Bagikan:

JAKARTA — CEO OpenAI, Sam Altman, menyampaikan permintaan maaf terbuka setelah perusahaan teknologi kecerdasan buatan itu mengakui tidak melaporkan kepada aparat penegak hukum terkait akun yang telah diblokir dan belakangan diketahui terhubung dengan tersangka penembakan massal di Kanada.

Permintaan maaf tersebut disampaikan Altman dalam sebuah surat tertanggal 23 April 2026. Dalam surat itu, ia mengaku sangat menyesal atas keputusan perusahaan yang kala itu tidak mengeskalasi kasus tersebut kepada pihak berwenang.

“Saya sangat menyesal,” tulis Altman, merujuk pada dampak tragis yang dirasakan masyarakat Tumbler Ridge, sebuah komunitas di British Columbia, Kanada.

Kasus ini berkaitan dengan Jesse Van Rootselaar, yang menurut kepolisian bertanggung jawab atas penembakan massal di sebuah sekolah pada Februari 2026 sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.

OpenAI mengungkapkan bahwa akun milik tersangka sebenarnya telah diblokir sejak Juni tahun sebelumnya karena melanggar kebijakan perusahaan. Namun pada saat itu, situasi tersebut dinilai belum memenuhi ambang batas internal untuk dilaporkan kepada aparat hukum.

Keputusan itulah yang kini menuai kritik luas, terutama setelah tragedi tersebut terungkap memiliki keterkaitan dengan aktivitas digital pelaku.

Dalam suratnya, Altman juga mengatakan bahwa ia telah berbicara langsung dengan pejabat lokal dan regional, termasuk Wali Kota Tumbler Ridge, Darryl Krakowka, serta Perdana Menteri British Columbia, David Eby.

Ia menggambarkan dampak tragedi itu terhadap komunitas setempat sebagai sesuatu yang “tak terbayangkan.”

Pernyataan tersebut menjadi salah satu pengakuan publik paling signifikan dari pimpinan perusahaan AI terkait tanggung jawab platform dalam mendeteksi potensi ancaman di dunia nyata.

OpenAI menyatakan tengah meninjau ulang prosedur keselamatan internal dan mekanisme eskalasi risiko agar kegagalan serupa tidak terulang.

Perusahaan itu juga mengaku sedang bekerja sama dengan otoritas pemerintah untuk memperkuat sistem pencegahan dan pelaporan terhadap aktivitas berisiko tinggi.

Kasus ini memicu perdebatan lebih luas mengenai bagaimana perusahaan teknologi menangani sinyal bahaya di platform mereka, terutama ketika teknologi AI semakin banyak digunakan dalam konteks sensitif dan berisiko tinggi.

Pengamat menilai insiden tersebut menjadi contoh nyata tantangan besar yang dihadapi industri kecerdasan buatan: menyeimbangkan privasi pengguna, kebebasan akses, serta tanggung jawab moral untuk mencegah ancaman publik.

Sorotan terhadap OpenAI pun semakin tajam, terutama karena perusahaan tersebut bersama mitra utamanya, Microsoft, terus berada di bawah pengawasan regulator dan publik seiring meluasnya penggunaan AI di berbagai sektor.

Tragedi di Kanada ini diperkirakan akan menjadi momentum penting bagi pembuat kebijakan untuk mendesak standar yang lebih ketat dalam tata kelola AI, khususnya terkait pelaporan aktivitas mencurigakan.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kasus ini menjadi pengingat keras bahwa kecanggihan sistem tidak selalu sejalan dengan kesiapan etis dan prosedural perusahaan yang mengembangkannya.

Ikuti Whatsapp Channel VOI