JAKARTA — Distrik sekolah terbesar kedua di Amerika Serikat, Los Angeles Unified School District, resmi mengadopsi kebijakan pembatasan waktu layar bagi siswa di ruang kelas. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa paparan layar berlebihan dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan perkembangan mental anak.
Dewan sekolah setempat pada 21 April menyetujui kebijakan tersebut dengan suara 6-0, menjadikan Los Angeles sebagai salah satu pelopor kebijakan pembatasan waktu penggunaan perangkat digital secara sistematis berdasarkan jenjang pendidikan.
BACA JUGA:
Anggota dewan Nick Melvoin, yang menggagas kebijakan ini, menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjadikan distrik sebagai acuan nasional. Sebelumnya, distrik ini juga telah menerapkan larangan penggunaan ponsel di sekolah sejak 2024.
“Seiring dengan larangan ponsel yang telah diberlakukan, kami berharap dapat menjadi pemimpin nasional dalam isu ini,” ujar Melvoin.
Kebijakan ini tidak langsung menetapkan batas waktu yang seragam atau melarang perangkat sepenuhnya. Sebaliknya, distrik meminta staf pendidikan untuk menyusun pedoman yang disesuaikan dengan usia siswa, dengan melibatkan guru, orang tua, dan pakar kesehatan publik.
Pendekatan ini mencerminkan upaya mencari keseimbangan antara kebutuhan pembelajaran digital dan risiko kesehatan yang semakin disorot. Sejak pandemi COVID-19 pandemic, penggunaan laptop dan tablet dalam proses belajar meningkat drastis, menjadikan teknologi sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan.
Namun, berbagai studi mulai menunjukkan sisi lain dari tren tersebut. Dalam dokumen kebijakan, distrik mengutip temuan dari American Academy of Pediatrics yang menyebutkan bahwa paparan layar berlebihan dapat dikaitkan dengan gangguan penglihatan, kecemasan, depresi, perilaku adiktif, hingga penurunan konsentrasi dan prestasi akademik.
Penelitian juga menunjukkan anak usia 8 hingga 11 tahun yang melebihi rekomendasi waktu layar memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas dan skor kognitif yang lebih rendah.
Meski demikian, kebijakan ini tidak lepas dari kritik. Sejumlah pihak mengingatkan bahwa pembatasan harus diterapkan secara hati-hati, terutama bagi siswa dengan kebutuhan khusus yang sangat bergantung pada teknologi untuk belajar.
Langkah Los Angeles ini menjadi bagian dari tren global yang semakin mempertanyakan dampak jangka panjang digitalisasi pendidikan. Di tengah dunia yang makin terdigitalisasi, sekolah kini dihadapkan pada dilema klasik: memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan esensi interaksi manusia.