JAKARTA - Menjelang Ramadan dan Idulfitri, studi global bersama National Retail Federation (NRF) menunjukkan bahwa meskipun hampir 72% masih berbelanja di toko fisik, 45% kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung perjalanan belanja mereka.
Perubahan ini mencerminkan ekspektasi konsumen yang terus berkembang, di mana mereka kini semakin terintegrasi dalam memanfaatkan kanal ritel fisik dan digital.
Riset ini menemukan bahwa AI paling banyak dimanfaatkan untuk melakukan riset produk (41%), menafsirkan ulasan (33%), serta mencari penawaran terbaik (31%).
Seiring AI mengubah cara konsumen membuat keputusan, IBM menyatakan bahwa brand dan pelaku ritel perlu mengantisipasi perubahan dan merancang pengalaman yang lebih relevan untuk para konsumen.
Pertama, brand perlu mengidentifikasi titik di mana konsumen memanfaatkan AI untuk melakukan riset, membandingkan pilihan, dan mencari nilai, serta pastikan setiap momen tersebut terhubung secara mulus hingga tahap pembelian.
IBM juga menyarankan brand untuk memanfaatkan agen guna menempatkan pencarian promo, interpretasi ulasan, serta dukungan untuk pembelanjaan yang lebih personal.
“Menjadikan kesiapan data dan pengujian sebagai prioritas dan menonjolkan keunggulan dari brand tersebut. Memanfaatkan AI untuk meningkatkan relevansi dan mengurangi hambatan, sekaligus menjaga kreativitas serta keaslian identitas brand,” tulis IBM.
BACA JUGA:
Tidak lupa juga untuk berinvestasi pada kapabilitas dan kemitraan AI. Sebanyak 51% eksekutif mengidentifikasi keterbatasan keahlian AI sebagai tantangan, sehingga penguatan kompetensi internal perlu diimbangi dengan kemitraan strategis untuk memastikan penerapan AI yang efektif dan bertanggung jawab.
“Bagi pelaku ritel saat ini, fokus utamanya adalah bagaimana mengintegrasikan AI secara strategis untuk memperkuat, bukan melemahkan, hubungan brand dengan pelanggan,” tambah perusahaan.
Sebagaimana disimpulkan dalam studi IBM tersebut, kunci keberhasilan tidak hanya terletak pada pemanfaatan AI, tetapi pada integrasinya yang tepat dalam operasional ritel, tanpa menghilangkan kedekatan budaya dan hubungan personal yang menjadi kekuatan ritel di Indonesia