Bagikan:

YOGYAKARTA - Profil Ayatollah Alireza Arafi mendadak menjadi perhatian setelah kabar mengejutkan datang dari Teheran. Ia disebut baru saja diangkat sebagai pemimpin sementara sebelum dilaporkan tewas dalam gelombang serangan baru.

Kabar tersebut dikemukakan oleh General Mike Flynn, sebagaimana dilansir dari laman Indian Times. Jika kabar ini benar, berarti kematian Arafi hanya selang beberapa jam setelah penunjukannya diumumkan.

Kepemimpinan Alireza menjadi sebuah babak yang singkat. Berdasarkan laporan yang beredar menyebut, penunjukan tersebut dilakukan setelah wafatnya Ali Khamenei pada 28 Februari.

Profil Ayatollah Alireza Arafi

Dilansir VOI dari laman Palestine Chronicle, berikut ini beberapa hal menarik mengenai Ayatollah Alireza Arafi:

  • Latar Belakang dan Pendidikan

Sheikh Alireza Arafi lahir pada 1959 di Meybod, Provinsi Yazd. Ia tumbuh dalam keluarga ulama yang memiliki jejaring kuat dalam lingkaran keagamaan Iran.

Ayahnya, Mohammad Ibrahim Arafi, dikenal sebagai penceramah dan cendekiawan yang memiliki kedekatan dengan jaringan revolusioner di sekitar Ruhollah Khomeini.

Sejak muda, Arafi pindah ke Qom untuk mendalami ilmu agama. Kota ini bukan sekadar pusat studi Islam. Qom adalah jantung ideologis Republik Islam Iran.

Di sana, Arafi mendalami fikih, filsafat, dan ilmu-ilmu agama tingkat lanjut. Ia kemudian mencapai derajat mujtahid, gelar yang menandakan otoritas tinggi dalam menafsirkan hukum Islam.

Perlu diketahui, tidak semua ulama mencapai tingkat ini. Dan tidak semua memiliki jalur institusional sekuat dirinya.

  • Karier Awal dan Peran sebagai Imam Salat Jumat

Karier publik Arafi menguat pada 1990-an ketika ia diangkat sebagai imam salat Jumat di kampung halamannya. Jabatan ini bukan sekadar simbolik.

Imam salat Jumat sering kali dipilih dari tokoh yang dipercaya penuh oleh kepemimpinan nasional.

Pada 2015, Arafi dipercaya menjadi imam salat Jumat di Qom. Posisi ini jauh lebih strategis. Khutbah Jumat di Qom memiliki resonansi nasional, bahkan internasional. Ia bukan hanya orator namun juga administrator.

Baca juga artikel yang membahas Sejarah Iran Ternyata Tidak Sesederhana Itu, Ini Fakta yang Perlu Anda Tahu

  • Peran Strategis dalam Pendidikan dan Struktur Keagamaan

Arafi lama memimpin Al-Mustafa International University, institusi yang mendidik mahasiswa asing dalam studi Syiah dan memperluas pengaruh intelektual Iran ke berbagai negara.

Perannya tidak berhenti di situ. Pada 2016, Arafi diangkat sebagai kepala jaringan hauzah nasional Iran. Artinya, ia mengawasi sistem pendidikan agama di seluruh negeri.

  • Posisi Penting Arafi

Dalam struktur konstitusional, ia juga duduk sebagai anggota yuris di Guardian Council, lembaga yang menyeleksi kandidat pemilu dan meninjau undang-undang agar selaras dengan syariat dan konstitusi.

Pada 2022, Arafi terpilih menjadi anggota Assembly of Experts. Lembaga ini memiliki kewenangan menunjuk atau memberhentikan Pemimpin Tertinggi.

Kemudian pada tahun 2024, Arafinaik menjadi Wakil Ketua Kedua majelis tersebut. Kenaikan yang menunjukkan kepercayaan institusional.

  • Penunjukan sebagai Pemimpin Sementara

Setelah wafatnya Ali Khamenei, Iran mengaktifkan Pasal 111 konstitusi. Sebuah dewan kepemimpinan sementara dibentuk, terdiri dari presiden, kepala yudikatif, dan seorang ahli fikih yang dipilih Dewan Kebijaksanaan.

Penunjukan itu mencerminkan kesinambungan, bukan perubahan drastis. Ia dikenal bukan figur populis atau manuver politik terbuka. Ia adalah representasi establishment ulama, yaitu tenang, institusional, dan terstruktur.

Namun laporan terbaru menyebut ia menjadi target dalam serangan lanjutan di Teheran hanya beberapa jam setelah menjabat. Jika kabar itu benar, maka riwayat kepemimpinannya menjadi yang paling singkat dalam sejarah Republik Islam.

  • Figur Kontinuitas dalam Sistem Ulama Iran

Melihat profil Ayatollah Alireza Arafi secara utuh, tampak jelas bahwa kekuatannya terletak pada struktur, bukan retorika. Ia dibentuk oleh institusi. Dibesarkan oleh sistem. Dan dipercaya oleh hierarki.

Dalam politik Iran, kontinuitas sering kali lebih berharga daripada popularitas. Arafi adalah simbol kesinambungan itu.

Mengenal profil Ayatollah Alireza Arafi, maka menunjukkan bagaimana kekuasaan di Iran bertumpu pada struktur ulama yang mapan. Meski kepemimpinannya singkat, pengaruh institusionalnya tetap menjadi bagian penting dinamika Republik Islam.