Bagikan:

JAKARTA - Cahaya biru dari alga laut kini bukan cuma pemandangan indah di ombak malam. Ilmuwan di Amerika Serikat berhasil memanfaatkannya untuk membuat bentuk cetak 3D yang bisa menyala.

Mengutip laporan The Guardian, Jumat, 8 Mei, penelitian ini menggunakan Pyrocystis lunula, organisme bersel tunggal yang dapat memancarkan kilatan cahaya biru. Dalam jumlah besar, alga ini kerap membuat ombak di pantai tampak berkilau.

Giulia Brachi dari University of Colorado Boulder awalnya mencoba membuat alga itu menyala lebih lama dengan meniru tekanan ombak. Caranya, alga ditekan perlahan di laboratorium gelap. Hasilnya tidak memuaskan.

“Kami mencoba menekannya sangat perlahan,” kata Brachi dikutip The Guardian. “Mereka tidak benar-benar merespons itu.”

Tim lalu mencoba cara lain. Berdasarkan studi sebelumnya, paparan asam dapat menurunkan pH pada bagian sel alga yang memancarkan cahaya. Kondisi itu memicu produksi cahaya.

Saat Brachi menambahkan larutan agak asam ke labu kaca berisi alga, hasilnya mengejutkan. Ia sempat mengira cahaya itu pantulan dari laptop. Ternyata, alga di dalam labu tampak seperti glitter hidup.

Dalam makalah di Science Advances, para peneliti menyebut mereka mampu membuat alga itu menyala hingga 25 menit setiap kali.

Alga kemudian dimasukkan ke hidrogel, bahan mirip jeli berbasis air. Dari sana, ilmuwan mencetak berbagai bentuk 3D, termasuk bulan sabit, mengikuti bentuk alga itu di bawah mikroskop. Semua bentuk menyala biru sian.

Alga bioluminesen memiliki enzim luciferase yang bereaksi dengan senyawa luciferin. Reaksi inilah yang menghasilkan cahaya.

“Mereka cukup mandiri selama memiliki akses ke air laut,” kata Prof. Wil Srubar, juga dari University of Colorado Boulder.

Srubar menyebut “cahaya hidup” ini kelak bisa dipakai untuk tongkat cahaya, gelang bercahaya, atau biosensor yang menyala saat mendeteksi racun di lingkungan.

Namun, pemakaiannya di luar laboratorium masih menjadi tantangan. Prof. Chris Howe dari University of Cambridge, yang tidak terlibat dalam riset itu, mengatakan keberhasilan di laboratorium belum tentu langsung berhasil di dunia nyata.

“Ini langkah awal yang sangat menarik,” katanya.

Howe menilai teknologi ini juga berpeluang mengurangi limbah baterai sekali pakai pada perangkat kecil pemancar cahaya.

Sikap lebih hati-hati datang dari Anthony Campbell, profesor emeritus University of Cardiff. Ia meragukan alga dapat bertahan lama dalam larutan pH 4, tingkat keasaman yang kira-kira setara tomat.

“Mereka tidak menyukainya, itu membuat mereka tertekan,” kata Campbell dikutip The Guardian.

Satu pertanyaan besar masih tersisa, mengapa alga seperti Pyrocystis lunula berevolusi untuk menyala? Para ilmuwan menduga cahaya itu berfungsi sebagai pertahanan dari pemangsa. Tapi, seperti kata Howe, penjelasan itu masuk akal, “tetapi jelas belum diketahui secara pasti.”