Bagikan:

JAKARTA - Laporan GSMA Digital Nations 2025 dan ASEAN Consumer Scam 2025 terbaru dari GSMA mengungkapkan bahwa perusahaan di Indonesia diperkirakan akan mengalokasikan rata-rata 10 persen dari pendapatan mereka untuk transformasi digital antara 2025 hingga 2030.

Dari total tersebut, dua pertiga responden di Indonesia menempatkan AI dalam tiga besar area pengeluaran mereka, sementara lebih dari setengahnya menganggap IoT berbasis 5G sebagai faktor penting bagi pertumbuhan di masa depan.

Head of Asia Pacific at GSMA, Julian Gorman, menilai Indonesia memiliki momentum yang kuat untuk menjadi pemimpin ekonomi digital Asia Tenggara, ditopang populasi muda, semangat kewirausahaan, dan adopsi teknologi yang meningkat.

Namun, peluang tersebut membutuhkan percepatan pembangunan spektrum 5G, perluasan fiber backhaul, penguatan pusat data yang mampu menangani beban komputasi AI, dan juga sinyal kebijakan yang kuat dan eksekusi lintas sector.

Menurut laporan tersebut, alokasi spektrum mid-band, cakupan pedesaan yang tidak merata, serta kapasitas pusat data siap AI yang terbatas berisiko memperlambat momentum saat permintaan terus meningkat.

"Prioritas saat ini adalah investasi yang tepat sasaran: spektrum yang terjangkau dan dapat diprediksi, backhaul yang tangguh, serta pusat data siap AI yang berkelanjutan dan didukung perlindungan konsumen yang jelas," kata Julian dalam paparannya pada Rabu, 10 Desember.

"Dengan sinyal kebijakan yang kuat dan eksekusi lintas sektor, Indonesia dapat berinovasi dengan menarik modal swasta, memperkuat pertahanan terhadap penipuan, dan mempercepat pertumbuhan inklusif di seluruh nusantara," tambahnya.

Menurut GSMA Intelligence, gelombang investasi 5G berikutnya di Indonesia berpotensi menghasilkan tambahan senilai 41 miliar dolar AS (Rp683,6 triliun) terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional antara 2024 hingga 2030.

Operator seluler juga telah menginvestasikan hampir 29 miliar dolar AS (Rp483,5 miliar) pada infrastruktur dan layanan jaringan di Indonesia sejak tahun 2015. Dengan lanskap investasi yang tepat, industri – termasuk operator dan mitra ekosistem – diperkirakan akan memberikan tambahan senilai 16 miliar dolar AS (Rp266,7 triliun) antara 2024 dan 2030, dengan fokus kuat pada perluasan jaringan 5G.