Heboh Soal Komodo, BPS Bandingkan Kondisi NTT dengan Bali dan NTB

JAKARTA - Anggota Komisi V DPR-RI A Bakri HM yang sempat menyebut bahwa Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak ada yang istimewa kecuali komodo, mengundang kontroversi di masyarakat.

Mengutip siaran Badan Pusat Statistik (BPS), NTT bersama Bali dan NTB ditetapkan sebagai koridor 5 dengan tema pembangunan “Pintu Gerbang Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional”. Melalui upaya ini  diharapkan potensi wisata dan sumber daya alam yang ada di daratan maupun bahari, fauna serta flora dapat lebih diberdayakan dan dimanfaatkan sehingga kesejahteraan masyarakat akan meningkat.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sering kali digunakan untuk menilai keberhasilan pembangunan. Pada 2019 aktivitas perekonomian di NTT menghasilkan PDRB sebesar Rp106,89 triliun, sedangkan Bali menghasilkan PDRB sebesar Rp252,60 triliun, dan NTB sebesar Rp132,67 triliun.

Bila angka ini ditimbang dengan jumlah penduduk (PDRB per kapita) maka komposisinya akan semakin timpang karena penduduk NTT lebih banyak dari penduduk Bali dan NTB.

Pada 2019, dapat digambarkan bahwa seandainya nilai tambah tersebut dibagikan kepada masing-masing penduduk maka 1 orang penduduk di Bali akan menghasilkan 2 kali PDRB per kapita NTB dan 3 kali PDRB per kapita NTT.

Beberapa indikator penting yang berkaitan dengan kinerja ekonomi menunjukkan bahwa NTT secara umum masih tertinggal dibandingkan dua provinsi tetangga yaitu Bali dan NTB. Pada 2019 pertumbuhan ekonomi Bali paling tinggi yakni mencapai 5,63 persen, lebih tinggi dibandingkan NTT yang sebesar 5,20 persen serta NTB yang sebesar 4,01 persen.

Inflasi adalah kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya. Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat inflasi. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menggambarkan tingkat kenaikan (inflasi) atau tingkat penurunan (deflasi) dari harga barang dan jasa. Ditinjau dari sisi inflasi, NTB mengalami inflasi yang sedikit lebih tinggi dari Bali dan NTT.

Pada tahun 2019, Bali mengalami inflasi sebesar 2,69 persen. Sedangkan NTB dan NTT mengalami inflasi sebesar 2,86 persen dan 2,33 persen.

Jika dilihat secara keseluruhan Indonesia, distribusi persentase PDRB Bali, NTB, dan NTT hanya 3,06 persen dari PDB Indonesia.

Bahkan PDRB NTB dan PDRB NTT masing-masing tidak sampai 1 persen PDB Indonesia. Sebesar 4,56 persen dari penduduk miskin di Indonesia ada di NTT. Sementara 2,85 persen penduduk miskin di Indonesia tersebar di NTB. Bahkan, hanya sebesar 0,63 persen penduduk miskin di Indonesia yang tersebar di Bali.

Pengembangan pariwisata tidak dapat dilepaskan dari jasa penyediaan akomodasi yang memadai. Hingga 2019 terdapat 530 hotel yang tersebar di NTT. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 498 hotel.

Peningkatan tidak hanya terjadi pada jumlah hotel, tetapi juga jumlah kamar dan tempat tidur. Pada tahun 2019, TPK hotel bintang di NTT sebesar 50,77, menurun dibanding tahun 2018 yang sebesar 56,82.

Penyebaran lokasi hotel di NTT masih belum merata, dimana sebagian besar hotel berada di Kabupaten Manggarai Barat (18,3 persen) dan Kota Kupang (16,6 persen). Sementara itu, hanya ada 1 hotel non bintang di Sumba Tengah.

Fasilitas hotel yang memadai dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, khususnya ke objek wisata yang sudah banyak dikenal di Indonesia seperti Pulau Komodo dan Padar di Manggarai Barat serta Danau Weekuri di Sumba Barat Daya dan Bukit Wairinding di Sumba Timur.