Dunia Mungkin Lebih Baik Jika COVID-19 Jadi Endemik
Ilustrasi (Raga Granada/VOI)

Bagikan:

Di tengah pembicaraan buruknya penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia, muncul kabar yang menyebut pandemi COVID-19 akan menjadi endemik. Di satu sisi kabar tersebut bisa diartikan virus corona baru tak akan lenyap dari muka bumi, namun di lain sisi ini bisa juga diartikan sebagai angin segar yang membawa dunia ke dalam kondisi yang lebih baik. Masih bagian dari Tulisan Seri khas VOI"Setahun Pandemi, Sejuta Positif"

 

Survei Nature mengungkapkan banyak ilmuwan yakin COVID-19 bakal menjadi endemik dan dampaknya akan berkurang seiring waktu. Lantas apakah ini artinya pandemi virus corona akan segera berakhir? Seperti apa dunia bila corona menjadi penyakit endemik? Dan bagaimana pandemi COVID-19 bisa berubah status menjadi endemik? 

Dalam survey kepada lebih dari 100 ahli imunologi, virologi, dan peneliti penyakit menular, hampir 90 persen mengatakan COVID-19 akan menjadi endemik. Itu artinya, penyebaran virus atau penyakit bakal konstan dan cenderung terkendali dalam suatu wilayah geografis tertentu menurut Centers for Disease Control (CDC)

Misalnya saja kasus penyebaran penyakit flu di Amerika Serikat (AS), dan ada empat jenis virus corona endemik yang menyebabkan badan demam. Kalau di Indonesia salah satu contoh endemik adalah penyakit malaria di Papua. 

Profesor Imunologi dari Universitas La Jolla AS, Erica Ollman Saphire mengatakan jika COVID-19 menjadi endemik, artinya virus ini tak akan pernah hilang dari muka bumi. Meski begitu, Saphire juga bilang orang akan hidup lebih baik secara keseluruhan. "Dan tidak sakit karena virus," kata Saphire dikutip CNBC. Kapan hal itu bisa terjadi?

Menurut Dokter Scott Gottlieb, mantan komisaris Badan Pengawas Makanan dan Minuman AS, bila vaksinasi semakin masif dan berjalan lancar, maka penularan COVID-19 bisa mereda sekitar musim semi dan musim panas. "Tingkat infeksi akan turun secara dramatis selama musim semi dan musim panas," kata Gottlieb. 

Sejarah berkali-kali pernah menunjukkan perubahan status pandemi menjadi endemik. Pandemi Flu Hong Kong yang terjadi pada 1968 misalnya. Sebelum mereda dan ditetapkan menjadi endemik, penyakit yang disebabkan oleh virus influenza A (H3N2) ini seperti dikutip Britannica, telah menewaskan satu juta orang di seluruh dunia.

Hal serupa juga terjadi pada pandemi flu babi tahun 2009. Menurut CDC AS, penyakit yang disebabkan oleh virus H1N1 ini pertama kali menyebar di AS, dan menyebar cepat ke seluruh negara tersebut dan dunia. 

CDC AS mencatat, antara 12 April 2009 dan 10 April 2010, ada 60,8 juta kasus di negara Abang Sam. Lembaga itu memperkirakan ada 575.400 orang meninggal di seluruh dunia akibat pandemi ini. Kendati pandemi ini resmi dinyatakan berakhir pada 10 Agustus 2010, namun virusnya masih terus berkeliaran sebagai virus flu musiman.

Ilustrasi foto (Manuel Peris Tirado/Unsplash)

Menjadi terkendali

Bila sebuah penyakit pandemi menjadi endemik, Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Laura Navika Yamani, itu berarti penyebaran virus sudah terkendali. "Endemik itu sesuatu yang bisa dikendalikan," kata Laura kepada VOI.

Memang penyakit endemik itu akan selalu ada namun kata Laura, virus penyebab penyakit itu akan berada dalam kondisi dorman. Artinya virus ini bisa saja menetap di dalam diri namun dalam keadaan tidak aktif. "Ketika virus tidak menemukan inang yang tepat, dia diam saja."

Misalnya saja Laura mencontohkan ketika seseorang mengunjungi wilayah yang ada endemik malaria di Papua. Menurutnya orang yang berkunjung ke daerah tersebut tidak akan langsung terkena malaria asalkan imunnya tidak sedang lemah. 

"Seperti dorman, virus akan aktif ketika dia menemukan inang yang sedang lemah. Dorman itu ia bisa bertahan tanpa memberikan efek. Tapi ketika mendapat rumah (orang yang imunitasnya lemah) dia akan aktif," jelas Laura.

Meski begitu Laura bilang, perubahan status COVID-19 menjadi endemik tidak akan terjadi bila tidak diupayakan. Menurutnya hal ini sangat tergantung pada keadaan imunitas kelompok atau herd immunity. Dan tentu saja hal ini erat kaitannya dengan keberhasilan program vaksin. 

Infografik (VOI/Raga Granada)

Syarat dan ketentuan

Menurutnya saat ini herd immunity belum bisa dipastikan meskipun sudah ada upaya vaksinasi. Apalagi sekarang jumlah vaksin COVID-19 masih terbatas. 

"Soalnya jangka waktu kekebalan itukan masih dalam tahap investigasi ya. Jadi tetep dimonitor," kata Epidemiolog Laura Navika Yamani. 

Belum lagi masalah pemberian vaksin yang belum merata ke seluruh wilayah, khususnya Indonesia."Dan di beberapa daerah penyebaran kan masih berlangsung. Bisa saja satu daerah mendapat vaksin, tapi di daerah lain masih ada penyebaran kasus."

Belum lagi soal adanya potensi mutasi virus. Sebab menurut Laura hal ini akan berdampak pada efektivitas vaksin. "Jadi sambil menunggu herd immunity tercapai, mungkin saja penurunan kasus akan terjadi, tapi enggak langsung mengeradikasi (melenyapkan)."

Untuk itulah program vaksinasi guna mencapai herd immunity menjadi kunci pandemi ini bisa menjadi endemik. "Kalau misalkan kita sudah punya herd imunity, harapannya kalau pun kita berkunung ke area endemis kita sudah punya kekebalan dan enggak masalah," kata Laura. 

 

Ikuti Tulisan Seri edisi ini: Setahun Pandemi, Sejuta Positif