Bagikan:

JAKARTA - Sebuah laporan terbaru dari Pew Research Center mengungkap perbedaan tajam antara persepsi remaja dan orangtua terkait dampak media sosial terhadap kesehatan mental.

Mayoritas remaja menyatakan bahwa platform seperti TikTok dan Instagram tidak memberikan dampak negatif terhadap kondisi psikologis mereka. Namun di sisi lain, orangtua justru melihat adanya risiko yang lebih serius.

Remaja Merasa Baik-Baik Saja

Dalam survei tersebut, sekitar 60 persen remaja mengatakan bahwa apa yang mereka lihat di media sosial tidak memengaruhi perasaan mereka terhadap diri sendiri.

Bahkan, sekitar 15 persen pengguna TikTok mengaku konten yang mereka konsumsi justru membuat mereka merasa lebih baik. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding hanya 3 persen yang merasa dampak sebaliknya.

Temuan ini menarik karena selama ini media sosial kerap dikaitkan dengan tekanan psikologis, terutama akibat standar hidup yang tampak “sempurna” di dunia digital.

Orangtua Punya Kekhawatiran Berbeda

Meski remaja cenderung santai, sekitar seperempat orangtua yang disurvei percaya bahwa media sosial berdampak negatif terhadap kesehatan mental anak mereka.

Perbedaan persepsi ini menunjukkan adanya “gap generasi digital”, di mana remaja merasa lebih adaptif terhadap lingkungan online, sementara orangtua melihatnya dari sudut risiko jangka panjang.

Meski tidak menganggap berdampak langsung pada mental, remaja tetap mengakui adanya efek samping dari penggunaan media sosial.

Sebagian menyebut TikTok berdampak buruk pada kualitas tidur dan produktivitas mereka. Selain itu, isu perundungan digital juga masih menjadi perhatian.

Sekitar tiga perempat pengguna menilai bullying sebagai masalah serius bagi teman sebaya mereka. Bahkan, 30 persen remaja mengaku pernah mengalami setidaknya satu bentuk pelecehan, mulai dari hinaan, penyebaran rumor, hingga ancaman fisik.

Antara Persepsi dan Realita

Laporan ini memperlihatkan dinamika kompleks: remaja merasa “aman”, tetapi data menunjukkan adanya risiko nyata yang sering kali tidak disadari atau diakui secara langsung.

Fenomena ini menjelaskan mengapa sejumlah negara mulai mempertimbangkan regulasi lebih ketat terhadap akses media sosial bagi remaja.

Di tengah arus digital yang makin deras, pertanyaannya bukan lagi apakah media sosial berbahaya atau tidak. Tapi seberapa sadar penggunanya terhadap dampak yang mungkin tidak terasa hari ini—tapi bisa muncul diam-diam, seperti notif yang datang jam 3 pagi, bikin tidur kacau tanpa disadari.

Ikuti Whatsapp Channel VOI