Ini Dia Mowgli di Kehidupan Nyata; Tinggal di Hutan, Makan Rumput dan Tidak Bisa Bicara

JAKARTA - Terlahir dalam kondisi kesulitan belajar, Ellie (21) tidak bersekolah dan takut pada sesama penduduk desa. Ia memilih tinggal di hutan dekat desanya di Rwanda dan kerap makan pisang serta buah-buahan lainnya.

Ellie kerap menolak untuk makan makanan yang disiapkan ibunya. Sementara sang ibu, terpaksa mengejar putranya ke hutan dengan laso darurat agar ia tidak pergi terlalu jauh.

Ibunya sangat menyayangi Ellie. Ia menggambarkan Ellie sebagai anak yang istimewa dan hadiah dari Tuhan saat dia dan suaminya kehilangan lima anak saat lahir.

Anak laki-laki, yang difilmkan oleh Afrimax TV, ini dijuluki 'monyet' oleh para pengganggu karena cara hidupnya yang tidak biasa.

“Dia tidak suka makanan. Dia lebih suka makan pisang. Dia tidak tahu apa-apa, dia tidak bisa berbuat apa-apa," kata ibunya seperti dilansir dari Daily Star, Kamis, 26 November.

"Yang dia lakukan hanyalah lari. Ketika dia melihat orang, yang dia lakukan hanyalah lari dari mereka. Ke mana pun dia berlari, aku harus mengejarnya. Dalam seminggu penuh kami bisa menempuh 230 km.

"Jika aku tidak mengikutinya, dia mungkin tidak akan kembali ke rumah."

Menurut film tersebut, seluruh penduduk desa berupaya untuk menjauhkannya dari hutan agar dia tetap aman. Tetangga dipaksa untuk mengawasi Ellie dan mengejarnya untuk melindunginya dari bahaya.

Ellie kerap dianggap kera (Tangkapan layar YouTube)

Dalam film tersebut, ibunya berkata: “Dia selalu merumput seperti binatang. Dia selalu kabur."

Ellie dideskripsikan 'secepat Usain Bolt' dan menghabiskan hari-harinya berlari melalui hutan. Ellie tidak tahu bagaimana berbicara dan hanya bisa berkomunikasi dengan gelombang.

Saat lahir, Ellie memiliki kepala sebesar bola tenis, menurut film Born Different.

“Setelah kehilangan lima anak kami, kami meminta Tuhan untuk setidaknya memberi kami seorang anak cacat, selama dia tidak mati sedini mungkin. Ketika dia membebaskannya, saya tahu itu adalah pesan dari Tuhan," kata sang ibu kepada sutradara.

Sang ibu berkata bahwa tetangga tidak menganggap putranya sebagai anak laki-laki, melainkan kera, dan terus mengganggunya.

“Ini sangat menyakitkanku, ketika anakku pergi dan kembali dan dipukuli. Mereka meneriakinya dan memanggilnya monyet. Itu membuatku sangat sedih mendengar orang menindas anakku," lanjutnya.

“Bukan hanya anak-anak, tapi melihat orang dewasa menggertaknya tanpa malu-malu. Mereka membuatku kehilangan kesabaran. Mereka tidak melihatnya sebagai manusia, hanya binatang.”

>