Setelah Mars, Kini Matahari Jadi Tujuan Baru NASA

JAKARTA - Di tengah persiapan misi ke Planet Mars, NASA kini memilih dua misi sains lagi, yakni Multi-slit Solar Explorer (MUSE) dan HelioSwarm. Misi ini berguna untuk membantu meningkatkan pemahaman tentang dinamika Matahari, koneksi Matahari-Bumi, dan lingkungan luar angkasa yang terus berubah.

Kedua misi akan menawarkan informasi penting untuk membantu melindungi astronot, satelit, dan sinyal komunikasi seperti GPS, serta lebih memahami alam semesta.

“MUSE dan HelioSwarm akan memberikan wawasan baru dan lebih dalam tentang atmosfer matahari dan cuaca luar angkasa. Misi ini tidak hanya memperluas ilmu misi heliofisika kami yang lain, mereka juga memberikan perspektif unik dan pendekatan baru untuk memahami misteri bintang kita," ujar Administrator Asosiasi untuk sains di Markas Besar NASA, Washington, Thomas Zurbuchen, seperti dikutip dari laman resmi NASA, Senin, 14 Februari.

Tujuan utama misi MUSE adalah untuk menyelidiki penyebab pemanasan dan ketidakstabilan koronal, seperti suar dan lontaran massa koronal, dan mendapatkan wawasan tentang sifat plasma dasar korona.

MUSE akan mendapatkan gambar resolusi tinggi dari evolusi pita suar Matahari dalam bidang pandang yang difokuskan pada wilayah aktif yang besar di Matahari.

Misi yang akan menelan biaya 192 juta dolar AS ini akan membantu para ilmuwan memahami kekuatan yang mendorong pemanasan korona Matahari dan letusan di wilayah terluar yang menjadi dasar cuaca antariksa.

Misi tersebut akan menawarkan pengetahuan yang lebih dalam tentang fisika atmosfer Matahari dengan menggunakan instrumen kuat yang dikenal sebagai spektrometer multi-slit untuk mengamati radiasi ultraviolet ekstrim Matahari dan mendapatkan gambar resolusi tertinggi yang pernah diambil dari wilayah transisi Matahari dan korona.

Selain itu, MUSE juga akan memberikan pengamatan pelengkap dari penelitian heliofisika seperti Teleskop Spektroskopi UltraViolet Ekstrim dan observatorium berbasis darat.

“MUSE akan membantu kami mengisi kesenjangan penting dalam pengetahuan yang berkaitan dengan koneksi Matahari-Bumi. Ini akan memberikan lebih banyak wawasan tentang cuaca luar angkasa dan melengkapi sejumlah misi lain dalam armada misi heliofisika," ungkap Direktur Divisi Heliofisika di Markas Besar NASA, Nicola Fox.

Sementara misi HelioSwarm, adalah konstelasi atau gerombolan dari sembilan pesawat ruang angkasa yang akan menangkap pengukuran fluktuasi medan magnet dan gerakan angin Matahari multiskala pertama di luar angkasa, dikenal sebagai turbulensi angin Matahari.

Lapisan atmosfer terluar Matahari, heliosfer, meliputi wilayah Tata Surya yang sangat luas. Angin Matahari menyebar melalui heliosfer, interaksinya dengan magnetosfer planet dan gangguan seperti lontaran massa korona memengaruhi turbulensinya.

Mempelajari turbulensi angin Matahari di area yang luas membutuhkan pengukuran plasma yang diambil secara bersamaan dari berbagai titik di ruang angkasa.

HelioSwarm misi yang menelan biaya 250 juta dolar AS ini, terdiri dari satu pesawat ruang angkasa hub dan delapan satelit kecil yang mengorbit bersama, serta berjarak satu sama lain dan pesawat ruang angkasa hub.

Pesawat ruang angkasa hub akan mempertahankan kontak radio dengan setiap satelit kecil. Semua kontak radio antara gerombolan dan Bumi akan dilakukan melalui pesawat ruang angkasa hub dan antena komunikasi pesawat ruang angkasa NASA, Deep Space Network.

“Inovasi teknis satelit kecil HelioSwarm yang beroperasi bersama sebagai konstelasi memberikan kemampuan unik untuk menyelidiki turbulensi dan evolusinya dalam angin matahari,” kata Wakil Direktur Divisi Heliofisika, Peg Luce.