JAKARTA — Sebuah universitas di Tokyo membuka laboratorium tanpa staf manusia. Di fasilitas itu, robot menjalankan eksperimen medis yang sebelumnya dikerjakan peneliti.
Kyodo News dikutip Minggu, 10 Mei melaporkan, laboratorium tersebut berada di kampus Yushima milik Institute of Science Tokyo. Namanya Robotics Innovation Center. Di dalamnya ada 10 robot, termasuk robot humanoid Maholo LabDroid.
Robot-robot itu mampu mengerjakan tugas halus di laboratorium. Dengan dua lengan, mereka bisa memindahkan reagen, yakni bahan kimia untuk percobaan, dalam takaran tertentu. Robot juga bisa membuka alat bersuhu terkendali untuk memasukkan dan mengeluarkan sampel.
Kultur sel, atau proses menumbuhkan sel di laboratorium, juga sudah bisa dilakukan otomatis karena programnya telah disiapkan.
BACA JUGA:
Institute of Science Tokyo berencana menggabungkan sistem otomasi dengan kecerdasan buatan atau AI. Targetnya sekitar 2.000 robot pada 2040.
Jika rencana itu berjalan, robot akan menangani hampir seluruh proses riset, dari menyusun hipotesis sampai verifikasi eksperimen.
“Kami ingin menjadikan sains Jepang yang terbaik di dunia,” kata Kepala Robotics Innovation Center, Keiichi Nakayama, saat pembukaan fasilitas itu pada pertengahan April dikutip Kyodo News.
Nakayama menyebut AI dan robotika sebagai alat penting untuk mencapai ambisi tersebut. Robot juga ikut hadir dalam acara pemotongan pita.
Langkah ini muncul saat lembaga riset menghadapi kekurangan tenaga kerja dan kebutuhan mengurangi kesalahan manusia dalam eksperimen.
Maholo LabDroid sebelumnya sudah digunakan di rumah sakit khusus mata di Kobe, Prefektur Hyogo, Jepang barat. Di sana, robot dipakai dalam riset klinis terkait sel punca pluripoten terinduksi, yaitu sel yang dapat dikembangkan menjadi berbagai jenis sel tubuh, termasuk pekerjaan kultur sel.
Para peneliti yang terlibat dalam pengoperasian Maholo di Kobe kini ikut bergabung dengan pusat riset baru tersebut.