tidak ada lagi."

Sementara itu, kakek buyut Romano, Benito kerap hadir di stadion ketika Gli Aquiloti bermain. Bukan rahasia apabila Laziale disebut squadra Mussolini karena pengaruh sang diktaktor yang masih menyerap di benak para pendukung Si Elang Biru.

Sampai sekarang, tifosi Lazio masih memuja Mussolini. Menjelang bentrokan melawan AC Milan pada leg kedua semifinal Coppa Italia di Stadion San Siro  pada April 2019 silam, sekelompok ultras Lazio menyanyikan lagi beraroma rasialis. 

Laziale memasang spanduk untuk menghormati Mussolini. Mereka juga melakukan penghormatan fasis di dekat La Piazzale Loreto, alun-alun Kota Milan, dimana sang diktator tersebut dieksekusi mati pada 1945.