Terang Terus Silau <i>Cuan</i> YouTube
YouTuber Atta Halilintar (Foto: Instagram/attahalilintar Desain:VOI/Raga Granada)

Bagikan:

Kita telah mengulas bagaimana kita kelas pekerja bisa jadi kaya raya. Masih dalam Tulisan Seri khas VOI"Muda, Kaya, dan Berbahagia," kali ini kita bahas jalur kaya raya lainnya, tentang mereka para pembuat konten, terutama di YouTube. 

 

Beberapa waktu lalu, media sosial Twitter dihebohkan dengan topik orang berpenghasilan Rp250 juta. Muasalnya dari seorang aktivis kesehatan seksual, Andrea Gunawan yang menyebut kriteria pria idaman seharusnya punya gaji dengan nominal itu.

Andrea dikritik, sebelum kemudian mengatakan bahwa jumlah itu sangat mungkin didapat dan tak seberapa bila dibandingkan beberapa rekannya yang bekerja sebagai content creator. Mereka bisa memeroleh miliar rupiah hanya dari satu cabang pemasukan, kata Andrea.

Ini memang sulit disangkal. Industri pembuat konten memang begitu menjanjikan, apalagi untuk anak muda. Pertanyaannya, seberapa besar saat ini peluangnya untuk mereka yang hendak menggeluti profesi ini? Apa kunci suksesnya?

Nominal ratusan juta bisa diperoleh seorang content creator hanya dalam hitungan hari, bahkan jam. Semakin beragamnya platform media sosial membuat banyak orang dengan mudah membagikan konten yang sudah mereka buat.

Kemudahan itu membuka peluang pemasukan dari iklan yang jumlahnya sulit dibilang sedikit. Dari yang paling terkenal, YouTuber Atta Halilintar, misalnya. Dengan 26,4 juta subscriber, ia dinobatkan sebagai YouTuber nomor satu di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Melihat Socialblade, estimasi pemasukan dari akun YouTube Atta Halilintar berkisar di angka Rp164 juta hingga Rp2 miliar per bulan.

Selain itu ada Raffi Ahmad yang memiliki akun Rans Entertainment. Akun Rans Entertainment memiliki 19,3 juta subscriber di Youtube, dengan estimasi pemasukan sekitar Rp429 juta hingga Rp6 miliar per bulan. Ajaibnya, di dunia pembuatan konten, bukan cuma orang dewasa yang bisa menjadi kaya.

Seorang anak-anak SD pun sangat bisa bahkan mengalahkan penghasilan orang dewasa dari YouTube. Naisa Alifia Yuriza, pembuat konten yang kini baru berusia 13 tahun itu ditaksir punya pemasukan Rp250 juta. Dan itu angka minimal. Maksimalnya, ia bisa meraup cuan hingga Rp4 miliar per bulan.

Akun yang kerap membagikan kegiatannya ketika bermain gim PUBG ini sekarang telah diikuti 15,7 juta subscriber. Dari ketiga contoh tersebut, kita bisa melihat konten-konten yang mereka buat itu kebanyakan hal-hal sehari-hari yang kerap kita lakukan.

Kebanyakan konten yang mereka buat memang mudah dicerna. Tak perlu mengernyitkan dahi saat menonton konten mereka. Dari situ kita bisa melihat sebagian besar orang Indonesia memang lebih menyukai tontonan yang menghibur daripada konten-konten serius.

Begitu cepat dan besarnya pendapatan yang diperoleh para pembuat konten lantas menimbulkan pertanyaan, mengapa industri ini bisa begitu mudah menghasilkan cuan? Dan mengapa orang-orang Indonesia lebih suka konten yang ringan daripada yang berat? 

Naisa Alifia Yuriza (Instagram/naisaalifiayuriza)

Kunci sukses membuat konten

Financial Planner Aidil Akbar Madjid melihat pemasukan yang fantastis ini tak lepas dari masyarakat Indonesia yang sangat menyukai konten hiburan. Hal itu terafirmasi dari ketiga pembuat konten tersebut yang memang menyuguhkan konten ringan dan menghibur. Meski begitu, tak semua konten serupa bisa laku. Ada beberapa kriteria khusus agar konten yang dibuat bisa menggaet pengikut.  

