Pandemi Flu Spanyol Lebih Mematikan Dibandingkan Perang Dunia I: Total Korban Jiwa di Seluruh Dunia Hingga 50 Juta

JAKARTA - Perang Dunia I meninggalkan luka yang mendalam bagi seantero dunia. Korban jiwanya bejibun. Namun, korban yang jatuh tak melulu karena senjata, melainkan diperparah oleh penyebaran virus H1N1. Virus itu memicu pandemi. Flu Spanyol namanya. Penyebarannya masif karena mobilitas tinggi pasukan dari kedua blok: Blok Sekutu dan Blok Sentral. Karenanya, Flu Spanyol lebih banyak menelan korban, dibanding Perang Dunia I. Orang-orang pun menyebut Flu Spanyol sebagai ibu segala pandemi.

Kasus Flu Spanyol yang paling awal dalam sejarah disinyalir bersumber di Kamp Funston, Kansas, Amerika Serikat (AS) pada 5 Maret 1918. Tempat itu adalah kamp latihan dari dari 56.222 tentara Amerika Serikat. Malang tak dapat ditolak, Beberapa tentara yang sejatinya akan ikut berperang pada Perang Dunia I terjangkit flu dengan gejala ringan.

Mereka hanya demam dan kelelahan. Dokter militer pun menganggap sebagai flu biasa. Dalam beberapa hari gelaja tersebut diperkirakan akan sembuh dengan sendirinya. Alias tidak berbahaya. Nyatanya, hal itu salah besar. Penyakit flu itu lebih ganas dan cepat menular.

Dalam tiga minggu saja, lebih dari 1.000 tentara AS tertular penyakit. Sebanyak 38 di antaranya meninggal dunia. Terutama mereka yang memiliki penyakit bawaan pneumonia. Pemerintah setempat memahami bahwa penyakit yang diderita oleh tentara AS bukan sembarang flu. Besar indikasi tentara AS terjangkit virus influenza jenis baru. Tapi pemerintah memilih diam.

Warga San Fransisco, AS, melindungi diri dengan masker saat pandemi Flu Spanyol (Foto: geheugen.delpher.nl)

Mereka tak ingin berita wabah flu baru tersebar di seantero AS. Empunya kuasa takut jika wabah itu dapat mengganggu mental prajurit lainnya yang akan berperang. Sikap abai pemerintah AS kemudian membuat seisi dunia menanggung ganjarannya. Virus Influenza jenis baru itu menyebar dengan cepat, seiring mobilitas tentara AS ke Eropa.

“Namun Camp Funston-lah yang membuat virus tersebut menyebar dengan begitu masif. Hal itu tidak terlepas dari begitu derasnya arus tentara yang keluar-masuk dari kamp tersebut menuju Eropa. Mereka pun berperan sebagai ‘carrier’ aktif dari virus influenza tersebut. Dari Camp Funston, virus influenza menyebar dengan cepat ke New Jersey, South Carolina, Colorado, dan berbagai wilayah lainnya di Amerika.”

“Pada 18 Maret 1918, sempat muncul laporan bagaimana virus influenza tersebut telah menyerang pos militer Amerika di Camps Forest dan Greenleaf di Georgia. Memasuki bulan April 1918, kasus penularan di Amerika terus bertambah, dari 50 negara bagian di Amerika, sebanyak 30 di antaranya melaporkan kasus influenza dan pneumonia di wilayahnya,” ungkap Sejarawan Ravando Lie dalam buku Perang Melawan Influenza: Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial 1918-1919 (2020).

Tentara AS pula yang ada di balik gelombang penyebaran virus influenza makin masif masuk Eropa. Prancis jadi pintu masuknya. Semua itu karena keterlibatan AS sebagai bagian dari Blok Sekutu (Prancis, Inggris, Rusia, dan lain sebagainya) yang melawan Blok Sentral (Jerman, Bulgaria, Turki, dan sebagainya). Pun keterlibatan AS harus dibayar mahal. Virus Influenza itu menyebar di seantero Eropa. kemudian, benua lainnya.  

Virus influenza yang menjangkiti Eropa baru dikenal sebagai pandemi ketika media Spanyol mewartakannya. Kala itu, hampir tak ada media yang mewartakan keberadaan virus. Sebab, fokus utama pemberitaan lebih banyak memberi porsi pada keadaan perang. Dari situlah pandemi itu dikenal sebagai Flu Spanyol.

“Virus menyebar seiring dengan pergerakan para tentara ke Prancis, lalu ke Portugal dan Spanyol. Situasi perang membuat wabah yang mulai menyebar aini disensor dari media massa. Hanya Spanyol, negara netral dengan pers terbuka, yang memberitakan pandemi influenza dengan besar-besaran."

"Karena itulah nama Flu Spanyol menempel pada penyakit ini, meski orang Spanyol sendiri lebih suka menyebutnya Flu Prancis,” ungkap Moyang Kasih Dewi Merdeka dalam tulisannya di Majalah Tempo berjudul 1918-1919: Seperti Rumput Kering yang Tersulut Api (2020).

Lebih Mematikan Ketimbang Perang Dunia

Semenjak menjadi pandemi, perdebatan terkait awal mula virus semakin mengemuka. Ragam versi lain turut menyebut flu Spanyol bukan berasal dari Amerika, melainkan Swedia atau Rusia. Semua anggapan itu semakin menambah misteri awal mula kehadiran Flu Spanyol yang diperkirakan telah menjangkiti lebih dari 500 juta orang di dunia.

Angka itu setara populasi dunia kala itu. Mereka yang termasuk kelompok rentan tertular Flu Spanyol dibagi dalam tiga kelompok. Pertama, penderita usia balita. Kedua, usia 20-40 tahun. Ketiga, usia di atas 65 tahun.

Tentara Irlandia dalam Perang Dunia I di Somme, Prancis pada 1 Juli 1916. (Foto: Wikipedia)

Fakta yang paling mencengangkan adalah bahwa flu Spanyol dapat merenggut nyawa lebih banyak daripada Perang Dunia I. Korban dari Flu Spanyol berada dalam angka 21-50 juta jiwa manusia.

 Sementara, Perang Dunia I, dalam catatan resmi menyebutkan korbannya sebanyak 9,2-15,9 juta jiwa manusia. Untuk itu, Flu Spanyol menjadi flu paling mematikan dalam sejarah dunia.

“Namun, puncak Perang Dunia itu, mewabah Flu Spanyol (Spanish Flu) pada 1918-1920, yang kemudian bergulir menjadi The Great Depression hingga 1930-an. Wabah Flu Spanyol ini menelan banyak korban jiwa dibanding Perang Dunía itu sendiri.”

“Flu ini telah mengalami mutasi genetikal sehingga jauh lebih berbahaya ketimbang virus flu biasa, Flu Spanyol menginfeksi lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia, termasuk orang-orang di pulau-pulau Pasifik yang terpencil hingga sampai di Kutub Utara. Bahkan, para ahli sejarah memperkirakan, kisaran 21,5 hingga 50 juta jiwa melayang di seantero dunia,” tutup Mukhaer Pakana dalam buku Pandemi Corona: Virus Deglobalisasi Masa Depan Perekonomian Global dan Nasional (2020).