Bagikan:

YOGYAKARTA - Dunia militer modern sedang gempar karena kemu

nculan teknologi yang efisien. Penting bagi kita untuk mulai mengenal drone shahed, senjata tanpa awak yang kini sering diperbincangkan di berbagai media global.

Drone ini bukan sekadar mainan remot kontrol biasa yang kita lihat sehari-hari. Ia adalah momok baru dalam konflik global yang membuktikan bahwa teknologi sederhana bisa memberikan dampak sangat menghancurkan.

Situasi panas antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat kini memasuki babak baru. Serangan massal ratusan unit sekaligus menjadi strategi utama untuk melumpuhkan pertahanan udara lawan.

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu mengenal drone shahed yang menjadi aktor intelektual di balik taktik pengurasan sumber daya ini. Strategi yang dianggap murah meriah ini benar-benar mengubah strategi perang modern.

Mengenal Drone Shahed: Sejarah dan Asal-usul

Dilansir VOI dari laman Carnegie Endowment, drone ini diproduksi oleh perusahaan HESA asal Iran. Awalnya banyak yang meremehkan teknologi ini. Namun, sejarah mencatat bahwa inovasi tidak selalu datang dari negara maju saja.

Rusia bahkan rela berinvestasi sebesar 2 miliar dolar untuk membangun pabrik drone ini. Mereka menyebutnya sebagai unit Geran-2. Hal ini membuktikan bahwa efektivitasnya sudah sangat teruji di lapangan.

Mengapa Disebut sebagai Drone Kamikaze?

Secara teknis, drone shahed dikategorikan sebagai one-way attack drone. Artinya, drone ini hanya melakukan perjalanan satu arah menuju target. Drone akan meledakkan diri saat menyentuh sasaran yang ditentukan.

Berbeda dengan drone pengintai, Shahed tidak dirancang untuk kembali ke pangkalan. Strategi ini sangat mematikan. Menariknya, konsep sekali pakai inilah yang membuatnya sulit untuk diantisipasi lawan.

Spesifikasi dan Keunggulan Utama

Mari kita bicara soal angka yang cukup mengejutkan. Satu unit drone Shahed atau versi LUCAS Amerika hanya berbiaya sekitar 35.000 dolar saja. Angka ini sangatlah murah untuk standar militer dunia.

Baca juga artikel yang membahas Profil Ayatollah Alireza Arafi, Pemimpin Sementara Iran yang Dirumorkan Tewas Usai Dipilih

Bandingkan dengan rudal Tomahawk yang harganya mencapai 2,5 juta dolar per unit. Selisih harganya sangat jauh, bukan? Di sinilah letak keunggulan utama drone Shahed yang sangat efisien.

Prinsip utamanya adalah kuantitas di atas segalanya. Presisi yang cukup baik sudah bisa memberikan keuntungan signifikan. Intinya, jumlah massa yang besar seringkali lebih menentukan hasil akhir di medan tempur.

Dampak Penggunaan Shahed dalam Konflik Global

Penggunaan drone ini memaksa negara lawan menguras sumber daya mereka. Bayangkan, rudal pertahanan Patriot yang mahal harus digunakan hanya untuk menjatuhkan drone murah. Ini adalah sebuah kerugian finansial!

Sebagai contoh di Ukraina, serangan ratusan drone setiap hari benar-benar melumpuhkan infrastruktur penting. Pola serangan massal ini memang bertujuan untuk membuat sistem pertahanan udara lawan menjadi kewalahan dan akhirnya jebol.

Data tahun 2025 menunjukkan ada lebih dari 58.000 peristiwa terkait drone secara global. Angka kematian yang ditimbulkan pun cukup tinggi. Ini menandakan kita sudah masuk ke era baru peperangan robotik.

Dunia sedang berubah, dan cara perang pun ikut berevolusi. Dengan memahami teknologi asimetris ini sangatlah krusial. Teknologi murah tapi mematikan ternyata mampu mengguncang dominasi senjata-senjata canggih yang harganya selangit.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi militer asimetris ini memang sulit untuk kita abaikan begitu saja. Dengan mengenal drone shahed, kita jadi lebih paham bahwa perang masa depan bukan lagi soal siapa yang paling mahal senjatanya.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+