"Indonesia kan unik ya, konten-konten yang enggak pakai mikir disukai, konten-konten yang menghibur, konten-konten yang menyentuh lebih disukai dibandingkan konten yang bikin mikir. Mungkin mungkin karena tuntutan hidup, orang stres, enggak mau nonton yang berat-berat," ujar Aidil saat dihubungi VOI.

Jika berhasil membuat konten yang disukai oleh banyak kalangan, otomatis akan menambah followers atau subsrcibers, yang mana dari situlah terdapat pemasukan. Oleh sebab itu keberhasilan dan pemasukan yang didapatkan tergantug dari kreativitas dari pembuat konten. 

Berbicara tentang konten yang disukai, seringnya memang konten yang "tak pakai mikir" justru viral dan mendatangkan subscribers. Contohnya adalah Rahmawati Kekeyi Putri Cantikka. 

Awalnya dia adalah beauty vlogger yang terkenal karena membuat makeup tutorial menggunakan balon sebagai beauty blender. Kekeyi mengunggah tutorial makeup pertamanya pada 1 April 2018. Menurut Socialblade, Kekeyi yang kini punya 1.18 Juta subcriber, berpenghasilan sekitar Rp4 juta hingga Rp64 juta per bulan. 

Meski demikian, untuk memertahankan itu semua juga membutuhkan kreativitas yang lebih. Biasanya semakin banyak subscribers, tuntutan dari penonton akan semakin tinggi. Content creator dituntut untuk terus membuat konten. Terkadang, tuntutan tersebut membuat kualitas video tidak maksimal dan ditinggal oleh para pengikutnya. 

"Namanya kreativitas pasti ada satu titik di mana ada titik jenuhnya. Itulah pentingnya untuk menggali ide, tidak bisa berpatok oleh satu ide atau satu orang. Harus ada variasi-variasi agar kontennya terus mengalir. Karena kalau enggak, nanti lama kelamaan kontennya seperti dipaksakan," ujar Aidil. 

Infografik (VOI/Raga Granada)

Mendisrupsi bisnis konvensional

Melihat fenomena-fenomena yang ada, Aidil mengatakan bahwa kemungkinan adanya hal yang menjanjikan dan kemajuan industri content creator sangat mungkin. Dunia hiburan kini tidak bergantung dengan platform mainstream seperti televisi atau radio. Bahkan platform mainstream pun kini mulai bermain dengan konten. Aidil melihat, bahkan pembuatan konten dimanfaatkan juga dimanfaatkan media online untuk menggaet viewer website mereka. Maka dari itu, content creator akan selalu diminati. 

"Jadi yang sekarang orang cari adalah konten-konten yang menghibur dan realita. Jadi bukan konten berdasarkan skrip.  Makanya kalau kita lihat konten-konten yang bahkan dibuat artis sekalipun kayak Raffi, justru dengan kameranya yang miring-miring, dengan syutingnya jalan-jalan, disukai karena dilihat penonton 'ini beneran loh, ini enggak dibuat-buat loh'" kata Aidil. 

Melihat banyaknya peminat dari konten-konten "alami" seperti itu mendorong anak-anak muda kreatif melihatnya dan merasa mampu membuat konten yang serupa atau bahkan lebih bagus. Namun originalitas lebih penting untuk membedakan dengan konten lain.

Karena industri content creator ini butuh pemikiran yang out of the box, tidak jarang para pembuat konten kehabisan ide dan justru membuat konten yang disajikan membuat penontonnya kecewa atau pergi. Aidil mengatakan, agar terhindar dari ide atau video yang garing, lebih baik dibuat tim. Jika terdapat tim, tidak akan kehabisan ide. 

"Kalau sudah seperti itu, butuh kumpulan orang-orang yang kreatif untuk bikin selanjutnya seperti apa. Tim itu juga bisa untuk buat alternatif konten. Misal sudah buat konten dan kontennya mulai dry atau gitu-gitu aja, itu tandanya sudah harus bikin konten baru lagi. Itu juga untuk penyegaran konten, agar orang tidak bosan juga," tandasnya.

 

Ikuti Tulisan Seri edisi ini: "Muda, Kaya, dan Berbahagia"