Menelusuri Daftar Kilometer "Maut" Tol Cipali
Ilustrasi (Raga Granada/VOI)

Bagikan:

Pada artikel sebelumnya kita telah mengulas apa yang menyebabkan Tol Cipali begitu rawan kecelakaan. Untuk menghindari hal itu, kita akan menelusuri titik-titik rawan jalan tol tersebut. Tulisan Seri khas VOI, "Hati-Hati di Cipali" selanjutnya, daftar kilometer paling rawan kecelakaan di Tol Cipali.

 

Tol Cipali merupakan salah satu jalan bebas hambatan paling rawan di Indonesia. Terdapat titik-titik kilometer (KM) yang kerap jadi tempat kecelakaan. Banyak orang yang menganggap tragedi maut itu terjadi di situ-situ saja. Untuk itu tak sedikit yang mengaitkannya dengan hal mistis. Lantas KM mana saja yang paling rawan?

Sebetulnya menurut Pakar transportasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ofyar Z Tamim ada tiga faktor penyebab Cipali rawan kecelakaan. Antara lain, kesalahan desain, kendaraan, dan kondisi pengemudi. 

"Kondisi pengemudi yang lelah, mengantuk, hingga pengemudi yang mengejar rit. Mereka memaksakan diri mengemudi dalam kondisi yang tidak fit. Namun, saat tiga faktor itu bertemu, hal itulah yang kerap menjadi penyebab kecelakaan," kata Ofyar.

Sejak awal diresmikan Tol Cipali sudah menjadi momok bagi pengendara. Sebab telah banyak korban dan nyawa melayang akibat rentetan kecelakaan yang terjadi di jalan tol sepanjang 116 KM itu. Namun, peristiwa kecelakaan paling banyak ditemukan pada km tertentu dengan jalanan yang cenderung lurus dan menjenuhkan. Berikut daftar KM paling rawan di Tol Cipali.

Tol Cipali (Sumber: Wikimedia Commons)

Pertama, KM 178. Dikutip dari Merdeka, kecelakaan maut paling parah yang pernah terjadi di KM ini. pada pertengahan 2015, sebuah minibus Gran Max bernopol E 1720 MX menabrak truk yang terparkir di bahu jalan. Seketika, kendaraan itu langsung terbakar. Di dalam mobil itu terdapat 11 penumpang, tujuh diantaranya tewas.

Kedua, KM 94.  Pada pertengahan juni 2015, pernah terjadi kecelakaan hebat yang menelan dua korban jiwa di hari yang bersamaan. Berdasarkan keterangan Polda Jawa Barat, kala itu kecelakaan hadir karena memang ada reflector yang belum terpasang. Kapolda Jabar Irjen Pol Moechgiyarto pun mengakui diantara beberapa titik rawan kecelakaan terdapat KM 94 jadi salah satunya.

Ketiga, KM 85. Titik ini pengemudi yang akan menuju Palimanan terus-terusan diingatkan oleh pihak berwajib untuk selalu berhati-hati. Sebab, KM tersebut merupakan salah satu titik terawan. Yang menjadikannya rawan adalah karena terdapat jalan lurus yang monoton. Tak jarang banyak pengendara yang melamun kemudian hilang fokus mengemudi hingga terjadinya kecelakaan.

Keempat, KM 82+800. Belum sepekan Tol Cipali diresmikan, Km ini sudah menelan korban jiwa. Seorang korban yang mengendarai truk boks dengan nomor polisi L 9821 F menabrak bagian belakang truk pengangkut pasir di KM 82+800. Setelahnya, banyak kecelakaan terjadi di titik itu. Kepolisian bahkan mengimbau kepada para pengendara untuk selalu waspada ketika melewati km tersebut.

Dikaitkan dengan mistis

Saking berpolanya kecelakaan yang terjadi di KM tersebut, tak sedikit masyarakat yang mengaitkannya dengan hal mistis. Salah satu cerita gaib yang banyak beredar adalah, misteri batu Bleneng. 

Kehadiran batu Bleneng dipercaya banyak orang sebagai faktor dalam terjadinya banyak kecelakaan. Lokasi batu ini memang bertengger di tepat di pinggir jalan tol. 

Infografik (VOI/Raga Granada)

Jika berkendara dari arah Jakarta-Palimanan, batu Bleneng ada di sisi kanan, namun jika dari arah Cirebon berada di sisi kiri. Keberadaan batu itu kerap dikait-kaitkan dengan kisah mistis di Tol Cipali. Alhasil, banyak yang percaya ada makhluk halus yang mendiami batu tersebut.

Padahal, awalnya kisah itu hanya bermuara dari kabar burung terkait pembangunan tol. Dikisahkan, pernah ada seorang pekerja jalan tol yang tewas saat mencoba menghancurkan Batu Bleneng menggunakan alat berat. 

Melansir Otosia, konon batu Bleneng tak bisa dipindahkan oleh pegawai tersebut. Warga setempat percaya bahwa batu Bleneng menyumbat sumber mata air raksasa, yang mana jika batu diangkat maka air akan menyembur tanpa henti. Dengan kata lain, sebagian warga menganggap batu itu sebagai "penjaga" wilayah sekitar.

Lalu seiring banyak terjadi kecelakaan di Tol Cipali, banyak orang yang menghubung-hubungkan dengan cerita mistis. Ada yang percaya bahwa "penunggu" Batu Blendengan memang mencari 100 tumbal karena telah mengusik tempat tinggal para makhluk gaib tersebut. 

Kendati demikian, Wakil Dirut PT Lintas Marga yang mengelolah Cipali, Hudaya Arianto menolak klaim itu. Hudaya mengungkap semestinya jalur Tol Cipali bisa lurus. Namun ada hal yang membuat jalur mesti berbelok, tak lain permintaan dari sebuah pesantren.

“Kalau diperhatikan harusnya jalan itu lurus, tapi di situ ada pesanten. Dulu ketika design dibuat menghindari itu,” kata Hudaya dikutip Detik.

Hudaya menjelaskan, tidak ada urusan dengan hal mistis atau gaib apalagi dengan batu Bleneng. Perpindahan jalur menjadi berbelok itu karena pesantren tak mau diberi ganti untung. Akhirnya jalur dibelokan. Hal-hal terkait cerita mistis tak lebih dari selentingan cerita masyarakat saja.